
"Ku heningkan pendengaran ku dan mulai berdiskusi dengan hati kecilku : kuatlah, sabarlah, tangiskanlah, hari ini boleh kamu rasakan sakit itu. Tapi yakinlah, semua yang berada di atas pijakan bumi pasti akan ada akhirnya. Begitu juga dengan rasa bahagia, semua terus berputar dan kitalah porosnya."
__________________________________________________________________________________________
"Cie ... Non Ica! Udah baikan sama Tuan Tio." Ucap Pak Mahmud meledek Ica.
"Hihihi ... iya Pak, alhamdulillah. Jadi lega sekarang!" Ica tersenyum gembira menjawab ledekan supirnya itu.
"Iya lah Non, emang lebih enak kalo Kita itu gak berantem. Hidup jadi lebih tenang!" Tutur Pak Mahmud tenang, sambil terus melajukan mobil kembali ke rumah sesuai permintaan Ica.
Setelah sampai di rumah, Ica langsung menuju kamarnya untuk mandi dan melaksanakan sholat asarnya, setelah kegiatannya selesai Ica merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kesayangannya itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.23 tapi Mama dan Papa Ica belum juga pulang. Saat Ica tengah asik memainkan handphonenya sambil tengkurap, tiba-tiba handphonenya bergetar menandakan ada panggilan masuk.
"Assalamualaikum Sayang ...," terdengar suara lembut dari seberang sana menyapa Ica.
"Iya, waalaikum salam Ma!" Ica menjawab salam dari Mamanya itu sambil memeluk bantal lembutnya.
"Sayang ....! Mama sama Papa, gak jadi pulang hari ini. Karna Papa ada tambahan kerjaan besok, mungkin lusa kami baru bisa pulang. Gak apa-apa, kan?" Tutur Nia meminta pengertian Ica.
Nia dan Dian memang sedang mengurus pekerjaan di luar kota, sejak tiga hari yang lalu. Seharusnya mereka sudah bisa pulang hari ini, tapi karana urusan pekerjaan belum selesai jadi jadwal pulang terpaksa harus di undurkan.
"Iya, gak apa-apa Ma. Papa sama Mama jaga kesahatan di sana ya! Ica di sini baik-baik aja, Papa sama Mama gak perlu khawatir." Gadis itu berucap penuh perhatian.
__ADS_1
Malam ini Ica akan tinggal di rumah mewah itu sendirian. Bi Ani dan Mang Amin pulang kampung tadi pagi, setelah mendapatkan kabar bahwa anak mereka masuk rumah sakit. Di rumah itu, hanya ada beberapa penjaga yang berada di sekitar halaman rumah Ica.
Setelah berbincang-bincang sebentar dan memberikan nasehat pada Ica, akhirnya Nia menutup sambungan teleponnya. Berhubung telah masuk waktu sholat magrib, Ica bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air whudu.
Ica kembali merebahkan tubuhnya setelah melaksanakan sholat magrib dan isya. Malam yang sunyi membuat Ica dengan cepat larut dalam tidur nyenyaknya, tak ada rasa takut sedikitpun yang menghinggapi gadis bertubuh mungil itu.
Sedangkan di tempat lain, Bima sedang mengamuk. Seluruh isi ruangan itu terlihat sangat berantakan karna ulahnya, emosinya memuncak setelah melihat Vidio yang dikirim oleh bodyguard yang ditugaskannya untuk menjaga Ica.
Mata Bima berubah penuh kabut kemarahan, setelah melihat vidio itu. Fikiran Bima tak karuan, semua fikiran buruk memenuhi kepalanya.
"Kenapa kau lakukan ini padaku? braninya kau berhinat di detik-detik trakhir pelaksanaan pernikahan kita!"
Jemari Bima mengepal kuat, rahang tegasnya terlihat mengeras. Bima mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas sambil berjalan keluar, meninggalkan ruangan sepi yang sudah berantakan.
Bima memberhentikan mobilnya di depan halaman rumah Ica, setelah melewati para penjaga dengan santai. Para penjaga rumah Ica sudah mengenal calon suami Nona tampat mereka berkerja, jadi Bima tidak perlu meminta izin untuk masuk.
Langkah kaki Bima terlihat tergesa-gesa, pintu utama rumah itu di ketuknya perlahan mencoba membangunkan Ica. Tak lama pintu itu terbuka dan menampakkan seorang gadis bertubuh mungil, dengan daster selutut berwarna kuning membuatnya terlihat sangat cantik.
"Kak Bima! Tumben jam segini dateng?" Ucap gadis itu terkejut melihat Bima yang sudah berdiri di ambang pintu.
Bima tak menghiraukan pertanyaan Ica, Ia langsung menarik tubuh Ica masuk ke dalam dan mengunci pintu.
"Kak ada apa? Kenapa Kakak kayak lagi emosi gitu?" Ica kembali melemparkan pertanyaan pada Bima.
__ADS_1
"Aduh ...! Kakak sakit, lepasin tangan
Ica ... Kak!" Ica mengaduh keskitan saat Bima menyeretnya masuk ke dalam kamar Ica.
Bima tidak bersuara, tapi tatapan tajam dan perlakuannya yang tiba-tiba menjadi kasar membuat Ica ketakutan.
Bima membanting tubuh mungil Ica di atas tempat tidur, tubuh mungil gadis itu beberapa kali memantul indah. Ica mencoba mundur beberapa langkah sampai tubuhnya tersantuk di pangkal tempat tidurnya sambil memegang lengannya yang terasa sakit karna ulah Bima tadi.
"Kakak kenapa? Kenapa Kakak jadi berubah ka---," suaranya tertahan setelah Bima menyunggingkan senyum smirk padanya.
"Ahahahhaha ...! Kamu masih sanggup bertanya rupanya," Bima tertawa sangat keras sampai-sampai membuat Ica kaget.
Bima berjalan mendekati Ica yang sekarang hanya menunduk, tubuhnya bergetar ketakutan. Ia bingung apa yang sudah terjadi dengan calon suaminya ini, pergi kemana sifat lembut penuh Perhatiannya selama ini.
"Kakak ... Ica takut!" Ica kembali bersuara, mengutarakan apa yang sedang ia rasakan saat ini pada Bima.
Sedangkan Bima malah berjalan mendekati Ica dengan tatapan penuh kabut.
"Plaaakk ...!" Suara keras terdengar, di iringi dengan darah segar yang mengalir dari ujung bibir menuju dagu.
"Aaaaa ...! Sakit Kak hiks ... hiks ...," Pekik Ica menahan sakit.
Tubuhnya tersentak, setelah tangan Bima mendarat di pipi kanannya. Ica memegang pipinya yang sudah panas itu, sambil menangis pilu. Ia tak tau apa penyebab Bima sampai sanggup menamparnya.
__ADS_1