
"Luka paling besar ada kalanya datang dari orang yang paling kita sayang."
__________________________________________________________________________________________
"Tidak ...! Ini belum terlambat, Aku masih bisa mendapatkan Ica ku kembali." Ucap Tio keras.
Tio kembali berdiam diri duduk di kursinya sambil berfikir keras, tangan kekarnya masih setia menyangga dagu.
"Selagi Ica belum sah menjadi istrinya, Si Brengsek itu tidak ada hak apapun atas Ica." Tio berkata sambil memgerutkan keningnya.
"Akan Aku lakukan apapun agar Ica bisa kembali ke pelukanku, Aku tak rela jika ia hidup bersama Si Brengsek itu." Ucap Tio sambil mengepalkan tangannya.
Tio langsung menelpon Max saat itu juga, sepertinya ada sesuatu yang sedang di rencanakan Tio.
"Max tolong kirim kan Data yang waktu itu saya tolak, sekarang!" Tio terdengar begitu tegas, entah berkas apa yang di maksud Tio.
Sedangkan Max mendapatkan perintah dari Bosnya dengan cepat langsung mengirimkannya pada Tio, karna Max tau Tio bukan lah orang yang bisa menunggu.
"Baiklah, mari kita lihat ...!" Ucap Tio sambil memeriksa Data yang dikirin Max padanya dengan antusias dan bersemangat.
Tio masih terlihat fokus sekali dengan pandangan lurus pada laptop di depannya, sampai-sampai ada seseorang datang mendekati Tio dengan nada sedikit kesal karna merasa di cueki oleh Tio.
"Sayang ...? Ihhh jahat dehh, aku panggil dari tadi gak di jawab ...!" Suara itu terdengar merengek manja pada Tio.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Tio yang masih fokus dengan laptopnya itu. Dengan cepat Tio menutup laptopnya, karna matanya sudah menangkap sesosok itu sudah mulai mendekat.
__ADS_1
"Aduhhhh maaf, tadi lagi fokus banget. Kerjaan Aku numpuk banget sayang." Tio mengeluarkan kata-kata alasannya.
Gadis itu sekarang sudah bergelayutan di pundak Tio, tapi matanya masih menatap lekat laptop Tio karna ia sedikit curiga dengan apa yang di lakukan Tio di depannya tadi.
"Kita gak bisa dinner dulu ya malam ini, akuY lagi banyak banget kerjaan. Semua harus di selesai in hari ini ...!" Tio membatalkan janjinya dengan Issabel, mendengar itu membuat Issabel sedikit menggerutu kesal.
"Kan, gitu ...! Padahal hari ini Kita mau rayain Aniv Kita yang ke 2 tahun lo." Gadis itu berucap kesal.
Issabel dan Tio memang sudah berpacaran hampir dua tahun, Issabel adalah seorang gadis bertubuh tinggi semampai dan memliki lekuk tubuh bak model ia begitu mempesona di mata para lelaki. Umurnya dan Tio memiliki selisih 1 tahun lebih tua dari Tio, namun umur bukan halangan bagi mreka.
Entah kenapa Di satu sisi Tio memberi harapan pada Ica dan sisi lain ia berenang-senang dengan pacarnya. Issabel juga sama seperti Tio mereka memiliki darah campuran Belanda, yang membedakan hanya jika Tio mendapatkan itu dari Sang Ayah sedang kan Issabel mendapatkan darah Belanda dari Sang Mama.
Sekarang Issabel sudah berlalu pergi dengan wajah ceria, karna Tio memberikan Isabel hadiah berupa kebebasan belanja apapun yang diinginkannya untuk mengganti ajakan makan malam yang di tunda Tio tadi.
-23:07-
Suara ponsel Ica bergetar di atas nakas tepat di samping Ica tidur,Merasa terganggu dengan suara getaran ponselnya Ica langsung mengangkat telepon itu tanpa memperhatikan siapa yang menelponnya.
Kak Bima gak pernah telepon Ica semalem ini, ada apa ya ...? Batin Ica seraya menempelkan handphone itu di telinganya.
"Hallo, assalamualaikum ...?"
Ica menyapa si penelpon terlebih dahulu, karna Ica tidak mendengar suara apapun yang keluar dari sebrang sana.
Sedangkan di sisi lain, seorang pria sedang berdiri dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan setelah ia mendengar satu kalimat dari seorang gadis yang tengah di telponnya.
__ADS_1
"Haloo ..., ini siapa ya ...?"
Ica kembali mencoba mengajak seseorang itu bicara. Mata gadis itu seketika terbelalak, setelah melihat nomer yang menelponnya bukan Bima. Ica langsung turun dari tempat tidur dan berdiri di samping nakas.
"Apa kabar bawel ...?" Akhirnya terdengar lah suara yang sedari tadi di tunggu Ica.
setelah mendengar suara dari sebrang telepon, tiba-tiba tubuh Ica langsung bergetar hebat. Ponsel yang di pegangnya seketika terjatuh, jantungnya berdegup sangat kencang. Tak terasa air matanya meluncur dengan bebas tanpa menunggu printah darinya.
"Gak ..., ini gak mungkin! Ini gak mungkin ...! Aaaa ...!" Gadis itu terus menggelengkan kepalanya.
Tubuh Ica meluruh di samping tempat tidur, kakinya seperti tak bertulang sungguh lemas. Ia menagis menahan rasa tidak percaya, sedangkan sambungan telepon masih terus berjalan.
Tio adalah si penelpon Itu, ia memberanikan diri untuk menelpon Ica setelah sekian lama tak memberikan kabar. Tubuh Tio juga ikut meluruh di lantai, ia mendengar tangisan Ica dari sambungan telepon itu.
Ica mencoba mengambil ponselnya yang juga tergeletak di samping tubuhnya, ia mencoba menguatkan jiwa dan raganya untuk berbicara dengan orang itu.
"Ba-baik, a-ada ... apa kak ...?"
Ica mencoba berbicara walau masih dengan tangisan dan terdengar suaranya sedikit gemetaran.
"Maaf Ca, Kakak Minta maaf ...!"
Suara Tio kembali terdengar dari balik telpon, membuat air mata Ica kembali menetes deras.
"Udah yang dulu, biar lah berlalu. Ica udah gak marah hiks ..., Ica tau semua orang pasti punya alasan." Dengan tegar Ica mulai menanggapi Tio.
__ADS_1
"Apapun itu alasannya, pasti itu yang terbaik di antara Kita, kan." Ica terdengar sesegukan menanggapi permintaan maaf Tio.