
"Sejak kapan Kamu di jodohkan dengan Bima ...?" Tio bertanya sambil memandang wajah Ica yang langsung lesu setelah mendengar pertanyaan Tio.
"Emm ... Ica juga gak tau Ka. Cuma tadi pagi Mama bilang ke Ica, kalo Ica udah di jodohin sama Om Bima." Gadis itu memotong sejenak ucapannya.
"Awalnya Ica nolak kak ..., tapi Mama tetep kekeh maksa Ica. Ica gak brani tolak kak, Ica takut jadi anak durhaka kak." Sambung Ica kembali.
Mata Ica mulai berkaca-kaca, dadanya terasa sesak menahan air mata yang akan segera jatuh. Namun Ica berusaha tegar di depan Tio, Ica menundukkan wajahnya agar Tio tak melihatnya meneteskan air mata.
"Om Dian tau apa enggak, kalo Kamu di jodohin ...?" Tio melanjutkan pertanyaannya.
"Ica juga nggak tau Ka, Mama bahas masalah ini waktu Papa udah berangkat ke kantor."
Ica menggeleng pelan sambil menjawab pertanyaan Tio dengan suara sesegukan. Tio mengepalkan tangannya, terlihat jelas di wajahnya Tio sedang mena
"Kakak mohon jangan tutupin apapun dari Kakak ...! Kakak gak mau Kamu kenapa-kenapa." Tio mengutarakan keinginannya sambil menggenggam tangan Ica.
Tio mencoba menahan emosinya di depan Ica, sebenarnya niat licik Nia untuk Ica sudah jelas terbaca di fikiran Tio. Namun ia tetap mencoba pura-pura tak tau di depan Ica, karna ia masih menghormati wanita itu sebagai seorang ibu dari gadis yang di sayangnya.
Dasar Ibu yang tak tau diri, anak sendiri di jadikan umpan. Awas saja jika sampai terjadi sesuatu pada Ica, aku tidak akan segan-segan membalaskan kesengsaraan Ica pada kalian. Ucap Tio di dalam hati.
"Tapi Kakak jangan marah ya, kalo Ica cerita. Hikss ... hiks ... hiks ...," tangisan Ica pecah. Ia tak bisa membendung kesedihannya lagi di depan Tio. Ica menjawab pertanyaan Tio sambil menatap wajah Tio sayu dengan air mata sudah mengalir deras membasahi pipinya.
"Iya Ca ..., cerita sama Kakak kalo ada yang ganggu Kamu, atau Bima melakukan sesuatu yang seharusnya gak di lakukannya. Kamu cerita sama Kakak! Jangan di pendem sendiri, Ica itu masih punya Kak Tio yang sayang banget sama Ica." Pemuda Itu terus mendorong Ica agar mau bercerita.
"Tadi waktu di restoran Ica kabur karna Ica di ganggu Om Bima Kak, dia ci-cium pipi Ica ... hikss ... hikss ... hikss!" Gadis itu memberanikan diri untuk menceritakan semuanya.
__ADS_1
Tangan Ica menggenggam erat baju kaosnya, sedangkan air matanya sudah tak terhitung berapa tetes yang jatuh. Mendengar pernyataan Ica tadi, seketika membuat Tio tak dapat menahan emosinya.
Tio berdiri dan langsung meluapkan amarahnya pada meja kaca di depan mereka dan seketika membuat meja itu pecah berantakan.
"CTARRR ...!" Seketika meja kaca itu hancur berantakan.
" Brengsek ... tu Bima, kurang ajar ...!" Teriak Tio penuh amarah.
Wajah Tio sungguh terlihat sangat sangar, tatapan tajam dan rahang yang terlihat mengeras menahan emosinya yang masih meledak-ledak. Pria muda berusia 21 tahun dengan kecerdasan di atas rata-rata ini sungguh naik darah mendengar gadisnya di sentuh oleh pria kurang ajar itu.
"Kakak ...! Maafin Ica, hiksss ... hikss ... maaf Kak!" Ica bergerak reflex, tubuhnya langsung memeluk erat tubuh kekar Tio dari belakang.
"Kakak maaf Ka ..., Ini salah Ica! Karna Ica gak kuat lawan Om Bima ...! Hikss ... hiks ... hiks." Tubuh Ica bergetar hebat.
Ica sangat ketakutan melihat Tio yang berubah sedemikian rupa. Ica belum pernah sama sekali melihat Tio dengan aura yang berbeda seperti sekarang ini.
Dasar brengsek kurang ajar, braninya dia sentuh Ica dengan tubuh kotornya itu. Tak akan Ku diamkan, umur tua tapi sifat seperti anak Tk. Jadi firasat Ku benar sedari tadi ...!
Karna merasakan tubuh Ica memeluknya dengan kencang, di tambah tangisan Ica dan tubuh Ica yang bergetar hebat membuat amarah Tio sedikit berkurang dan sudah kembali terkontrol.
Tio adalah sesok pria muda yang tampan, namun begitu dingin di mata orang lain yang mengenalnya. Jangankan hanya sekedar memberikan senyuman, melirik saja Tio seakan sungkan.
Namun sifat dinginnya itu akan hilang hanya saat dia sedang berada di dekat Ica, nyatanya gadis kecil itu sudah berhasil meluluh lantakan isi hati Tio tanpa di sadarinnya.
Tio juga bukan hanya sekedar mempunyai sisi yang dingin saja, tapi Tio adalah pria muda yang bernyali besar dan kejam di luar. Tio tak segan-segan menghancurkan rivalnya dengan cara yang bisa di bilang keji.
__ADS_1
Bisa dibilang Tio adalah seorang Bad Boy saat di luar jam kerja kantornya. Maka dari itu Tio dan Bima sudah saling kenal karna sebenarnya mereka rival di luar kehidupan sehari - hari mereka.
"Hikss ... hiks ... hiks ...," baju Tio terlihat basah di bagian belakang. Semua itu di sebabkan oleh air mata Ica, suara tangisan Ica masih terdengar jelas berbarengan dengan deru nafas Tio menahan emosi.
Tio mencoba menggenggam tangan Ica yang masih nyaman melingkar di perut six packnya. Tio bisa merasakan jika tubuh mungil itu sedang gemetaran, membuat Tio merasa bersalah dan iba.
Tio membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ica, sedangkan Ica hanya diam tak bergeming tanpa berhenti melakukan aktivitas menagisnya. Tangan Ica masih enggan di lepasnya, Tio menangkupkan kedua belah tangannya di pipi gembil nan mulus milik Ica yang sudah basah sedari tadi karna air mata.
Tio mendongakkan wajah Ica ke atas, sehingga mata tajamnya bisa dengan jelas melihat air mata kesedihan yang mengalir seakan enggan untuk berhenti.
Mata tajam Tio manatap nanar ke arah Ica, sungguh batinnya tersiksa saat ini melihat gadisnya menangis sedih. Sedangkan dia tak mampu berbuat apa-apa pada orang yang telah menyakiti gadisnya, karna itu adalah orang tua Ica sendiri.
Tio memeluk tubuh Ica erat, sambil tangannya yang sedikit mengeluarkan darah di bagian atas karana terkena pecahan meja kaca tadi masih mengelus lembut kepala Ica.
"Kakak maafin Ica kak ..., hiksss ... hiksss ... hiksss!" Karna perlakuan Tio itu membuat tangisan Ica semakin pecah.
Suara Ica sayup-sayup terdengar karna selain ia sedang menangis, wajahnya juga sekarang berada di dalam dada bidang Tio sehingga membuat suara halusnya terdengar samar.
"Enggak ... Sayang, ini bukan salah Kamu. Jadi gak perlu minta maaf." Ucap Tio seraya mengeratkan pelukannya.
Tio berbicara dalam hatinya, mengungkapkan rasa sesalnya. Fikiran dan emosinya masih berkecamuk memikirkan masalah ini pasti akan sangat rumit nantinya.
Ini salahku sayang, karna terlalu lama meninggalkanmu, sampai-sampai Aku tak tau keadaanmu.
"Sayang, dengerin Kakak ya ...!" Tio mendongakkan wajah Ica.
__ADS_1
"Jangan pernah takut sama Bima! Begitu juga dengan Tante Nia, walaupun toh dia Ibumu. Tapi jika yang di ajarkannya atau yang di mintanya dari Kamu itu adalah hal yang tidak baik, Kamu boleh menolaknya." Jelas Tio pada Ica.
Tio memberikan sedikit penjelasan kepada gadis Kesayangan nya ini, Ica terlalu baik hati dan polos namun sifat Ica itu malah di manfaatkan Mama Ica ke arah yang tidak baik untuk Ica.