Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 24) Histeris


__ADS_3

"Jika ini cinta, kenapa malah sakit yang ku rasa?"


__________________________________________________________________________________________


Saya memang egois terhadap Kamu, tapi Saya melakukan ini karana Saya sangat takut kehilanganmu. Bima berucap dalam hati sambil menatap wajah polos Ica yang masih pucat.


Tapi yang penting bagi saya sekarang ini gimana caranya agar kamu tau prasaan saya. masalah bagaimana sikapmu, itu adalah hakmu. Tak terasa buliran bening itu menetes melewati rahang tegas Bima.


Sungguh Bima serius dengan perkataannya, ia juga sebenarnya masih sering merutuki dirinya sendiri. Karna harus merasakan sekalinya jatuh cinta, malah pada gadis kecil yang sama sekali tidak menginginkannya.


- - - - - oOo - - - - -


"Apa katamu! Ica pingsan ...?" Terdengar suara dari sebrang sana meninggi, dengan nafas yang memburu menahan kekesalannya.


"Iya Tuan ...," suara Max sedikit pelan. Max tau, Tio saat ini sedang emosi.


"Bagaimana bisa itu terjadi? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Terdengar suara dari sebrang sana terus berteriak.


Tio menunggu jawaban Max dengan tergesa-gesa, ia begitu khwatir dengan Ica. Tio juga sudah tau jika Ica tadi hampir pingsan di rumah nya, yah Max sudah memberitahunya.


Karna kepergiannya ke Belanda yang tiba-tiba, di tambah lagi dengan tidak berpamitan terlebih dahulu dengan Ica. membuat Ica jadi syok dan terpukul, Tio menyesal dan sangat merasa bersalah kepada Ica.


"Maaf Tuan, Saya tidak tau. Karna sebelum Nona Ica pingsan, Bima sudah datang lebih dulu di bandingkan kami." Max menjawab pertanyaan Tio dengan sedikit ragu, pasti tuannya ini akan semakin murka.


"Bima ...?! Kalian ini memang tidak becus! Saya tidak mau ini terulang lagi, awas saja jika sampai terjadi Sesuatu dengan gadisku tidak akan ku beri ampun kalian!" Teriak Tio dari sebrang sana membuat Max menjauhkan handphonenya dari telinga.


Tiba-tiba Tio menutup sambungan telponnya dengan Max, Max bergidik ngeri mendengar ancaman dari Tio tadi.


"Arghhhhh ...!" Tio mengusap kasar wajahnya


Pemuda itu merasa tidak becus menjaga Ica, karna ulahnya sendirilah yang menyebabkan Ica sampai pingsan. Di tambah lagi dengan dibawanya Ica oleh Bima, membuat Tio sedikit khawatir.

__ADS_1


Tio bukan mengkhawatirkan masalah kesehatan Ica, karna itu sudah barang pasti Bima akan menjaga Ica. Tapi yang di khawatirkan Tio adalah masalah prasaan Ica kepada Bima.


Tio takut, karna terbiasa dengan keberadaan Bima yang selalu ada di sisi Ica. Bisa membuat Ica jatuh cinta pada Bima, seperti kata pepatah.


" witing tresno jalaran soko kulino".


- - - - - oOo - - - - -


Malam semakin larut, terlihat dua insan masih menikmati tidur mereka seakan enggan untuk membuka mata.


Bima tertidur di kursi yang berada tepat di samping tempat tidur Ica, mungkin karena ia juga sedikit kelelahan hari ini.


setelah Bima mengabari Nia tentang keadaan Ica beberapa jam yang lalu, Bima juga ikut tertidur pulas sambil menggenggam tangan Ica lembut. Sedangkan Ica belum juga sadarkan diri sedari tadi, dinginnya malam tidak sama sekali mengganggu tidurnya.


Sekarang jarum jam sudah menunjukkan tepat pukul 02:30 dini hari. Telapak Tangan Ica terasa berkeringat dan sedikit pengap, membuatnya mulai terjaga dari tidur panjangnya itu.


Ica mencoba mengerjapkan mata indahnya, untuk mengembalikan kesadarannya yang masih morat-marit di mana-mana karna mimpi panjangnya itu.


Karna merasa gerak tangannya tertahan, berkeringat dan sedikit pengap membuat Ica langsung menengok kearah tangannya. Mata Ica membulat sempurna, sesaat setelah sosok itu benar-benar nampak jelas di penglihatannya.


"Aaaaa ...!" Pekik Ica sekeras-kerasnya.


Ica berteriak histeris, sambil menekuk lututnya mencoba menjauh dari Bima. Sedangkan Bima yang tengah tertidur pulas seketika terbangun, ia merasa sangat terkejut karna teriakan dan tarikan tangan Ica.


"Astagfirullah ...?" Ucap Bima tak kalah kaget.


Bima langsung terbangun dari duduknya, ia menggelengkan kepalanya mencoba mengembalikan kesadaran. kepalanya berdenyut pusing, karna terkejut.


Tapi rasa sakit di kepalanya itu, tidak terlalu di fikirkan oleh Bima. Karna sekarang ini matanya menangkap sesosok gadis, yang tengah menangis histeris di atas tempat tidurnya.


"Aaaaa ... hiks ... hiks ..., pergi ...! Jangan deket-deket pergi ...!" Ica kembali berteriak histeris sambil menutup telinga dan wajahnya menggunakan tangan.

__ADS_1


"Ca ..., ini Kak Bima ...!" Bima mencoba mendekati Ica yang terus saja berteriak histeris.


"pergi ...! Jangan deket-deket Ica ...!" Teriakan Ica menggema di seluruh ruangan kamar.


Tangan Ica menarik selimut, mencoba menutupi seluruh badannya. Sedangkan Bima tidak menghentikan langkahnya, ia mencoba merengkuh tubuh Ica lembut. Ia berusaha menenangkan Ica yang terus saja berteriak memintanya pergi.


"Ca ...? Denger, Kakak gak akan jahatin Kamu, Kakak sayang sama kamu." Tutur Bima kuat agar gadis itu mendengarnya.


Bima terus mencoba memeluk tubuh Ica, sambil mencoba menyingkapkan selimut yang Ica gunakan untuk menutupi seluruh Tubuhnya itu.


"Nggak ...! Kamu itu jahat, gara-gara ulahmu Aku jadi sering di marah mama." Teriak Ica dari balik selimut.


"Badanku sakit karnamu, kamu itu orang jahat ...! Hiks ... hiks ...," Ica mencoba meluapkan kekecewaan yang di rasanya karna ulah Bima.


Sedangkan Bima langsung menghentikan usahanya untuk menenangkan Ica, Bima mencoba memahami maksud perkataan Ica tadi. Beberapa detik berlalu, Bima sudah mendapatkan arti dari perkataan Ica tadi.


Seketika air mata Bima meluncur bebas, ia merasa sangat bersalah kepada gadis yang sedang menagis di depannya. Tubuh Bima meluruh di atas tempat tidur, sekarang ia faham apa maksud perkataan Ica.


Ternyata bekas lebam dan cengkraman serta goresan di ujung bibir ica itu semua di sebabkan oleh Nia, karna Bima datang mengamuk waktu itu dan Nia meluapkan kekesalannya pada Ica.


"Kenapa semua orang jahat sama Ica ...?! Bahkan sekarang, Kak Tio juga pergi ninggalin Ica ...!" Tubuh Ica terlihat bergetar hebat dari balik selimut, mata Bima bisa melihatnya.


"Nggak Ca ...! Kak Bima sayang banget sama Ica, maafin Kakak! Cara Kakak selama ini salah ke Kamu." Bima langsung menimpali ucapan Ica.


Bima mencoba mendekati Ica kembali, sambil mengungkapkan rasa sesalnya. Sedangkan air matanya, terus menetes. Mungkin saat ini julukan pria sedingin es sudah luntur, karna kesedihan Bima yang tak bisa di tutupinya lagi.


"Jangan berani sentuh-sentuh Ica! pergi ...! Hikss ... hiks ...," Ica terus berteriak meminta agar Bima menjauh, bahkan Ica tak segan menendang dan memukul kesembarang arah agar Bima tidak dapat mendekatinya.


Namun itu tidak membuat nyali Bima ciut, Bima terus mendekat sampai tubuh Ica benar-benar berada dalam pelukannya.


Bima mencoba mengunci pergerakan Ica dan melepaskan selimut yang menutupi tubuh Ica. Bima memeluk erat tubuh Ica yang bergetar hebat itu, wajah Ica penuh keringat dan air mata. Mungkin karna ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, jadi membuatnya berkringat.

__ADS_1


Walau tubuhnya sudah tidak bisa bergerak, ica masih saja menangis dalam pelukan Bima. Sedangkan Bima hanya Bisa pasrah, saat Ica mencoba memukul dada bidangnya meluapkan kekesalannya.


__ADS_2