Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 27) Bimbang


__ADS_3

"Cobalah tanyakan pada dirimu sendiri, apakah yang kamu lakukan sekarang ini adalah menolak sesuatu yang akan datang? Hanya karena mempertahankan seseorang yang sebenarnya akan pergi."


__________________________________________________________________________________________


"Emm ... Kak, Kita mau ke mana?" Ica memberanikan diri bertanya pada Bima, namun Bima tetap diam dan nampak acuh.


"Maafin Ica, Kak! Ica ngomong tadi, bukan mau ngingetin Kita dengan Kak Tio. Maaf...!" Terdengar suara Ica sedikit memohon dengan menatap memelas ke arah Bima.


Apa beneran marah ya? Ica takut ..., gimana kalo Dia nanti bawa Ica kabur ...? Ica belum siap ..., Aaaa ...! Ica menggeleng kan kepalanya beberapa kali, ia mencoba menghilangkan fikiran buruk itu dari dalam kepalanya.


"Ayok ikut keluar ...!" Ucap Bima setelah memarkirkan mobilnya di salah satu halaman rumah.


Setelah sekian lama membisu, akhirnya Bima mengucap. Namun masih dengan ekspresi datarnya, tanpa memprotes Ica langsung melaksanakan perintah Bima.


"Assalamualaikum ...," Tutur Bima mengucap salam.


Bima dan Ica sudah berdiri tepat di ambang pintu utama rumah itu. Cukup lama menunggu, akhirnya terlihat seorang wanita tua berumur sekitar 70an tahun. Berjalan perlahan menuju ke arah mereka, sambil mencoba menggunakan kaca matanya.


"Deon ...? Cucu Nenek ...!" Nenek itu langsung memeluk Bima erat, seakan mereka sedang melapas rindu.


"Iya Nek ... ini Deon! Nenek gimana kabarnya sehat, kan?" Bima menanyakan keadaan Nenek yang masih memeluk lengannya mesra.


"Alhamdulillah Nenek sehat terus ...! Kamu kayak gak tau Nenek aja." Nenek itu terlihat sangat bahagia saat berbincang dengan Bima.

__ADS_1


Deon? Nenek? Apa jangan-jangan Kak Bima bawa Ica ke rumah neneknya ya ...? Ucap ica di dalam hati merasa bingung.


Ica terus memengang pinggiran roknya kiri dan kanan, ia sedikit grogi berada di antara dua orang yang sedang asik melepaskan rindu itu.


"Nenek ... Ini kenalin, namanya Ica. Cucu baru buat Nenek ...!" Bima memegang pundak Ica, sambil mencoba mengenal kan Ica pada neneknya itu dengan senyuman bangga.


"Waaaaa ... Cantik sekali! Sama kayak Nenek waktu muda." Nenek Bima menjawab dengan sedikit narsis.


"Assalamualaikum Nek," Ica mencium tangan Nenek sambil mengucapkan salam, tanda sopan santunnya.


"Iya ... waalaikum salam Sayang ..., Nenek mau panggil Ayu aja. Mau, kan?" Nenek tiba-tiba mengganti nama Ica dengan sebutan Ayu, nama itu membuat Bima dan Ica bingung.


"Iyaaa, Nenek panggilnya Ayu aja, mau ya? Biar sama kayak nama tengahnya nenek dan Deon nama panggilannya sama kayak nama kakek." Nenek menjelaskan alasannya dengan cepat.


Ica mengangguk tanda seju, sekarang ica juga faham kenapa bisa Bima di panggil Deon.


Tak terasa sudah berapa jam mereka lalui, dengan obrolan - obrolan lucu antara cucu dan nenek. Sedangkan Ica juga sudah berganti pakaian, ia menggunakan baju lama nenek saat nenek masih gadis dulu.


Nenek sudah masuk kedalam kamarnya untuk istirahat, sedangkan Ica tengah asik duduk sendirian di kursi panjang sambil memandangi hijaunya tanaman yang ada di belakang rumah nenek.


"Jadi gimana dengan Tio?" Tiba-tiba suara berat, terdengar jelas dari arah belakang Ica.


"Aaaaa ... Astagfirullah!" Ica berteriak kaget, namun jantung nya kembali normal saat matanya melihat sosok Bima yang sedang bejalan mendekatinya.

__ADS_1


"Jadi gimana sama Tio?" Bima mengulang pertanyaannya, sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk di samping Ica.


"Yahhh ... Gitu lah ka. Ica aja bingung kenapa Kak Tio pergi ninggalin Ica tanpa kasih tau Ica dulu!" Ica menunduk tak brani bercerita sambil menatap Bima, ia takut kalau-kalau nanti Bima tiba-tiba mengamuk.


"Masalah prasaanmu sekarang, itu adalah hak Kamu. Buat nempatinnya di mana? Itu juga haknya Ica." Bima mulai membuka suara.


"Sedangkan tugas Kakak, sebagai orang yang juga sayang sama Kamu cuma bisa usaha dan doa untuk kebaikan Kita." Lanjut Bima dengan ucapannya tadi.


Bima sangat bijak menanggapi curhatan Ica, padahal Ica sudah di jodohkan dengannya. Tapi Bima masih saja memikirkan prasaan Ica, Bima melakukan ini agar Ica bisa mencintainya dengan tulus tanpa paksaan seperti kemarin.


"Tapi Kak? Bukan maksud Ica nggak ngehargai Kakak. Hanya saja Ica butuh waktu ..., untuk bikin hati Ica kembali tenang." Jawab Ica pelan.


"Sekarang, Ica gak nutup kemungkinan buat Ica suka sama Kakak." Ica mengutarakan keinginan dan memberikan sedikit kabar baik untuk Bima.


"Kakak cuma mau Kamu fikirin satu hal Ca! Cobalah tanyakan sama diri Kamu sendiri." Ucapan Bima terhenti sejenak, ia butuh sedikit oksigen.


"Kamu nolak kehadiran seseorang, hanya demi mempertahankan seseorang yang sebenarnya telah pergi. Apa itu nggak bikin kamu nyesel nanti?" Lanjut Bima, sambil menatap mata Ica dalam.


Bima kembali mengeluarkan unek-unek plus wejangan untuk Ica. Sedangkan Ica terdiam mendengar kalimat Bima tadi, ia mencoba mencerna perkataan Bima itu.


"Maafin Ica Kak ...!" Ica kembali bersuara.


Lagi-lagi gadis itu meminta maaf, sebenarnya Bima sangat tidak suka mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Ica.

__ADS_1


"Kebiasaan yaa ..., ini tu gak ada yang salah. Namanya prasaan, siapa yang bisa nentuin dia mau sama siapa. Jadi kita jalani aja, sebagai mana jadinya nanti." Bima langsung menjawab Ucapan gadis itu.


"Yuk Kita pamitan sama nenek! Udah sore Kita mau pulang." Belum sempat Ica menjawab, Bima telah melanjutkan ucapannya.


__ADS_2