Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
SAMA


__ADS_3

Gadis itu berjalan gontai, air matanya masih berlinang di pipi gembilnya itu. Matanya menatap sedih dan bingung ke arah tiga orang yang sedang berada jauh di depannya.


Sedang membicarakan apa mereka? Kenapa seperti serius sekali? Batin Ica sambil terus melangkah mendekat.


"Yuk Kita pulang ...!" Ucap Ruslan, setelah Ica sampai di dekat mereka beberapa detik yang lalu.


Tanpa persetujuan, Tari dan Octa langsung mengikuti Ruslan cepat. Sedangkan Ica masih syok melihat sikap tiga orang yang sama sekali tidak memperdulikan kehadirannya. Mereka tampak acuh, bahkan menyapa saja rasanya enggan.


Dengan sabar Ica mengikuti tiga orang itu dari belakang, sedangkan Octa terlihat sangat cepat akrab dengan Pasutri itu.


"Ica tuan rumahnya, kenapa malah Ica yang tersisih?" Ucap Ica lesu.


Gadis itu masuk kedalam mobil, ia duduk di samping Tari. Sedangkan Octa duduk di samping Ruslan, mereka tampak bahagia tapi tidak dengan Ica yang masih murung.


"Nak Octa gimana perjalanannya kemari, lancar?" Tanya Ruslan sambil mengemudi.


"Alhamdulillah Abi, lancar tidak ada halangan." Octa menjawab cepat, sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


"Abang tadi lewat mana? Kok, Ica gak liat Abang sampe?" Ica ikut dalam pembicaran itu, tapi lagi-lagi ucapannya itu di acuhkan.


"Nak Octa suka makan cumi-cumi? Kalo Nak Octa suka, Umi masak,kan nanti!" Tari malah langsung menyerobot ucapan Ica dengan sengaja dan parahnya lagi, pertanyaan Tari langsung di tanggapi oleh kedua laki-laki itu.


"Iya Umi, Octa suka! Trimakasih banyak Umi." Jawab Octa senang.


"Kamu memang harus coba masakan Umi! Masakan Umi di jamin bikin ketagihan." Lanjut Ruslan tak kalah heboh.


"Abi mah ..., pinter gombal!" Ucap Tari menanggapi pujian suaminya itu,sedangkan Octa hanya terseyum.


Mereka berhasil membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Bahkan sampai saat sudah di rumah, Octa dan yang lainnya masih enggan untuk bicara dengan Ica.


Dua jam sudah berlalu, acara makan bersama sudah selesai. Sekarang mereka tengah asik mengobrol di ruang keluarga, terlihat mereka antusias mendengarkan cerita Ruslan. Tiga orang itu terus saja bersaut-sautan dalam Ucapan, namun tidak dengan gadis polos itu.


Sudah berjam-jam waktu yang mereka lalui, tapi tak seorang pun di antara mereka yang mau mengikut sertakannya dalam obrolan.


"Ica masuk kamar duluan ya," ucap Ica sambil menahan tangisannya. Ia sudah tidak tahan lagi, kesabarannya sudah terkuras dengan perlakuan yang di terimanya.

__ADS_1


Tiga pasang mata langsung menatapnya bingung, beberapa detik kemudian gelak tawa terdengar riuh di ruangan itu. Ica terlihat bingung dengan keadaan itu, rasanya ia seperti sedang di permainkan.


"Ngapain masuk kamar?" Tanya Tari sambil menahan tawa.


"Kasian Nak Octa, jauh-jauh kemari tapi malah di tinggal." Ruslan ikut berucap, sedangkan Octa hanya menatap bangga ke arah Ica.


Gadis itu hanya diam sambil menundukkan kepalanya, sebenarnya Ica malu dengan sikapnya yang kekanakan itu. Tapi di sisi lain, ia juga merasa kesal karna di acuhkan.


"Ayok duduk lagi! Ada hal penting yang akan di sampaikan nak Octa." Ucap Tari sambil membawa Ica kembali duduk bersama mereka.


"Beginilah keadaannya, Ica memang suka ngambek nak Octa ...!" Ucap Ruslan mengejek Ica, namun gadis itu masih enggan untuk tersenyum.


"Iya Abi, selain tukang ngambek Ica juga cengeng ...!" Ucap Octa malah ikut menambahi.


"Owalah ..., sudah tau sifat jelek anak gadis Umi?" Tanya Tari seraya tertawa.


Jadi ini hal yang penting itu? Mereka mau menjadikan Ica sebagai bahan olok-olokan. Kuatkan hamba mu ini ya Allah. Ucap Ica dalam hati menanggapi lelucon ke tiga orang itu.

__ADS_1


__ADS_2