Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 33)


__ADS_3

"Alasannya bukan karna aku takut untuk mencoba mencintai lagi, hanya saja aku masih trauma akan rasa sakit itu."


__________________________________________________________________________________________


-Satu bulan kemudian-


Ica sudah benar-benar lulus dari sekolahnya, alhamdulillah ia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Bima dan keluarganya tentu sangat bangga padanya, sementara itu rencana pernikahan mereka juga sudah hampir 70% selesai di urus.


Dan pernikahan mereka akan di gelar bulan depan, Ica sangat bersemangat menguruskan keperluan pernikahannya itu. Dian, Papa Ica sudah tahu dan tidak keberatan dengan pernikahan Bima dan Ica.


"Maaf Tuan, sepertinya kita harus mempercepat keberangkatan Tuan ke Indonesia. Karna pernikahan Nona Ica akan di laksanakan bulan depan, saya khawatir jika Tuan tidak bergegas rencana kita akan gagal!"


Max sedang memberikan informasi terbaru tentang Ica pada Tio.


"Apa ..., bulan depan? Bukan kah kemarin Kau bilang mereka akan menikah tahun depan Max! " Tio meningggikan suaranya, ia syok mendengar penuturan Max.


"Maaf Tuan, Saya dengar ini semua atas permintaan Nona Ica sendiri." Max kembali menjelaskan.


"Biaklah, atur jadwal keberatan Ku besok! Kita tidak akan menunda apapun lagi!"


Tio mengepalkan tangannya setelah memutuskan sambungan telepon, rasanya ia tak habis fikir apakah sebegitu cintanya Ica kepada Bima sampai mau mempercepat pernikahan.


"Tunggu pembalasan Ku, Bima! Jika Aku tidak bisa memiliki Ica, maka tidak seorang pun yang akan bisa mendapatkannya juga."


Tiba-tiba Tio terkekeh pelan, ia menyunggingkan senyum smirk entah apa rencana yang telah ia buat.


Tio terlihat kembali menghubungi seseorang dengan ponsel yang di pegang nya itu, tapi ekspresi wajahnya kali ini terlihat datar dan biasa saja tidak ada tanda-tanda seperti orang sedang emosi.

__ADS_1


"Hallo sayang , ada yang ingin Ku bicarakan. Temui Aku di kantor sekarang, Ku tunggu babay sayang." Tio menelpon Issabel.


Tak lama dari Tio memutuskan sambungan teleponnya, Issabel sudah datang dan langsung masuk menuju ruangan Tio tanpa meminta izin terlebih dahulu. Karna memang semua karyawan yang ada di kantor ini, ataupun orang-orang di luaran sana yang mengenal Issabel pasti takut dengannya .


Sifatnya yang sangar, judes di tambah lagi Issabel bukan lah gadis yang pemaaf, jadi siapapun yang membuatnya kesal akan langsung terancam keselamatannya. Terlebih lagi dia termasuk pemegang saham terbesar di kantor ini, jadi Issabel punya hak atas pemecatan karyawan.


"Hay .... Sayang."


Issabel masuk dan menyapa Tio yang masih berdiri menatap keluar kaca besar yang menyugukan pemandangan kota yang indah.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba meminta Ku kemari. Sebegitu merindukankah Aku sampai-sampai Kau meminta Ku kemari?" Issabel mencoba memeluk Tio dati belakang.


Tapi belum sempat tangan mulusnya melingkar di tubuh six pack pria pujaannya itu, Tio sudah membalikkan badan dan berjalan menuju tempat duduk yang ada di belakang mereka.


Merasa perlakuannya di tolak oleh Tio, membuat Issabel menghentakkan kakinya kesal dan berjalan mengikuti Tio dari belakang.


Tio membuka suara dengan ekspresi datarnya. Seketika membuat Issabel terkejut dan memegang lengan Tio kencang, dengan wajah cemberut meminta penjelasan.


"Aku ada urusan pekerjaan di sana Sayang, ini hanya beberapa bulan saja. Setelah itu Aku akan kembali." Tio mengeluarkan alasan bohong pada Issabel, Agar Issabel tidak marah padanya.


"Tapi Sayang, Aku mau ikut saja sekalian Kita liburan. Ide bagus bukan? Jadi kita bisa berkerja sambil liburan Sayang." Issabel terlihat sangat bersemangat setelah mendengar penjelasan Tio.


"Emm ... Gini aja, masalah liburan Kita urusin setalah urusan perkerjaannya selesai. Karna Aku tidak mau waktu berkualitasku di campur adukkan dengan perkerjaan Sayang." Ucap Tio beralasan.


"Lagi pula, siapa yang akan mengurus kantor Kita jika Kau juga ikut? Setelah pekerjaanku selesai di sana baru Kita liburan ya." Tio mencoba membujuk Issabel agar gadis itu tidak mengikutinya.


"Kamu memang gadis yang baik Sayang, Aku sangat bangga memilikimu." Tio memeluk tubuh Issabel erat.

__ADS_1


Sesekali Tio mencium leher jenjang Issabel dan perlakuan nakal Tio ternyata di sambut baik oleh Issabel. Sedangkan Tio yang merasa mendapat lampu hijau terus melancar kan aksinya, Issabel terus menikmati tiap sentuhan Tio di setiap inci tubuhnya.


Sampai tanpa sadar mereka telah melakukan hal yang seharusnya belum saatnya mereka lalukan, mereka berdua larut dalam keterlenaan.


-Satu minggu berlalu-


"Ihhh ini orang ngeselin banget, udah di tolak pakek cara halus masih aja dateng terus. Apa perlu pakek cara kasar? Biar dia faham kalo Ica bener-bener gak mau." Ica menggerutu kesal di dalam kamar mandi.


Karna sudah beberapa hari trakhir ini, dia merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Tio di hidupnya yang tiba-tiba datang lagi.


Beberapa hari terakhir ini Tio selalu mencoba menghubungi Ica melalui handphone, berkali-kali Tio mencoba menghubungi Ica dan berkali-kali juga Ica menolak Tio.


"Kak ..., Ica ganti nomer telepon aja ya?"


Ica sedikit memohon pada Bima agar ia di izin kan untuk mengganti nomer teleponnya.


"Loh kenapa gitu Sayang? Emang nomer yang ini kenapa?"


Bima menjawab pertanyaan Ica sambil terus memperhatikan monitor laptopnya, karna Bima sedang mengurus sisa-sisa persiapan pernikahan mereka yang belum selesai.


"Yaaaa ..., Eemm gak Apa-apa sih. Cuma pengen ganti aja."


Ica sedikit kikuk menjawab pertanyaan Bima dan bahkan Dia juga tidak bisa memberikan alasan yang pasti pada Bima.


"Gak usah dulu di ganti kalo cuma karna pengen, semua orang yang bantuin urusin pernikahan Kita taunya nomer Kamu sayang. Kalo kamu ganti nanti jadinya ribet, sabar dulu ya ...!"


Bima mencoba menjelaskan alasannya tidak mengizin kan Ica untuk mengganti nomer telepon, sambil mengelus pelan pucuk kepala Ica.

__ADS_1


Ica hanya mengangguk pelan menanggapi penjelasan Bima, ia juga merasa kondisi seperti sekarang ini sangat tidak memungkinkan jika menggati nomer ponselnya.


__ADS_2