Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 13)


__ADS_3

Selama ini, hanya Tio dan Dewi tempatnya sering membagi keluh kesah. Sedangkan orang tua Ica terlalu sibuk walau hanya untuk sekedar mendengarkan cerita Ica.


"Ica ..., jangan terlalu sering memendam masalah. Nanti darah tinggi lo ...!" Tio akhirnya bersuara setelah dari tadi diam.


Karna merasa terlalu lama menunggu jawaban dan melihat ekspresi wajah Ica yang mulai tegang , akhirnya Tio mencoba mencairkan suasana dengan melemparkan candaan pada Ica.


"Ahahahah ... apaan si krispiiiiiii ..., tapi Kakak janji sama Ica dulu ...!" Ucap Ica sambil mengacungkan jari kelingking.


"Iyaaa bawell ihh ..., Apa sih yang nggak buat Kakak. Janji nihh, tuu liat ...! Apa perlu 10 jarinya ikutan juga ...?" Tio sungguh tidak sabar, namun Ica terus saja menunda-nunda.


"Ahahah ... Kakak mah orang serius tau ..., janji Kakak gak usah khawatir sama Ica! Jangan bertindak kecuali Ica yang minta! Ica gak mau Kakak kenapa-kenapa ...," Ica mengatakan perjanjian yang harus di sepakati Tio dengan singkat, padat dan jelas. Perjanjian itu langsung di tanda tangani oleh Tio,( tapi boong ahhahaha) maksudnya langsung di setujui oleh Tio dengan anggukan tanda setuju dan jari kelingking.


"Jadi gini Kak , Ica itu di jodohin sama Om Bima. Tadi itu Ica kabur waktu Dia ajak Ica makan, karna Ica gak mau." Ica mencoba menjelaskan perjodohannya dengan Bima sambil menundukkan kepalanya ia tidak berani menatap wajah Tio. Benar saja mendengar penjelasan dari Ica yang sedemikian rupa, membuat Tio langsung naik pitam karna tak habis fikir.


"Kamu di jodohin sama Bima? Siapa yang ngejodohin Ca? Astagfirullah ...!" Nada suara Tio tiba-tiba meninggi, membuat mereka menjadi sorotan orang sekitar tempat mereka makan.


"Kakak jangan emosi gitu, Ica takut ...," Ica semakin tak berani melihat Tio sedari tadi ia hanya bicara sambil menunduk melihat ke arah kakinya.


Tio yang melihat Ica ketakutan karnanya lalu memutuskan untuk membawa Ica pulang ke rumahnya, di tambah lagi di sini tampatnya memang tidak nyaman untuk mereka berdua berdiskusi.


"Maaf Ca ..., Kakak bukan marah sama Kamu. Ayok kita pulang aja ke rumah Kakak, Kita ngobrol di sana aja ya ...!" Ajak Tio pelan.


Masih merasa takut, Ica hanya menjawab dengan anggukan. Tio berdiri sambil menggandeng tangan Ica seraya meninggalkan tempat makan mereka, Tio langsung menancap gas menuju rumahnya. Sebelumnya Ica sudah memakai helmnya terlebih dahulu, takut di tilang.


Selang beberapa menit Tio sudah memarkirkan motor yang di kendarainya tadi di depan rumah mewah dengan sentuhan warna putih di seluruh bagian rumah itu membuatnya terlihat lebih elegan.Tio mencoba membantu Ica melepaskan helm yang di pakainya, sungguh sok sweet ya mereka 😁.


"Ayok masuk Ca ...!"

__ADS_1


Tio mengajak Ica masuk kedalam rumahnya di banrengi dengan langkah kakinya mencoba membuka pintu, dan langsung di ikuti oleh Ica dari belakang.


Sepi, itulah yang terlintas di batin Ica saat langkah kakinya membawa tubuhnya memasuki rumah mewah itu.


Kak Tio sendirian di rumah ini, tapi Dia berani ... Dia gak pernah ngeluh bahkan bisa bikin Ica ketawa terus. Pasti kak Tio pernah ngerasain sepi kayak yang Ica rasain.


Ica menelisik ruangan yang ada di sekitarnya sambil berkata dalam hati, mata indahnya mencoba memandang seluruh isi rumah itu.


"Ca ... Kamu mandi dulu aja ini kan udah sore, lagian Kakak gak betah deket-deket sama Kamu kalo bau kringet gitu." Suara Tio menyadarkan Ica dari kegiatan selidik menyelidiknya.


"Isss kebiasan dasar tukang bully ..., tapi Kak Ica kan gak bawa baju ganti ...!" Keluh Ica pelan.


"Udah yang penting Kamu mandi dulu, masalah baju gampang jangan kek orang susah gitu." Tio berkata dengan ekspresi menyebalkan.


"Iya ... iya, bawel yaaaa!" Ica memutar bola matanya bosan.


"Waaaa ... kamar Kak Tio masih rapi aja, masih sama kayak yang dulu." Ucap Ica sambil meratakan penglihatan.


Ica berdecak kagum melihat isi kamar Tio yang sangat rapi, Pandangan Ica terhenti saat melihat foto berukuran besar yang terpampang jelas di dinding kamar itu. Terlihat di foto itu seorang anak laki-laki berbaju Biru sedang memeluk anak perempuan kecil berbaju pink dengan senyuman polos di wajah mereka.


Ica terkekeh pelan matanya berbinar sepertinya butiran air itu akan terjun bebas melewati pipi putih nan halusnya.


"Ternyata Kak Tio masih simpen foto ini, bahkan di pajang di kamarnya, hurss ...!" suara Ica menarik nafasnya yang mulai terasa sempit.


"Ceklek ...!" Pintu kamar itu terbuka, sontak membuat Ica kaget dan langsung berlari ke arah lemari baju di dalam kamar itu.


"Aaaaaa ... apaan tuu ...?" (Deg ... deg ... deg!) suara jantung Ica yang berdetak lebih kencang karna kaget"

__ADS_1


Jantung Ica kembali berdetak normal sesaat setelah ia lihat yang masuk itu adalah Tio, namun kenormalan itu tidak bertahan lama karna ulah jail Tio padanya.


"Issss apaan sih lebay banget ... ni bocah." Dengus Tio ke arah Ica.


Ternyata itu adalah Sang empunya kamar, Tio mendekati Ica yang berada tepat di depan lemari baju. Langkah Tio membuat Ica terpaksa mundur sampai tubuhnya terhantuk di lemari, namun Tio masih tetap mendekat membuat Ica menjadi sedikit grogi.


Di tambah tatapan tajam Tio membuat Ica tak berani memandangnya, jadi Ica hanya menunduk melihat ke arah lantai.


Aduh ... Kak Tio kerasukan apa sih? Kok suasananya jadi horor gini ...? Ica berkata dalam hatinya.


Tio sedang bahagia saat ini, dalam hati iya tertawa puas melihat ekspresi Ica yang seperti itu. Setelah puas mengerjai Ica akhirnya Tio buka suara.


"Minggir Ica! Kakak mau ambil baju buat Kamu ..., lemarinya jangan di tutupin gitu!" Tio berkata sambil menahan tawanya.


Mendengar perkataan Tio yang seperti itu seketika membuat wajah Ica menjadi bersemu merah, Ica sangat malu di buatnya. Dengan cepat Ica bergeser mendekati tempat tidur Tio agar tidak menutupi pintu lemari itu. (Kalian pasti tau apa yang sedang di fikirkan Ica)


"Iiiii ..., kenapa tu pipi Kamu merah Ca? Ahahahha jangan-jangan ... hihihi, makanya kurangi nonton drakor Ca!" Ejek Tio sambil menunjuk pipi Ica.


Merasa tak kuat menahan malu, akhirnya dengan cepat Ica berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk menutupi rasa malunya.


Iss nyebelin banget sihh, dasar pinter banget ngerjain orang ... ya wajarlah Icanya berfikiran yang aneh-aneh orang Kak Tio kayak gitu. Awas aja ...! Ica meluapkan rasa kesal dan malunya di dalam hati sambil melakukan aktifitas mandinya.


Sedangkan di dalam kamar Tio asik jumpalitan di atas kasur empuk itu untuk meluapkan rasa bahagianya setelah mengerjai Ica.


Saat asik dengan kebahagiaannya Tio baru ingat, pasti Mama Ica akan khawatir jika Ica belom memberi kabar. Tio berinisiatif untuk mengabari Mama Ica, bahwa anaknya sedang bersamanya dalam keadaan baik.


Setelah selesai menyiapkan pakaian untuk Ica, Tio keluar dari kamarnya meninggalkan Ica yang tengah asik membersihkan diri dan ia langsung menuju ruang tamu untuk menelpon Mama ica.

__ADS_1


__ADS_2