Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 23) Bima 2


__ADS_3

"Yang penting dia udah tau prasaan ku. masalah bagaimana sikapnya, itu adalah haknya."


__________________________________________________________________________________________


Namun saat Bima mencoba memegang bahu Ica, tiba-tiba saja tubuh Ica melemah dan jatuh pingsan. Dengan sigap Bima langsung membopong tubuh Ica yang terasa sangat dingin itu.


Bima menelisik keadaan Ica yang kacau, bajunya kotor di tambah air mata yang masih berlinang di pipinya. Bima mengepalkan telapak tangannya, siapa yang berani membuat gadis ku seperti ini. Batin Bima sudah penuh dengan emosi.


Bima menggendong tubuh Ica masuk ke dalam mobilnya dengan sangat hati-hati, Bima sangat khawatir jika Ica sampai kenapa-kenapa.


"Minta Dokter Hans segera ke apartemenku, sekarang!" Ucap Bima memerintah.


Terlihat Bima sedang menelpon seseorang, setelah selesai bicara Bima langsung menancap gas. Menuju apartmen mewahnya itu, agar Ica dapat beristirahat.


Bima membuka pintu perlahan, tangannya masih kuat mengangkat tubuh mungil Ica ala bridal style. Sedangkan Ica masih saja belum sadarkan diri, kulit putih Ica terlihat sangat kontras dengan warna biru tua tempat tidur yang berukuran king size itu.


"Bantu Saya untuk mengganti pakainnya!" Tutur Bima dengan nada dingin.


Di belakang Bima sudah ada dua orang wanita dewasa yang sedari tadi mengikuti Bima dan Ica. Setelah meletakkan tubuh Ica, Bima keluar dan meninggalkan Ica di dalam bersama dua orang wanita itu untuk menggantikan pakaian Ica.


"Siapa Gadis cantik ini? Kenapa Tuan Bima sampai membawanya kemari?" Tanya salah seorang pelayan itu saat sedang menggatikan pakaian Ica.


"Entahlah ..., Gadis ini sudah barang pasti sangat berharga untuk Tuan Bima." Jawab wanita satunya.


"Aku sudah 10 tahun berkerja di sini, tapibaru kali ini Tuan Bima membawa pulang seorang gadis!" Lanjut pelayan itu, yang memang sudah terlihat agak tua.


"Lihatlah ...! Betapa cantiknya Dia. Tubuhnya mulus, kulitnya seputih susu. Dalam keadaan kacau seperti ini saja Dia masih terlihat sangat cantik." Ucap pelayan itu kagum.


"Tapi lihatlah! Kenapa di sekujur tubuhnya terdapat memar dan di lengannya ini ada bekas cengkraman? Sungguh malang sekali." Mereka malah asik ngegibah, ketahuan Bima bisa auto pecat.


- - - - - Diluar kamar - - - - -


"Ada apa Bim? Udah mau magrib gini baru panggil Gue suruh ke sini ...! Untung jam kerja Gue udah selesai." Ucap seorang dari luar terdengar sedikit heran pada Bima.

__ADS_1


"Bantuin Gue bentar doang! penting ini." Bima memohon pada orang itu.


Dari raut wajah Bima menggambarkan bahwa ia sedikit was-was menunggu kedua pelayan tadi keluar dari kamar.


"Ceklekkkk ...!" Suara pintu kamar di buka.


Bima dengan antusias langsung berdiri dan berjalan masuk menuju kamar di susul oleh dr. Hans, namun langkah Bima di hentikan oleh kedua pelayan itu.


"Maaf Tuan Bima, Kami hanya ingin memberitahukan sesuatu. Saat Kami mengganti pakaian gadis itu tadi, Kami melihat di lengan sebelah kanannya terdapat luka bekas cengkraman dan di beberapa bagian lainnya terdapat memar. Sepertinya, gadis itu sempat mendapatkan tindakan kekerasan sebelumnya." Jelas pelayan itu panjang lebar.


Mendengar penuturan pelayannya itu, membuat Bima semakin khwatir dan sedikit penasaran. Dengan cepat Bima masuk untuk melihat langsung kondisi gadisnya itu.


"Baiklah, terimakasih informasinya. Silahkan lanjutkan tugas kalian!" Ucap Bima sambil berlalu.


Terlihat seorang gadis menggunakan gaun selutut, berwarna pink. Gadis itu masih belum juga sadarkan diri, dengan langkah cepat dua pria itu berjalan mendekati gadis itu.


"Siapa Dia Bim? Lo apain anak gadis orang sampek pingsan gini?!"


Hans mencoba mengintrogasi Bima dengan menunjukkan tatapan curiga pada Bima, dan tingkahnya itu membuat Bima ingin sekali memberikan bogem mentah pada temannya satu ini.


Melihat tingkah Bima, membuat Hans terkekeh pelan. Dengan teliti Hans memeriksa keadaan Ica, sedangkan Bima masih setia berdiri di samping Hans sambil memandang wajah polos Ica dengan cemas.


"Biasa aja tuh ekspresi, gak usah sok khawatir gitu!" Hans bersuara di tengah-tangah aktivitasnya.


"Is ..., kerasukan apa Lo sampek jadi lebay gini Bim?" Hans meledek Bima, setelah ia selesai memeriksa keadaan Ica.


Sedangkan Bima tidak memperdulikan ledekan Hans padanya, dia malah langsung menanyakan keadaan gadis Kesayangannya itu.


"Terserah Lo! Gimana keadaannya? Dia baik-baik aja kan?" Bima bertanya pada Hans dengan penuh harapan, gadisnya itu baik-baik saja.


"Dia gak apa-apa, cuma kecapean dan kelihatannya Dia sedang banyak fikiran!" Hans berjalan sedikit menjauh dari Ica.


"Jadi saya sarankan nanti saat Dia sudah sadar, tolong jangan biarkan Dia terlalu berlebihan memikirkan sesuatu! Karna itu bisa membahayakan psikisnya." Tutur Hans pada Bima.

__ADS_1


Hans menjelaskan panjang lebar kondisi Ica, setelah ia selesai memeriksa Ica dan Bima dengan antusias mendengarkan.


"Gimana dengan luka dan lebam yang ada di tubuhnya?" Bima kembali bertanya pada Hans.


Sedangkan Hans, dengan sabar menjelaskan pada Bima. Sungguh sifat Bima hari ini berubah drastis, Hans belum pernah melihat Bima begitu perhatian kepada seorang gadis selama ini.


"Itu sepertinya sudah ada sejak kemarin, nanti akan Saya siapkan vitamin dan juga obat untuk memarnya." Jawab Hans untuk pertanyaan Bima tadi.


Hans bersikap seperti layaknya seorang dokter yang sedang melayani pasiennya, walaupun sebenarnya ia sedang dengan temannya. Hans melakukan itu, sebagai sikap profesionalitasnya sebagai seorang dokter.


"Iss ..., iya iya pak dokter!" Bima berdehis menanggapi Hans.


Bima merasa sangat malas dengan tingkah Hans yang berlagak seperti seorang dokter, Walaupun kenyataannya Hans memang seorang dokter.


Sekarang Bima dan Hans berdiri di balkon kamar, tempat Ica beristirahat. Hans memberikan tatapan curiga pada Bima dan itu membuat Bima sedikit merasa risih dengan kelakuan temannya itu, Bima tau apa maksud dari tatapan curiga Hans padanya.


"Bersihin itu otak Lu ...! Gak usah suudzon gitu." Tutur Bima sambil menatap tajam.


Hans terkekeh puas melihat tingkah Bima, yang sedikit malu-malu.


"Siapapun dia, Gue harap Lo bisa jaga dia dengan baik Bim!" Hans berkata sambil menatap langit.


"Dia juga keliatannya masih kecil, cantik, polos kayaknya idaman Gue deh yang model begitu ... hihihi." Pak dokter itu malah kembali bercada.


Bima langsung menatap tajam ke arah Hans karna ucapan trakhir Hans tadi.


"Intinya Gua sayang banget sama dia." Ucap Bima serius.


"Yah walaupun sekarang ini, belum ada tanda-tanda kalo dia bakal mau sama Gua, Hans." Bima sedikit lesu menceritakan keadaannya dengan Ica.


" Dihhh ... jadi lesu gitu? Memang yang namanya prasaan itu, gak bisa di paksain Bim. Tapi Gue harap, Lo gak nyerah cuma karna cinta belum terbalaskan." Hans mencoba mengeluarkan kata-kata bijaknya.


"Yah udah lah ..., Gue mau balik dah malem mau istirahat." Hans beranjak meninggalkan Bima yang masih tertegun memikirkan perkataannya tadi.

__ADS_1


Setelah Hans benar-benar pergi dari ruangan itu, Bima mencoba mendekati Ica. Di tariknya kursi mendekat ke tempat tidur Ica, agar ia bisa duduk dengan nyaman dan memperhatikan Ica lebih dekat.


__ADS_2