
"Kalo aku sanggup aku iya-in, tapi kalaupun aku gak sanggup pasti aku bakal usahain. Karna aku berjuang untuk orang yang juga perjuangin aku."
__________________________________________________________________________________________
"Astagfirullah ...! Berarti Ica kesiangan dong, gak sholat subuh." Bima terkekeh pelan melihat tingkah konyol calon istrinya itu.
"Abis ngapain emangnya kok sampe kesiangan, begadang lagi ya..?"
Bima kembali bertanya pada Ica sambil menopang tubuhnya dengan tangan yang di senderkannya di dinding.
"Enggak kok Kak, mungkin karna Ica kecapean. Kalo gitu Ica siap-siap dulu aja ya, Kakak tunggu di bawah aja karna 20 menit lagi Ica turun."
Tanpa mendengar jawaban Bima, Ica langsung berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Bima yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
Bima hanya menggeleng pelan sambil menutup pintu kamar Ica, setelah itu ia pergi meninggalkan kamar gadis Kesayangannya dengan wajah sumringah.
Hari ini Bima tidak pergi ke kantor, ia sengaja karna Bima tahu Ica tidak akan lama di sekolah. Bima melajukan mobilnya menuju ke sekolah Ica, di sepanjang jalan mereka banyak bercerita ini itu tak jarang Bima menjaili Ica dan Ica dengan senang hati menanggapi jailan Bima.
"Ayok pulang ...!"
Ica masuk kedalam mobil dengan wajah cemberutnya.
Sedangkan Bima langsung ikut masuk dan mulai menjalankan mobilnya, selama di perjalanan Ica masih saja tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan menegur Bima.
"Jangan cemberut gitu dong, Kakak kan jadi gak fokus nyetirnya ...," Melihat gadisnya cemberut membuat Bima sadar jika Ica sedang cemburu dengan ulah teman-teman sekolahnya yang menggodai Bima.
"Kok bisa? Ica kan diem aja ..., gak gangguin Kakak!" Ica menjawab dengan ketus, sambil memutar bola matanya malas.
"Ciee ... Yang cemburu, tapi Kakak seneng!"
__ADS_1
Mendengar Bima mengejeknya Ica langsung menatap ke arah Bima sedikit melotot, melihat ekspresi Ica yang seperti itu membuat Bima tertawa puas.
"Mau jalan-jalan ke mana Kita hari ini?" Bima bertanya sambil terus memperhatikan jalan.
"Jalan aja sama cewek-cewek yang muji Kakak tadi!" Gadis itu menjawab dengan nada ketus.
"Oooo ... Jadi kalo lagi cemburu kayak gini modelnya, Ahahhaha ...!" Bima malah mengejek Ica dan itu langsung membuat Ica menjadi murka.
"Makanya Kakak tu jangan sok kegantengan gitu, tebar-tebar pesona ke mana-mana lagi!"
Ica mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Enak aja..., Kakak biasa aja. Emang dasar aura Kakak aja yang bikin orang gak tahan." Ucap Bima percaya diri.
"Iss ... Narsis banget ...!" Ica semakin di buat kesal oleh dengan jawaban PD tingkat dewa dari Bima.
Bima menghentikan laju mobilnya di salah satu rumah mewahnya, yang letaknya sedikit jauh dari apartemen Bima. Bima membawa Ica ke rumah ini sesuai dengan permintaan Ica tadi saat di jalan.
"Tuan, apa perlu Saya siapkan sesuatu?"
Tiba-tiba dari arah samping ada seseorang bertanya pada Bima, dan itu adalah orang yang bertugas mengurus rumah Bima ini.
"Tidak perlu, lanjutkan perkerjaan kalian. Jangan biar kan satu orang pun mendekat ke arah taman." Bima memerintah kan pelayan itu untuk tidak mendekat ke arah taman.
Karna tadi Ica mengatakan ia ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya, jadi Bima tidak ingin ada yang mengganggu mereka.
"Baik lah Tuan, kalau begitu Saya permisi."
Setelah mendengar printah dari Bima, pelayan itu pergi.
__ADS_1
Bima terus berjalan menyusul Ica yang ternyata sudah duduk di pinggir kolam sambil memandang ikan yang ada di dalamnya, Bima langsung duduk di samping Ica sambil ikut memperhatikan sekeliling taman itu.
Setelah cukup lama bungkam, akhirnya Ica mengeluarkan suara.
"Kak, Bisa nggak pernikahan kita di percepat aja!" Gadis itu mulai membuka pembicaran.
"Gak usah nunggu satu tahun setelah Ica lulus, tapi di bikin habis kelulusan. Kita langsung nikah!"
Tiba-tiba Ica meminta untuk mempercepat pernikahan mereka, mendengar itu membuat Bima kaget.
"Apa maksudnya Ca? Kenapa tiba-tiba bilang itu, bukannya kemarin Kita udah sepakat kan itu udah di tentuin sama Kamu juga. Tapi kenapa sekarang minta di percepat?"
Bima menatap wajah Ica penuh tanya.
"Ica udah fikir-fikir ulang Kak, Ica gak mau tunda-tunda niat baik. Jadi kalo bisa lebih cepat lebih baik kak!" Ucap Ica menjelaskan.
"Kakak seneng banget Ca, mau Kakak juga gitu sebenarnya. Cuma Kakak kemarin gak mau egois sama Kamu." Bima menatap Ica berbinar.
"Tapi setelah denger kamu bilang gini Kakak jadi lega banget, makasih banyak ya Sayang."
Bima langsung merengkuh lembut tubuh Ica kedalam dekapan hangatnya.
"Kakak, Ica sayang sama Kakak. Makasih selama ini udah mau tunjukin bukti ke Ica kalo Kakak beneran sayang sama Ica."
Dalam pelukan hangat Bima, Ica mengungkap kan Isi hatinya yang selama ini tidak pernah di ungkapannya langsung pada Bima.
"Iya Sayang, Kakak bersyukur banget bisa di kasih amanah sama Allah untuk jaga Kamu." Bima ikut melupakan rasa hatinya.
"Kamu anugerah terindah di hidup Kakak, jangan khianati cinta Kakak ya Ca! Kakak takut banget itu terjadi, Kakak gak akan sanggup Ca." Bima memohon pada Ica.
__ADS_1
Bima terharu mendengar Ica mngatakan jika ia juga menyayanginya, selama bertahun-tahun baru kali ini Ica terang-terangan mengatakan jika ia menyayangi Bima.