Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 34)


__ADS_3

"tidak semua rasa harus kamu dapatkan, adakalanya kamu harus menentukan pilihan walau hasilnya harus ada yang terbuang."


__________________________________________________________________________________________


Tak terasa kepergian Tio dari Belanda sudah hampir 1 bulan, Issabel sudah sangat merindukan Tio. Selama Tio tidak ada di Belanda, Issabel hampir setiap hari datang ke kantor mereka.


Tapi Issabel tidak pernah masuk ke dalam ruang kerja Tio, trakhir Issabel masuk ke ruangan Tio yaitu saat sehari sebelum Tio berangkat ke Indonesia. Saat itulah Tio dan dirinya melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.


Issabel merasa sedikit menyesal, tapi ia tidak mempermasalah kan itu. Kalaupun nanti dia hamil, itu tidak masalah baginya karna memang ia yakin Tio menyayanginya dan pasti akan bertanggung jawab.


Issabel berjalan menuju ruangan Tio, Ia akan mengambil berkas penting untuk rapatnya hari ini dan berkas itu ada di dalam ruangan Tio. Issabel membuka pintu ruangan itu pelan, kakinya terus melangkah ke meja kerja Tio.


Tubuh tingginya harus sedikit membungkuk agar bisa melihat isi laci meja Tio, Issabel mulai mengorak-arik isi laci itu mencoba mencari berkasnya. Namun saat ia mengangkat tumpukan berkas itu tiba-tiba ada sebuah foto kecil berukuran 3R tergeletak di lantai.


Melihat itu, dengan cepat tangan Issabel mengambilnya dan menela'ah foto yang sekarang sudah berada di telapak tanganya itu.


"Siapa gadis ini? Kenapa fotonya bisa ada di ruangan Tio?" Ucap Issabel sambil memegang foto itu.


"Ooo pasti foto ini, terjatuh dari salah satu berkas yang ku angkat tadi." Lanjut Issabel, sambil membongkar dan memeriksa, satu persatu berkas yang ada di situ.


Issabel membaca semua tulisan yang ada di situ, tangannya mengetikkan sesuatu di handphonenya entah data apa yang menarik di matanya sehingga sampai di simpan di handphone nya itu.


"Heh ...! Ingin bermain-main rupanya? Baiklah kita lihat siapa pemenangnya." Tutur Isabel sambil meremas kertas itu kasar.

__ADS_1


Issabel berjalan meninggalkan ruangan itu, sambil membawa beberapa berkas untuk bahan rapatnya hari ini. Issabel juga mengikut sertakan berkas yang sudah kusut itu dalam genggamannya.


Rapat sudah selesai, sekarang Issabel sudah berada di rumahnya sedang duduk santai di balkon kamarnya itu. Jari - jari lentiknya terlihat sedang mencari-cari sesuatu di dalam handphone itu.


"Halo ..., assalamualaikum. Siapa?" Terdengar dari sebrang sana, suara halus seorang gadis.


"Gak perlu Kita banyak basa-basi! Intinya Saya pringatkan Anda untuk menjauh dari Tio." Ucap Issabel tanpa basa-basi.


"Sebelum Anda merasakan hal yang tidak menyenangkan." Lanjut Issabel dengan nada anacaman.


"Saya juga tidak ingin bertele-tele, Saya rasa Anda sudah sangat mengenal Tio." Ica menjawab tak kalah kesal.


"Saya hanya ingin menegaskan bahwa Saya tidak pernah mendekati Tio! Saya tidak ada hubungan dengannya, jadi tolong jangan hubungi Saya lagi karna anda sudah membuat Saya merasa terganggu!" Ica melanjutkan Ucapannya penuh penekanan.


"Jadi Saya harap, tidak ada satu wanitapun yang mempunyai harapan terlalu tinggi untuk bersanding dengan Tio, karna itu adalah mimpi." Ucap Issabel melanjutkan perkataannya tadi.


" Ooo ... bagus, Saya turut bahagia mendengar kabar itu. Saya harap, semua bisa berjalan lancar! Assalamualaikum." Tanpa permisi Ica langsung menutup sambungan teleponnya.


Sungguh menguji kesabaran sekali** ...! Batin Ica.


"Kurang ajar! Berani sekali dia denganku." Issabel berucap selaras dengan tangannya yang membanting handphone.


-05:00-

__ADS_1


"Drettt ... drettt ... drettt!"


Handphone Ica kembali berbunyi, padahal Ica baru saja terlelap. Dengan rasa terpaksa Ica mengangkat sambungan telepon itu.


"Selamat pagi ... Ica!" Terdengar suara penuh keceriaan dari sebrang sana menyapa Ica.


Sedangkan Ica mendengus kesal, karna lagi-lagi Tio menelponnya. Ica berfikir, ini lah saatnya untuk menyudahi semua ini.


"Pagi kaka, maaf ya ... sekali lagi Ica tegas kan tolong berhenti hubungi Ica!" Ucap gadis itu langsung To The Point.


"Ica gak mau terjadi salah faham di antara Kita, jadi tolonglah ngertiin posisi kita masing-masing sekarang ini ...! Jujur Ica risih kak." Tutur Ica langsung meluapkan segala kekesalannya pada Tio, tanpa memberi sedikit saja peluang untuk Tio dapat menjawab.


"Kok Kamu ngomongnya kayak gitu sih? Apa salahnya Kakak coba buat perbaiki semua ini?" Tio menjawab ucapan Ica sedikit kesal.


"Kakak tau, Kakak salah! Kakak udah buat Kamu sakit, buat Kamu kecewa. Tapi tolong kasih Kakak kesempatan buat perbaiki ini, Kakak sayang Kamu!" Tio ikut meluapkan isi hatinya dengan penuh rasa tulus.


"Kak tolong berhenti bilang kata sayang ke Ica!" Rasanya sudah cukup muak Ica mendengar kata-kata itu dari mulut Tio.


"Kenapa sih Ca? Apa udah bener-bener gak ada kesempatan lagi buat Kakak? Secepat itu Kamu lupain Kakak ca?!" Tio mulai prustasi dengan jawaban Ica yang selalu menolak usahanya.


"Kak Tio dengerin Ica ngomong! Ica bukan udah ngelupa-in Kakak, tapi Ica cuma membiasakan diri tanpa adanya Kakak." Ucap Ica dengan nada yang stabil.


"Karena Ica bukan Kak Tio, yang bisa mencintai dua orang dalam satu waktu." Gadis itu bersuara dengan nada tegas, sindiran keras Ica keluarkan untuk Tio.

__ADS_1


__ADS_2