
"Ica sayang Abang ...!" Ucap Ica di sela-sela sesegukannya.
"Cintaku, tak butuh banyak bicara. Aku hanya ingin memilikimu, bersamamu, sampai akhir usiaku." Kalimat indah itu berhasil keluar dari pemuda yang sangat menyayangi Ica.
"Aaaaa- ...!" Tiba-tiba ucapan Ica terhenti, itu semua karena ulah Octa yang sudah lebih dulu mencium kening Ica lembut.
Ica tertegun seketika, matanya menatap sayu ke arah Octa yang juga sedang menatapnya. Beberapa detik berlalu mereka masih terlihat enggan untuk beralih pandangan.
Duhh ...! Apa Gua salah ya main sosor gitu aja tanpa minta izin dulu? Lancang banget si...! Pikiran Octa berantakan akibat ulahnya sendiri, ia merasa bersalah setelah berhasil mendaratkan sebuah ciuman tulus pada Ica.
"Abang ihhh...!" Tiba-tiba Ica berteriak pelan, dengan nada yang sangat manja. Ia sedang tersipu malu, bahkan pipinya menunjukkan rona itu.
Wajahnya kembali terbenam dalam pelukan Octa, sedangkan Octa hanya tertawa geli melihat tingkah gadisnya ini begitu polos dan manja.
__ADS_1
"Isss ..., pipinya kenapa tu?!" Tanya Octa dengan nada yang sedikit menggoda, dan itu berhasil membuat Ica semakin tak berani menampakkan wajahnya.
"Udah ..., sekarang intinya gak akan ada yang berubah dari kita. Gak usah terlalu di fikirin, ok Sayang!" Ucap Octa sambil menatap langit dengan tangan yang terus menggenggam erat jemari Ica.
Tak ada jawaban, Ica hanya menanggapinya dengan anggukan. Bukan karna ia tak setuju, tapi itu karena Ica sudah tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Ia sangat bahagia saat ini!
"Ada satu hal penting yang harus Ica inget, dengerin baik-baik ya!" Tutur Octa meminta Ica fokus padanya.
"Apa Abang?" Jawab Ica penasaran.
Ica yang mendengar ucapan pemuda itu, tanpa sadar membiarkan air matanya kembali menetes perlahan. Rasanya sungguh lega, beban terbesarnya saat ini telah terlepaskan. Bahkan hasilnya sangat mengejutkan, kejujuran memang tidak akan mematikan.
"Jangan ada lagi air mata yang berderai karena kesedihan. Sekalipun nanti air mata meluruh, Abang pastikan itu air mata bahagiamu!" Lanjut Octa memastikan, pemuda itu terus menghujani Ica dengan kalimat keseriusannya sampai gadis itu sedari tadi tak sanggup berucap.
__ADS_1
"Makasih Abang, hiks ... hiks ... hiks ...!" Ucap Ica di barengi dengan tangisan pelan.
"Cup-cup...! Liat tu, Kita jadi pusat perhatian. Udah pasti itu karna ke gantengnya Abang!" Tutur Octa dengan narsisnya. Ica yang mendengar itu langsung berdehem tak setuju.
"Dasar narsis!" Tutur Ica dengan nada yang seolah-olah mengejek, namun Octa tidak mengindahkan Ucapan Ica.
"Kita keliling-keliling yuk! Abis tu Kita cari makan, Abang laper!" Ajak Octa sambil mengelus perut six packnya.
"Ok ... Ok, ayok Kita jalan-jalan!" Jawab Ica langsung berdiri dan menggandeng lengan Octa penuh semangat.
Waktu terus berjalan, sering dengan langkah kedua insan yang seharian ini menghabiskan waktu bersama mereka. Kesedihan, kegundahan, ketidak nyamanan memang pernah menghampiri mereka.
Namun, semua itu telah berlalu. Keceriaan, kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenangan sekarang mengiringi setiap ayunan kaki mereka.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya perpisahan harus mereka relakan kehadirannya, jarak yang terbentang kembali memisahkan raga mereka. Namun ada satu hal yang mereka yakini, pertemuan yang lebih indah pasti sedang menanti.