
"Kadang kita harus rela melepaskan sesuatu yang kita sayang untuk tau rasanya lega, dan kita juga boleh menghilang agar mereka dapat merasakan penyesalan."
__________________________________________________________________________________________
Suara azan subuh kembali terdengar di kumandangkan, sedangkan seorang gadis masih terlelap dalam dinginnya subuh hari ini.
"Haaaaaah ...!"
Ica mulai membawa tubuh lemasnya itu masuk ke dalam kamar mandi, ia berniat membersihkan tubuhnya dan langsung di lanjutkan dengan sholat subuh.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 06.15, Ica mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah kebanggannya. Gadis itu melanjutkan dengan sedikit merias wajahnya dengan polesan bedak bayi tipis di tambahkannya oleskan lip gloss ke bibirnya agar tidak terlalu pucat.
"Selamat pagi ... Pah, Kak?"
Ica menyapa dua orang pria yang tengah asik berbincang, dan kedua pria itu langsung membalas sapaan Ica.
"Pagi juga Sayang ... Ayok kita mulai sarapannya, Mama tadi di mana? Panggil dulu biar Kita sarapan bareng." Ucap Dian pada anak gadianya itu.
Belum sempat Ica berjalan mencari keberadaan Mamanya itu, Nia sudah datang mendekati mereka dan langsung mengambil posisi duduk di samping Dian suaminya.
__ADS_1
Sarapan pun di mulai, terlihat suasana begitu terasa hangat di antara mereka. Bima sudah sangat dekat dengan keluarga Ica sekarang ini, dan Papa Ica juga sudah mepercayakan Ica pada Bima..
Setelah acara sarapan selesai, mereka pergi menjalankan kegiatan mereka masing-masing seperti hari-hari biasa nya.
-Dua tahun kemudian -
Hari berganti dengan cepat, bulan berlalu tanpa di sadari, dan sekarang sudah 2 tahun berlalu sejak kepergian Tio dari kehidupan Ica. Tapi sampai sekarang tidak ada sedikitpun kabar darinya, Tio hilang bak di telan Bumi.
Ica bahkan sudah hampir berpuluh-puluh kali datang ke rumahnya, mencari informasi dan kabar darinya. Jujur bagi Ica melupakan kehadirannya itu sungguh hal yag tidak mungkin, tapi sekarang Ica berfikir mungkin memang ini adalah waktu yang tepat baginya untuk rela melepaskan Tio.
Dan sekarang Ica sedang fokus dengan sekolahnya yang sebentar lagi akan selesai, serta menjalani hubungnnya dengan Bima. Semakin hari hubungan mereka selalu ada perkembangan, di banding saat pertama kali mereka bertemu sikap Ica sudah berubah 360 drajat.
Ica juga sudah dekat dengan keluarga Bima, mereka juga sudah merencanakan pernikahan yang akan di gelar tahun depan setelah Ica menyelesaikan sekolahnya. Masalah Ica akan kuliah atau tidak setelah menikah nanti, itu sudah di serahkan pada pilihan Ica. Bima akan mendukung, apapun keputusan Ica.
Namun sekarang satu yang membuat Ica dan Bima sedikit tertahan, Papa Ica sampai sekarang belum mengetahui hubungan mereka. Bima berencana setelah Ica lulus ia akan datang dan menjelaskan hubungannya dengan Ica, Bima sangat berharap Dian bisa mengerti masalah Ini.
Susana bahagia mereka sangat berbanding terbalik dengan seorang pria muda yang semakin hari semakin merasa risau, karna informasi yang di dapatkannya semakin hari semakin tidak sesuai dengan keinginannya.
"Baiklah Max terimakasih atas informasinya, silahkan kembali lanjutkan perkerjaan kalian!"
__ADS_1
Suara seorang pria muda dari sebrang sana terdengar lesu, sembari menutup sambungan telepon.
Tubuh Tio seketika terduduk lemas di atas kursi empuk di dalam ruangan kerjanya. Ia tak habis fikir, apa yang di tinggalkannya tanpa permisi sekarang telah hampir lepas dari genggamannya.
Ketakutan yang selalu di fikirkannya sekarang sudah benar-benar terjadi, jika saja Tio bisa memutar waktu ia tidak akan melakukan itu.
"Arghhhhh ...!"
Teriakan Tio di ikuti dengan suara barang-barang berjatuhan di lantai akibat ulahnya, ia meluapkan kekesalannya pada barang-barang yang ada di atas meja di depannya.
Selama 1 tahun trakhir ini, Max memang selalu memberi kabar yang kurang menyengkan hati Tio tentang Ica. Semakin hari Max semakin sulit mengawasi pergerakan Ica, karna Ica selalu berada dekat dengan Bima.
Di tambah lagi Bima juga sepertinya menyediakan bodyguard untuk menjaga Ica, Max juga mengatakan bahwa pergerakan mereka juga sudah tidak aman lagi karna desas-desusnya bodyguard Bima sudah mencurigai kehadiran mereka.
"Aku memang terlalu lalai dan menganggap sepele masalah ini dari awal. Aku juga jahat dengannya, dengan tega Aku pergi meninggalkannya tanpa memberi sedikit penjelasan apapun." Tutur Tio menyadari kesalahannya.
"Bahkan sampai hari ini, Aku masih tidak memberinya kabar. Aku sudah terlalu egois!" Tio menidurkan kepalanya di atas meja, tubuhnya terasa lemas.
Jika waktu bisa di putar, Tio akan lebih memilih mempertahankan cintanya. Dari pada mempertahankan harta dan kekuasaannya, tapi kenyataannya itu sudah terlambat.
__ADS_1