
"Hallo, assalamualaikum Tante Nia ini Tio!" Tio memberikan salam pada Mama Ica untuk mengawali pembicaraan.
"Iya, waalaikum salam Tio. Ada apa Nak?" Suara lembut dari seberang sana menjawab salam Tio.
"Tio cuma mau kasih kabar ke Tante, kalo Ica lagi sama Tio. Ica mau minta ajarin ngerjain tugas sekolahnya sama Tio, jadi apa boleh kalo Ica minep di sini dulu Tante?" Ucap Tio dengan penuh keyakinan.
Tio sedikit berbohong dengan alasannya itu, ini semua di lakukannya agar Ica bisa leluasa menceritakan masalahnya pada Tio.
"Oooo astagfirullah, itu anak kok gak bilang-bilang! Dari tadi Tante khawatir, Tante telepon ternyata dia gak bawa handphone. Alhamdulillah ternyata dia sama Kamu, jadi sekarang Tante gak khawatir lagi." Nia berbicara panjang lebar menganggapi ucapan Tio.
"Iya maaf Tante gak kasih kabar langsung, soalnya ini baru sampe rumah. Icanya lagi mandi sekarang." Sambung Tio pada wanita itu.
"Ohh iya gak papa, yang penting Tante tau dia di mana dan sama siapa. Tante percayain Ica sama Kamu ya ... Tio." Mama Ica terdengar sangat yakin pada Tio.
"Siap Tante ..., di sini Tio sama Ica juga gak sendiri ada Mbok Inah sama pak Nur kok Tante." Tio kembali menjelaskan keadaannya.
"Iya ..., ehhh Tio Papa sama Mama kamuY belum pulang yaa?" Nia menggati topik pembicaraan.
"Em ... Iya Tante, mereka masih urusin perusahaan di sana jadi masih belum bisa pulang." Jelas Tio.
"Oooo gitu, emmm kapan-kapan bisa dong Tio bantu Tante buat bujuk Papa Tio. Tambah investasi ke perusahaan Tante sama Om." Nia berbicara dengan nada penuh harap.
"Hehehe ... Kita bicarakan itu nanti ya Tante, soalnya ini bukan jam kerja Tio." Pemuda itu berusaha tetap profesional dalam pekerjaan.
"Heheh ... iya deh tapi nanti di sempetin ya Tio, Tante tunggu kabar baiknya. Ya udah Tante tutup ya telepon nya?"
"Iya Tante, assalamualaikum ...!"
"Waalaikum salam Tio ...!"
"Tut ... tuttt ... tut ...!" Suara sambungan telepon terputus.
Nia sudah tau jika Ica sedang bersama Tio, sejak Bima mengabarinya jika Ica kabur bersama pemuda itu. Tapi Mama Ica sebenarnya tidak perduli masalah Ica pergi ke mana, tapi yang di perdulikan oleh Mama Ica adalah dengan siapa anaknya itu pergi.
__ADS_1
Awalnya Nia marah saat tau Ica kabur meninggalkan Bima, tapi saat ia tau Ica sedang bersama Tio muncullah ide baru di kepalanya. Ia mencoba menenangkan Bima yang emosi dengan segala alasannya agar Bima tak lepas dari genggamannya sedangkan rencana barunya bisa tetap berjalan mulus.
Karna selama ini memang uanglah yang terpenting bagi Nia, masalah kehidupan anaknya mau bagaimana tak terlalu jadi fikirannya yang terpenting hidup keluarganya penuh dengan kemewahan.
Bahkan perjodohan Ica dan Bima itu di landasi oleh perjanjiannya dengan Bima dalam rangka urusan Bisnis, Bima membantu memperbesar perusahaan Papa dan Mama Ica dengan Imbalan Ica akan menjadi miliknya.
Sebenarnya hidup Ica sungguh miris, Mamanya rela menggantikan dirinya hanya demi kebahagian duniawi tanpa memikirkan perasaan Ica. Parahnya lagi Papa Ica tidak mengetahui masalah ini, yang ia tau Bima membantunya memang karna tertarik ingin bergabung dengan bisnis di perusahaannya.
------------------------------------------------------------------------------------------
Sedangkan di dalam kamar Ica sudah selesai dari ritual mandinya, pandangan Ica tertuju pada pakaian yang berada tepat di atas tempat tidur Big size berwarna Hitam di dalam kamar Tio.
Ica mendekat dan mencoba mengangkat pakaian itu, ternyata sebuah baju kaos putih lengan pendek dengan sedikit corak di bagian dada di tambah dengan celana pendek selutut.
"Haaa ...? Jadi Ica di suruh pakek bajunya Kak Tio gitu? Tapi ini kok celana punya cewek, punya siapa ya ...?" Ica malah asik berceloteh sendiri di dalam kamar itu sambil meneliti pakaian yang ada di tangannya.
"Tadi aja bilang jangan kayak orang susah, dasar Kak Tio bawel." Tutur gadis itu penuh penekanan.
Ica menuruni anak tangga perlahan sambil melihat seisi ruangan rumah itu, namun mata indahnya belum juga menangkap sosok yang di cari-carinya.
"Non Ica ..., sedang cari apa?" Suara itu berhasil memecah keheningan.
"Ehhh ... Mbok Inah, kaget Ica Mbok. Itu Ica lagi cari Kak Tio ... di mana ya?" Tanya Ica setengah terkejut.
"Ituu Non, sepertinya Tuan Tio sedang mandi Non. Apa Non Ica lapar? Mbok Inah akan masakkan ...!" Tawar wanita tua itu pada Ica dengan lembut dan sopan.
"Emmm ... Gak usah Mbok, tadi Ica sama Kak Tio udah makan." Jawab Ica tak kalah sopan.
"Baiklah, saya permisi dulu Non ...!" Mbok Inah pergi berlalu meninggalkan Ica yang sudah menjawab pertanyaan dengan anggukan.
Ica merebahkan tubuhnya di sofa besar di dalam rumah itu, sungguh tubuhnya sangat lelah hari ini di tambah lagi fikirannya terasa sangat rumit sekali saat ini.
"Ceklek ...!" Tio keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
__ADS_1
Tio sudah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, ia berjalan menuju ruang tamu di rumahnya itu menghampiri Ica karna Tio sudah melihat keberadaan Ica di sana.
"Udah mandinya Tuan Putri ...?" Tanya Tio sambil mengendap-ngendap.
Tio menempatkan tubuh tegapnya di samping kanan Ica sambil menanyakan sesuatu yang membuat Ica yang mendengarnya merasa sedikit geli, melihat Tio akan ikut duduk di sofa itu dengan cepat Ica mengubah posisinya agar lebih nyaman.
"Ihhh apaan sii ... lebay banget de, ehh Kakak dapat celana ini dari mana? Punya pacar kakak ya?" Ica malah bertanya pada Tio sambil mengacungkan jarinya mengejek Tio.
"Enak aja ..., ini jari yaaa ... mintak di gigit!" Ucap Tio sambil membuka mulut.
Tanpa basa-basi Tio langsung mencoba menggigit jari telunjuk Ica, merasa kesakitan Ica mengaduh membuat Tio melepaskan jari gadis kecil itu.
"Aaawwww ... sakit ...! Kaak ...!" Suara Ica melengking karna kesakitan.
"Iii jorok, Kak Tio jahat ... Sakit tau!" Gadia itu memanyunkan bibirnya.
Ica mengusapkan jari telunjuknya di baju Tio untuk menghilang air liur Tio. Sedangkan Tio malah tertawa puas melihat gadis kecil itu cemberut karnanya.
"Itu gak tau punya siapa ..., dapet nemu di kolong meja tadi." Tutur Tio santai.
Bukannya menjawab pertanyaan Ica dengan benar, Tio malah menjawabnya dengan asal. Karna ulahnya itu membuat ica seketika kembali memanyunkan bibirnya, seraya mencubit gemas lengan Tio.
"Ca ...?" Tio memanggil gadis kecil itu, setelah puas melihatnya cemberut.
"Iyaa gimana-gimana ...?" Merasa namanya di serukan oleh Tio dengan cepat Ica menjawab antusias sambil memandang wajah Tio lembut.
"Kakak mau ngomongin tentang yang tadi gak papa yah?" Ucap Tio sambil menatap lekat.
Tio mencoba untuk mengajak Ica membicarakan masalah perjodohannya tadi, karna Tio merasa ini adalah waktu dan tempat yang pas.
"Emm ... Iya kak, gak papa." Jawab Ica cepat.
Mendengar pertanyaan Tio yang meminta izin terlebih dulu hanya untuk menanyakan perjodohannya, membuat hati Ica terenyuh. Dalam hati Ica sangat menyangi Tio, dia pemuda yang begitu lembut. Orang yang selalu memikirkan prasaanya, tak pernah membuatnya menagis kecuali saat mereka berpisah tiga tahun lalu.
__ADS_1