
Matahari mulai menampakkan cahaya hangatnya, namun gadis itu masih asik di alam mimpi. Mungkin karna tidurnya sangat nyenyak, di tambah dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.
Tak berselang lama, alarm di atas nakas berdering mengeluarkan suara nyaring. Membuat Si Penghuni kamar mulai terjaga dari tidur lelapnya. Sepasang mata indah itu perlahan mulai terbuka, mencoba mengumpulkan semua kesadaran yang masih morat-marit berserakan di alam mimpi.
Tangan nya mencari-cari sumber suara bising itu untuk mematikan suaranya, sungguh itu sangatlah mengganggu. Setelah kesadarannya benar-benar sudah kembali, Ica mencoba melihat keadaan sekitarnya.
Ica merasa terkejut setelah melihat tubuhnya sudah tertutup selimut tebal, padahal ia ingat betul jika semalam ia tertidur dan belum sempat memakai selimut.
"Siapa yang memakai, kan Ku selimut?" Ica bertanya kepada dirinya sendiri.
(Flashback on)
Seorang wanita paruh baya berjalan pelan menuju kamar seorang gadis yang tengah tertidur lelap, di salah satu ruangan di rumah mewah itu. Perlahan wanita itu membuka pintu kamar, namun sayang sekali ternyata pintunya terkunci dari dalam.
Untung saja wanita itu telah membawa kunci cadangan untuk kamar itu, jelas dia membawa kunci cadangan karna dia tau gadis itu tidak mungkin membiarkan siapapun untuk bisa masuk ke dalam kamarnya.
Setelah pintu kamar terbuka, dengan langkah pelan tapi pasti wanita paruh baya itu menyelinap masuk. Langkahnya terhenti, setelah menangkap satu pandangan yang begitu ia rindukan kehadirannya.
Tak terasa air mata itu mengalir dengan sendirinya membasahi pipi tirusnya, sungguh ia ingin memeluk gadis yang mempunyai kulit seputih susu itu untuk sekedar melepas kerinduannya.
Tapi itu adalah hal yang mustahil sekarang ini, ia tahu betapa besar kesalahan yang telah di perbuatnya . Sehingga gadis bertubuh mungil yang sedang tertidur pulas itu, merasakan trauma dan kesakitan pada batinnya.
Wanita itu mendekat dan mencoba untuk duduk di pinggir tempat tidur, ia mencoba mengelus pelan kepala gadis itu. Air matanya tak bisa di bendung, sambil sesegukan ia mencoba mengeluarkan isi hatinya berharap gadis itu bisa mendengar suaranya.
"Ica sayang ..., Mama pengen peluk Kamu kayak dulu lagi! Mama pengen Kamu gak marah lagi sama Mama ...! Hikss ... maafin Mama Sayang." Ucap Mama Ica, sambil menaham air mata.
Mama Ica mencoba menyibakkan rambut yang menutupi wajah Ica, ia ingin sekali memandang dengan jelas wajah tenang Ica yang sedang tertidur.
Namun keinginannya untuk melihat wajah tenang Ica saat tidur semua sirna, karna bekas air mata yang mengering di pipi Ica begitu jelas terlihat di tambah lagi dengan mata sembab Ica.
Melihat hal itu, air mata Mama Ica semakin berlinang. Hatinya semakin sakit, begitu besar beban fikiran yang di tanggung Ica. Karna tak kuasa menahan air mata, di tambah lagi ia takut Ica terjaga dan menyadari kehadirannya.
__ADS_1
Dengan cepat Mama Ica berdiri, sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar itu Mama Ica menyempatkan diri untuk memasangkan selimut di tubuh anak gadis kesayangannya. Setelah itu ia keluar dari kamar dan tidak lupa mengunci pintunya lagi, agar Ica tidak curiga.
(Flashback off)
Setelah cukup lama melamun, akhirnya Ica baru ingat. Semalam Octa menelponnya dan saat Ica tertidur telepon itu masih terhubung.
Dengan cepat Ica mencari keberadaan handphonenya , tanpa menunggu aba-aba Ica langsung mengecek isi handphone itu. Ternyata ada pesan dari Octa dan langsung di balas cepat oleh Ica.
(pesan singkat Ica dan Octa)
"Woy ... woy bangun!" Pesan masuk dati Octa.
(04:08)
"Ahahhahahah baru ini ya bangunnya duluan abang," balas Ica sambil tersenyum.
(04:46)
"Uuuu ... dingin banget, tapi seger badan ini rasanya!" Ica bergumam sendiri setelah keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Ica kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya mengutak-atik handphone dan kebetulan sekali Octa membalas pesannya tadi, dengan cepat Ica membukanya.
"Kalo bobo dengkur, ahahahah ...! Octa mengirim pesan dengan di tambahai kata seolah-olah sedang tertawa.
Ica merasa sangat malu, dengan tingkah konyolnya yang di ketahui Octa. Tiba-tiba Ica membenamkan wajahnya di atas tumpukan bantal empuk di depannya, sambil histeris seperti orang sedang kerasukan.
"Abang boong, kan? Abang cuma becandain Ica doang biar Ica malu, kan?" Tanya Ica lewat pesan singkat.
"Enak aja boong, emang kapan abang pernah gak boong ...?" Balas Octa bercanda.
"Iiii ... Abang mah, Ica serius tanya ...!" Ica membalas pesan Octa garam.
__ADS_1
"Ternyata kalo lagi bobo gitu ya? Suara dengkurannya halus ..., bikin betah yang denger." Isi pesan Octa malah semakin membuat Ica malu.
"Aaaaa ...!" Ica berteriak histeris lalu mengetikkan sesuatu di handphonenya dengan cepat.
"Enggak ya ...! Biarin dengkur juga, Isss ... Ica malu nihh😣."
"Hilih ..., biasanya malu-maluin. gak apa-apa Abang suka dengernya. Jadi gemes, pengen liat gimana ekspresi wajah kamu waktu lagi dengkur ahaha😂."
Di seberang sana Octa sedang tertawa membaca pesan dari Ica, Dia sangat gemas jika Ica bertingkah manja dan sebal dengannya. Sebenarnya ia akan sangat merasa malu juga, jika Ica tau ia melakukan hal konyol semalam.
"Awas loo ... nanti malah ketagihan ahaha, mandi sana sudah pagi ini!" Balas Ica.
"Ketagihan, ya ... kamu tanggung jawab! Udah kok, ini mau berangkat kerja. Kamu baik-baik ya di rumah, sesekali keluar! Jangan ngeram terus di kamar, lama-lama nelor kamu ahahah😂.
"Bisa aja, iya Abang Dinosaurus bawel. Semangat ya kerjanya hari ini! Ica tunggu abang pulang," balas Ica dengan wajah sumringahnya.
"Tok ... tok ... tok ...!"
Saat tengah asik berpamitan dengan Dinosaurus Kesayangannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Ica. Dari panggilannya untuk Ica sepertinya itu Bi Ani, Ica berjalan dan membuka pintu kamarnya itu ternyata itu memang Bi Ani.
"Non, Tuan Yuda sudah mau berangkat pulang." Jelas Bik Ani pada Ica.
Mendengar penjelasan Bi Ani, Ica langsung turun ke bawah dan menemui Om Yuda di teras depan.
"Om Yuda pulang hari ini? Buru-buru banget," Ica menggerutu kesal.
Ica berjalan mendekat ke arah Yuda yang sudah siap berangkat, terlihat jelas jika Ica sedang cemberut.
"Iya Om kan gak bisa libur lama-lama Ica, di kantor kerjaan numpuk. Nanti kalau Kamu sudah mau pulang lagi ke rumah Umi sama Abi hubungi Om aja, biar Om Yuda jemput ya." Yuda berucap sambil tangannya mengacak rambut Ica gemas.
"humz ... Iya deh. Kalo gitu ati-ati ya Om di jalan!" Akhirnya Ica mengalah, tak mungkin baginya untuk bisa menghentikan Omnya satu ini.
__ADS_1