
"Rasa kita masih sama, fikiranku dan fikiran mu pun masih sama. Kita saling memikirkan, masih saling membutuhkan, tapi mengapa raga ini enggan untuk bersama."
__________________________________________________________________________________________
"Assalamualaikum, Tok ... tok ... tok!" Terdengar suara nyaring akibat hentakan tangan pada bingkai pintu di salah satu rumah.
"Assalamualaikum ...?" Belum ada jawaban juga dari penghuni rumah itu.
"Assalamualaikum ... Nek?" Sudah tiga kali suara itu terulang sama.
"wa-alaikum salam ... , Cklekkk ...!" Akhirnya ada sautan dari dalam rumah, sambil di iringi dengan suara pintu sedang di buka.
Keluarlah seorang wanita yang jelas sudah tidak muda lagi jika di tela'ah dari kriput di beberapa bagian tubuhnya, wanita itu masih setia berdiri termangu menatap Bima di ambang pintu rumahnya.
"Nenek ...!" Bima hanya bisa mengucapkan satu kata itu dengan suara yang bergetar.
Nenek Ayu mendekati cucunya itu dan langsung memeluk tubuh kekar Bima dengan lembut, tanpa Bima bercerita pun Nenek Ayu sudah tau masalah apa yang sedang di lalui cucu Kesayanga nya ini.
"Ayok Kita masuk! Udara malam tidak baik untuk Deonnya Nenek." Nenek Ayu menuntun Bima masuk kedalam rumah sederhana nya itu.
"Nenek mau membuat teh hanget dulu buat kamu ...," ucap nenek ayu pada Bima, namun belum sempat Nenek Ayu beranjak untuk pergi ke dapur Bima sudah bersimpuh lemah di hadapan Neneknya itu, sambil mulai berderai air mata.
"Maafin Deon Nek, maaf ...!" Bima akhirnya menangis tersedu-sedu sambil menggenggam erat tangan Neneknya itu, ini pertama kali Nenek Ayu melihat Bima menangis.
"Yang sabar yoo, semua masalah pasti ada hikmahnya. Kita harus belajar banyak dari kejadian ini, dengar Deon?" Sambil mengelus pelan pucuk kepala Bima. Tak ada sautan dari Bima, ia masih larut dengan tangisannya.
"kita harus menghargai keputusan Ayu dan kamu tidak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa bersalah." Ucap nenek Ayu masih tetap dalam posisi.
__ADS_1
"Tapi Nek! Gimana dengan Ayu? Gimana prasaannya Nek?" Bima mendongakkan wajahnya menatap ke arah Neneknya dengan wajah sedu.
"Dia yakin dengan pilihannya dan kamu juga harus begitu! Sekarang cuci wajahmu dan istirahat yang cukup, hari selanjutnya masih akan selalu ada untukmu." Tutur Nenek Ayu, menasihati.
"Jika dia memang jodohmu, apapun keadaannya, bagaimanapun jalan ceritanya pasti akan kembali juga." Lanjut Nenek Ayu tersenyum manis sambil menepuk pundak cucunya pelan dan di jawab anggukan oleh Bima.
Bima beranjak dari posisi duduk bersimpuh di lantai, kakinya terasa sedikit keram. Ia berjalan lunglai masuk menuju salah satu kamar yang ada di rumah itu, ia mencuci wajahnya dan mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran kecil itu.
Selain untuk melemaskan ototnya yang kaku, bima juga ingin membuat fikiran dan prasaannya sedikit tenang. Perlahan sorot matanya mulai redup hingga tak terasa alam mimpi sudah menjadi tempat nya sekarang ini.
Flashback off
Gadis itu masih termenung duduk di atas tempat tidur empuknya, entah sudah berapa jam Ia sama sekali tak mengubah posisi.
Di tangannya ada sebuah undangan cantik nan elegan, berwarna silver di hiasi sedikit goresan berwarna kuning keemasan dan di situ bertuliskan namanya dengan seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Bima.
Sedangkan di tempat berbeda, terlihat beberapa orang dengan pakaian yang sama sedang sibuk berlalu lalang. Di mana semua pernak-pernik pernikahan yang awalnya terpasang dengan cantik, sekarang sudah mulai satu persatu di bongkar sehingga menampakkan pemandangan berantakan tak beraturan. Pernikahan Itu batal, itikat baik malah di urungkan.
- - - - - oOo - - - - -
"Tok ... tok ... tok ...!"
Suara pintu kamar gadis itu di ketuk pelan dan saat itu juga membuat tubuhnya merespon dengan sedikit tersentak dari lamunannya. Dengan cepat Ia berjalan menuju pintu, sambil tangannya meleparkan undagan yang di genggamnya tadi ke dalam kotak sampah.
"sayang ... ada Umi sama Abi dateng jemput kamu, yuk kita kebawah!" Ajak Nia pada Ica sesaat setelah pintu kamarnya terbuka, sambil mencoba mengelus pipi gembil Ica namun dengan cepet gadis itu bergeser sedikit menghindar seolah tak ingin di sentuh.
"Ya udah, Mama tunggu di bawah ya ...!" Dengan cepet Nia pergi berlalu meninggalkan Ica.
__ADS_1
Sekitar 15 menit dari itu Ica sudah terlihat menampakkan wajahnya di hadapan beberapa gelintir orang yang ada di ruang tamu itu, Ica masih terus saja diam sambil mencium punggung tangan Umi dan Abinya itu.
"Sudah siap belum?" Tanya wanita yang masih terlihat muda dan cantik dengan hijab panjangnya.
"Sudah Umi, ayok Kita berangkat sekarang aja!" Akhirnya gadis itu bersuara, namun setelah mengucapkan beberapa patah kata bibirnya kembali bungkam.
Setelah selesai bersiap-siap, akhirnya Ica berangkat ke luar kota bersama kedua orang yang sedari awal muncul sudah di panggil nya dengan sebutan Umi dan Abi.
Memang ini sudah kesepakatan dari Ica dan kedua orang tuanya, Ica akan tinggal bersama dengan Umi dan Abinya di luar kota untuk beberapa waktu. Selain untuk mencari pengalaman, untuk menanangkan fikirannya dan juga untuk mencoba suasana baru.
Teriknya mentari sudah melebur seiring berjalannya waktu, dan sekarang dinginnya malam perlahan sudah mulai menyelimuti tubuh lesu Itu. Hanya tatapan kosong di ruangan senyap nan gelap yang masih setia menemani nya, dengan segelintir fikiran yang terus saja berputar-putar indah merusak ketenangan jiwanya.
Dua insan yang masih asyik berkutat dengan memikirkan masalah yang sama, namun di dua tempat yang berbeda. Memisahkan dua raga, namun masih dengan satu keinginan sebenarnya.
Entah siapa di antara mereka yang paling egois, sehingga membuat kata perpisah dapat melihat mereka dengan rasa penuh kemenangan karna berhasil memisahkan sepasang kekasih itu.
Sekarang tak ada lagi kata " kita" dinantara mereka, berjalan sendiri-sendiri itulah pilahannya. Kuat atau tidak? Rela atau Dilema ? Rindu atau Benci? Semua harus mereka telan dengan susah payah.
Bukan karna rasa kecewa yang membuat rasa sakit begitu menyayat jiwa, tapi karna rasa sayang yang teramat sangat pada seseorang yang telah kita percaya.
"Huuuuh ...,"
Suara kedua insan itu bersamaan tanpa mereka sadari di dua tempat yang terpisah sangat jauh, bahkan tanpa mereka sadari keduanya masih sama. Rasa tak mungkin hilang dengan cepat, Rindu tak mungkin bisa hilang hanya dengan kata Benci.
"Hidupnya adalah hidupku juga, selagi nafasnya masih berhembus dimanapun dia berada hati ku masih akan terus untuknya. Dan begitu juga sebaliknya, tak akan ada seorang pun yang sanggup menggati kan dirinya." Bima mencoba meneguh kan hatinya, sambil mencengkram erat lengannya sendiri bak elang mencengkram mangsanya.
"Bukan hanya aku yang tersakiti di sini, bahkan seluruh jiwa yang mengetahui ke khilafannya ikut menggunjingnya. Harusnya aku bisa lebih kuat darinya, kamu masih sama di sini selalu ada tempat untukmu." Gadis itu merapat kan jemarinya saling bertautan, beberapa tetes air mata lolos bersama kesadarannya.
__ADS_1