Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
BAGIAN 48


__ADS_3

"Huaaaaaa ...," Ica menguap pelan.


Mata indah gadis itu mengerjap, melihat jam dinding yang tergantung kokoh di dinding kamarnya.


"04:45 ... ."


Gadis itu bergegas mengumpulkan kesadarannya, subuh ini dia terlihat sedikit berbeda dari biasanya.


Cahaya wajahnya memancarkan aura kebahagiaan, sangking senangnya Ica sampai bernyayi sepanjang waktu. Bibirnya tertutup hanya saat ia sholat dan selebihnya nyanyian sumbang terus ia dendangkan.


"Ini ... Udah, yang itu juga udah ..., emmm apa lagi ya yang kurang?"


Jari-jari lentiknya terus beredar menunjuk ke arah tumpukan barang-barang yang sudah di kemasnya dari tadi sehabis mandi dan sholat subuh.


Ini pagi terakhirnya di kamar ini, di bulan ini, entah kapan dia akan berkunjung lagi ke rumah ini. Rasanya sulit untuk hanya sekedar berkunjung apa lagi menginap, karna ia pasti sendiri di rumah ini. Tapi semua itu berbeda sekarang, mungkin karna Ica ada yang menemani.


Andoyo Octa Anggara, itu lah nama pemuda yang telah hampir setengah tahun menemani Ica. Pemuda yang sering di panggil Ica dengan sebutan Abang itulah yang selama ini memberikan semangat, selalu mememani, dan jelas dia sudah berhasil membuat nona cantik itu merasa nyaman di dekatinya.


Namun sayang Ica dan Octa belum pernah bertemu sama sekali, mereka sudah sama-sama penasaran sebenarnya dengan wujud asli masing-masing pasangan.


"Ica ..., ayok cepetan turun Om Yuda udah sampe ni!" Suara Nia melengking memanggil Ica.


"Om Yuda udah sampe ...?" Ica terlihat sedikit panik dan langsung keluar meniti satu persatu anak tangga.


"Nahh ... Ini dia Si Biang Kerok!" Canda Yuda pada Ica.


"Enak aja ..., orang tu baru sampe bilang assalamualaikum. Lah ini, udah ngajak ribut!" Ica mendengus kesal memprotes sikap Yuda.


"Iya-iya Oneng ..., assalamualaikum. " ejek Yuda sambil menunjukkan wajah malas.

__ADS_1


"Huuu ..., waalaikum salam." Mata Ica melotot ke arah Yuda, bisa-bisanya dia memberikan sebutan aneh itu pada Ica.


"Ayok ... ayok kita sarapan dulu!" Suara Dian memecah keributan.


Semua orang sudah duduk rapi di tempatnya masing-masing, makanan di meja sudah siap di santap. Sarapan pagi ini berjalan dengan lancar, sampai acara pamitan Ica pun juga lancar aman terkendali.


Sekarang gadis itu sudah duduk di samping Yuda yang sedang asik mrngendara, mata Ica hanya memandang lurus ke depan.


"Ngapain melotot gitu? Jalannya masih sama kok gak ada yang brubah." suara Yuda menegur lamunan Ica.


"Om Yuda gak jelas ihh." Ica bersuara sambil membenarkan posisinya.


Yuda dan Ica memang selalu bertengkar jika sudah bertemu, tapi itulah yang membuat mereka semakin akrab satu sama lain. Mungkin cara membangun chemistry antara ponakan dan oom agak sedikit berbeda dari yang lain, tapi ini berhasil dan dapat di contoh.


Dua jam berlalu mereka belum juga sampai, teriknya cahaya matahari menelusup masuk menembus kaca mobil setiap pengendara. Ica yang sedari tadi larut dalam tidurnya mulai merasa terusik, cahaya hangat itu menyilaukan matanya.


Yuda hanya menatap lucu ke arah ponakannya itu. Sukurin, emang enak di ganggu sama cahaya matahari. Lagian pagi-pagi buta gini udah molor. Batin Yuda dalam hati.


Bukannya bangun, Ica malah kembali tidur. Ternyata yang di lakukannya tadi hanya untuk merubah posisi tidurnya. Yuda yang semakin gemas dengan tingkah polos Ica tiba-tiba terfikirkan ide untuk mengerjai gadis itu.


"Heheheh ... Siap-siap Lo. 1 ... 2 ... 3!" Yuda terseyum smirk ke arah Ica dan dalam hitungan ketiga, tiba-tiba yuda mengerem mendadak tepat di bawah lampu merah.


"Aaaaa ..., astagfirullah jatoh - jatoh!" Suara Ica menggema memcah kebisingan di jalan raya itu.


"Om Yuda ...! Gak mau ... di gitu-in gak lucu!"


Gadis bertubuh mungil itu berteriak histeris karan kaget. Sedangkan Yuda tertawa puas melihat tingkah Ica, dia berhasil membangunkan macan tidur.


Semua mata di luar mobil Ica dan Yuda menatap bingung, mereka mencari-cari sumber pekikan itu. Begitu juga dengan Bima tubuhnya berdesir seketika, setelah ia dengan jelas mendengar suara pekikan yang menggemaskan dari luar mobilnya.

__ADS_1


Dengan cepat Bima membuka kaca jendela mobil, memastikan sumber suara itu. Namun yang di lihat Bima hanya sekumpulan mobil dan suara mesin yang menyala.


"astagfirullah Bima ...! Sebegitu rindukah dirimu padanya sampai kau bisa berhalusinansi senyata ini?" Bima terkekeh pelan sambil merutuki dirinya sendiri.


Ia mengira itu hanya hayalannya saja karna terlalu merindu, padahal sebenarnya itu nyata. Gadis Kesayangan nya memang sedang berada di dekatnya, hanya berjarak 3 meter dari tempatnya.


Lampu merah sudah berubah menjadi hijau, semua kendaraan mulai mempacu kecepatannya kembali. Begitu juga dengan Bima dan Ica, mereka melewati jalan yang sama tapi dengan tujuan yang berbeda.


Setelah 3 jam kemudian, akhirnya Ica sampai di tempat. Umi dan Abi ternyata sudah menunggu kedatangan anak Gadis Kesayangan mereka di depan pintu dengan wajah sumringah.


"Sayang ..., sini peluk Umi!"


Tari merentangkan tangannya mengharapkan balasan pelukan dari Ica. Melihat itu Ica dengan cepat langsung berhamburan ke pelukan hangat Tari.


"Assalamualaikum Umi, Abi...," Ica mengucapkan salam sambil mencium punggung tangan Tari dan Ruslan.


"waalaikum salam, ayok kita masuk ...!" Ruslan berjalan mendahului yang lainnya masuk ke dalam rumah.


Kedatangan gadis itu sangatlah di nanti-nantikan Ruslan dan Tari, itu karna Ica pergi lebih lama di bandingkan rencana awal. Jadi wajar jika Tari begitu merindukan sosok gadis pembawa ceria itu.


Bahkan Tari juga sudah beberapa kali membujuk Ruslan untuk membawa Ica ikut pulang bersama mereka saat ia datang berkunjung, tapi sayang permintaannya itu tidak di penuhi oleh Ica dan Ruslan.


- - - - - oOo - - - - -


Suasana berbeda nampak jelas terlihat di kediaman Bima, suara pintu terbuka dapat di dengar dengan jelas karna keadaan begitu sepi di apartemen mewah milik Bima.


Seperti biasa Bima hanya duduk merebahkan tubuhnya, ia masih teringat akan suara khas gadis itu. Pekikan itu terus melintas di ingatannya, membuat Bima sedikit gusar ia takut nanti menjadi tak fokus dengan pekerjaannya karna terlalu terbawa suasana.


Bima menggeleng pelan sambil berjalan, tenggorokannya kembali kering. Setelah membasahi tenggorokannya, Bima keluar dari apartemennya dan langsung menuju kantor. Tak ada kegiatan lain baginya selain melakukan rutinitas berkutat dengan sejuta data di laptopnya.

__ADS_1


__ADS_2