
"Lelah dengan harapan, kau tak mungkin ku dapatkan. Tentang prasaan tak bisa di paksakan, ku tlah belajar ikhlas tuk melepas.
__________________________________________________________________________________________
Semua rahasia Nia sudah terbongkar, Dian juga tau Bima membantu perusahaannya bukan karna tertarik berkerja sama.Tapi itu semua karna Nia menjanjikan Ica, sebagai imbalannya saat di awal perjodohan.
Sekarang fikiran Dian bukan saja untuk masalah Ica, tapi juga memikirkan masalah sikap Nia yang sudah kelewat batas dan sama sekali tidak menghargainya sebagai seorang kepala keluarga.
"Nanti Kita bicarakan lagi sama om, tapi untuk sekarang kita turuti dulu kemauan om Dian. Karna om sedang tersulut emosi, nanti setelah suasana membaik Pelan-pelan Kita jelaskan kemauanmu ya Dek!" Renal mencoba memberikan Ica sedikit penjelasan agar Ica bersabar.
Setelah keluar dari kamar Ica, Dian langsung menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Dian juga menghubungi pihak Bima, agar mereka tau kelakuan bejad yang telah di lakukan Bima pada Ica.
Malam mulai datang menyelemuti langit, suasana malam itu trasa sangat berbeda di bandingkan malam-malam sebelumnya bagi Ica.
Gadis itu kembali berdiri di depan jendela kamarnya, setelah membersihkan diri dan melaksanakan sholat ia mencoba melepaskan beban fikirannya dengan melihat bintang.
Lagi-lagi angin malam di biarkannya menerpa wajah mulusnya. Ia menikmati malam itu penuh keheningan, sesekali terdengar di telinganya suara samar-samar seperti beberapa orang sedang mengobrol di ruangan lain yang ada di rumah itu.
"Dek? ayok keluar dulu! di tunggu om sama tante di bawah." Keheningan tiba-tiba terusik, setelah suara lembut Renal menyadarkan Ica dari lamunannya.
"Emmm, I-iya bentar lagi Ica nyusul." Jawab Ica terbata-bata.
Renal mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Ica setelah berhasil mendapatkan jawaban singkat dari gadis itu.
__ADS_1
Langkah gadis itu terhenti setelah matanya melihat banyak orang di dalam ruang tamu rumahnya. Hatinya berdesir, jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa, tak ada keberanian untuk mendekat ke sekumpulan orang yang tengah serius mengobrol itu.
"Jadi maumu bagaimana Sayang?" Tiba-tiba suara berat itu menyadarkan Ica.
Ica berjalan mendekat dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin, di salah satu tempat duduk kosong di antara beberapa orang dewasa yang hadir di sana.
"Ica cuma gak mau liat dia lagi Pa! Kalo boleh kita gak usah perbesar urusan ini, Kita selesaikan dengan kekeluargaan. Ica ikhlas terima keadaan Ica yang kayak gini Dan Ica juga berharap, Papa, Mama dan semuanya juga gitu. Maaf kalo Ica lancang." Ica menggigit bibirnya sambil memainkan jemarinya, ia sangat gugup karna semua mata tengah memandangnya.
"Baiklah, Papa dan yang lainnya juga mengerti maksudmu karna Mas mu juga udah cerita. Ini semua Kami lakukan demi Kamu, karna jika Kami yang bertindak bukan seperti ini kemauan Kami." Dian yang lainnya tampak sedikit lebih tenang menanggapi keinginan gadis itu.
Malam itu berakhir dengan kesepakatan yang menyetujui permintaan Ica dan mereka semua bersiap untuk melakukan tindakan berikutnya.
- - - - - oOo - - - - -
Di mana hari ini seharusnya puncak kebahagiannya bersama Ica, namun pada kenyataannya hari ini malah menjadi hari di mana salah satu cita-cita terbesarnya itu harus berakhir.
Setelah kejadian dua hari yang lalu, di saat semua pihak menghakiminya karna satu kesalahan fatal. Membuat semuanya hanya menyisakan dirinya sendiri di dalam kamar gelap dengan di temani hati dinginnya, di tambah wajah yang terlihat begitu lelah.
Tubuhnya sedang bersender lesu di pinggir tempat tidur, sambil tangan kekarnya sesekali menyeka air mata yang terus mengalir. Seumur hidup Bima tidak pernah menangis bagaimana pun keadaan hatinya, tapi untuk kali ini karna gadis mungil nan jelita itu air mata Bima sudah beberapa kali dibuatnya meluruh.
- - - - - oOo - - - - -
Flashback on (2 hari yang lalu)
__ADS_1
Di dalam ruang tamu yang berukuran sangat besar itu terlihat beberapa orang sedang berkumpul, tapi mereka seolah sedang terbagi menjadi dua kelompok.
"Kami hanya menginginkan satu permintaan saja!" Terdengar suara seorang pria paruh baya berbicara dengan nada penuh penegasan kepada beberapa orang di hadapannya.
"Baiklah Pak, apa itu? Katakan saja, pasti akan kami Kabul kan." Seseorang di hadapannya langsung menjawab dengan penuh keyakinan.
"Kami minta, jangan pernah lagi berani menampakkan dirinya di hadapan Kami, di kota ini, bila perlu pergi jauh dari negara ini." Jawab pria itu menyebutkan permintaannya.
"Kami sungguh sudah sangat muak dan Kami tidak mungkin lagi bisa melanjutkan pernikahan ini. Karna Ica sendiri yang meminta untuk membatalkannya." Lanjut Pak Bowo selaku perwakilan dari pihak keluarga Ica.
Mendengar itu, keluarga Bima sedikit tercengang dan langsung mencoba menyanggah ucapan Pak Bowo.
"Tidak bisa begitu Pak, Kami akan bertanggung jawab atas kesalahan Kak Bima. Kami mohon untuk tetap melanjutkan pernikahan ini, karna bagaimana jika Ica nanti sampai hamil?" Adik ipar Bima sedikit menekankan nada bicaranya untuk menyakinkan pihak keluarga Ica.
"Tidak bisa! Itu adalah permintaan Ica untuk laki-laki brengsek itu." Pak Bowo terus saja berbicara,
"Masih bagus Kami tidak melaporkannya ke pihak yang berwajib, itu juga atas permintaan Ica pada Kami. Jika bukan Ica yang memohon, mungkin laki-laki itu sudah di penjara sekarang!" Keluarga Bima hanya bisa terdiam mendengar ucapan-ucapan tajam Pak Bowo.
"Tolong pertimbangkan lagi Pak Dian, Buk Nia. Ini juga demi kebaikan Ica dan untuk menjaga aib keluraga kita di halayak ramai, bagaimana jadinya jika Bima dan Ica tidak melanjutkan pernikahan ini? Apa lagi kan pernikahan Itu tinggal dua hari lagi." Ayah Bima akhirnya angkat bicara, sedangkan Dian masih diam seribu bahasa.
Suasana kembali hening, setelah beberapa waktu lalu terlihat mereka saling adu mulut mencoba memenangkan pendapat pihak masing-masing.
"Maaf Pak Restu, bukan saya bermaksud untuk lancang. Kami tidak menganggap ini sebuah aib keluraga Kami, Ica adalah putri Kami satu-satunya jadi bagaimanapun keadaannya Kami akan tetap menyayanginya." Dian merasa sedikit tersinggung dengan beberapa kalimat di atas.
__ADS_1
"Kami sudah berbaik hati dengan tidak membawa masalah ini ke jalur hukum, jadi tolong terimalah keputusan ini secara kekeluargaan." Lanjut Dian sedikit meninggikan suaranya.