
"Aku mengerti bahwa bahagiamu bukan denganku, niscaya semua luka kan sembuh bersama waktu."
__________________________________________________________________________________________
Renal sekarang sudah berada di rumah Ica sejak beberapa waktu lalu. Namun sepertinya Renal tidak melihat kehadiran Bima di rumah itu, karna memang Bima sudah pergi sesaat setelah Ia memastikan Renal sudah menemukan Ica.
"Ada apa Dek? Kenapa kamu sampek nangis gini?" Renal duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan tempat Ica duduk sekarang ini.
"Hiks ... hiks ... hiks, Ica gak mau nikah Mas!" Ica berbicara sambil terus menundukkan kepalanya.
"Kenapa tiba-tiba bilang gitu? Pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi Dek." Renal menanggapi dengan tenang ucapan Ica.
"Kak Bima jahat Mas ...! Hiks ... hiks ... hiks," ucap Ica lirih. Renal mengernyitkan dahinya setelah mendengar penuturan Ica tentang Bima.
"Jahat kenapa? Namanya aja pernikahan pasti ada ujiannya to, Kamu harus kuat!" Ucap Renal mencoba menyemangati Ica, padahal dalam hatinya terbesit fikiran buruk yang terjadi pada Ica.
"Gak bisa Mas! Ica gak mau lagi ...," Ica mendongakkan wajahnya menatap penuh harap pada Renal.
"Apa Bima melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan pada mu Dek?" Renal memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan itu pada Ica, entah kenapa nalurinya sebagai laki-laki mengarah pada hal buruk itu.
"i-iya ... Mas, hiks ... hiks ... hiks." Ica menjawab dengan terbata-bata. Tangisan Ica pecah, setelah akhirnya Renal memberinya pertanyaan yang memang sedari tadi sudah di tunggu-tunggunya.
Renal langsung memeluk tubuh Ica, fikirannya berkecamuk tangannya mengepal kuat. Sekarang yang ada di fikirannya hanya Bima, ia begitu murka terhadap laki-laki itu.
"Apa om Dian dan tante Nia tau?" Renal kembali bertanya, sambil di dalam hatinya Ia merasa ikut bersalah pada adik perempuan satu-satunya ini.
"Enggak ada yang tau, Ica baru ceritain ini sama Mas." Ucap Ica sambil menenggelamkan wajahnya di pelukan Renal.
__ADS_1
"Mas Renal ..., Ica takut Mas! Ica berdosa Mas ...," Ica kembali merengek sedih di pelukan Renal.
"Kita manusia biasa Dek, tidak mengetahui seberapa besar dosa yang telah kita perbuat." Renal merasa sedikit bingung, jawaban apa yang pas untuk penuturan Ica barusan.
"Ya sudah, sekarang kamu tenangin diri Kamu. Mas mau urusin sesuatu dulu!" Renal beranjak pergi meninggalkan Ica di dalam kamar Ica, agar gadis itu dapat istirahat dan menenangkan dirinya.
Renal langsung menghubungi Dian dan pihak-pihak lainnya yang bersangkutan, ini semua di lakukan Renal agar masalah yang sedang di hadapi dapat dengan cepat terselesaikan.
Mendengar penjelasan Renal seketika membuat Dian dan Nia syok, mereka sangat tidak menyangka Bima tega melakukan itu pada anak gadis Kesayangan mereka.
Dian langsung berangkat pulang menuju kediamannya, yang ada di fikirannya saat ini ia hanya ingin cepat-cepat pulang untuk memeluk Ica dan meminta maaf.
Begitu juga dengan Nia, sekarang ia sangat merasa bersalah dan terpukul mendengar Ica di perlakukan tidak baik. Ia sangat menyesal, selama di perjalanan ia tidak berhenti menangis karna ia tau ini semua tidak akan terjadi apabila sejak awal perjodohan ini tidak di lakukan.
- Tiga jam kemudian -
"Mana anakku ...? Di mana dia?!" Dian bertanya pada Renal dengan gelagapan, sambil matanya terus beredar melihat keadaan seluruh ruangan.
"Adek lagi di dalam kamar nya Om." Renal dengan cepat menjawab.
Dian langsung berlari kencang, kakinya meniti anak tangga menuju kamar Ica dengan tergesa-gesa di susul oleh Nia dan Renal di belakangnya.
"BRAKKKKK ...!"
Pintu kamar Ica seketika terbuka setelah Dian mendorong nya kuat, suara berisik yang di timbulkan oleh tubrukan antara pintu dan dinding kamar membuat penghuninya langsung terbangun dari ketenangan.
"Papah ...?" Mata Ica membulat sempurna, sambil berucap keheranan.
__ADS_1
Dian berjalan gontai menghampiri Ica yang masih dalam posisi setengah selonjor di atas tempat tidur. Pria yang selalu di panggil Ica dengan sebutan Papa itu, langsung merengkuh tubuh mungil Ica kedalam rentangan tangan kekarnya.
"Maafin Papa Sayang," hanya itu yang terucap dari Bibir Dian, tak ada kata lain menurutnya yang dapat mewakilkan rasa bersalahnya pada anak semata wayangnya ini.
Ica diam membisu, baru kali ini ia merasakan di peluk oleh seorang ayah. Sedari Ica kecil, Dian memang jarang sekali mempunyai waktu untuk Ica. Alhasil itu membuat kedekatan antara anak dan ayah tidak terjalin dengan baik dan terjadilah kecanggungan antara mereka.
Suasana kembali menjadi haru biru, semua orang di dalam ruangan itu menangis kecuali Ica.
"Pah ... Maafin Ica! Ica malah bikin masalah, bikin Papa sama Mama malu. Ica gak bisa jaga kepercayaan Papa." Gadis itu mengutarakan prasaannya sambil tertunduk malu.
Dian semakin menguatkan pelukannya, Bagaimana bisa Kau malah memperdulikan prasaan orang lain di bandingkan dirimu sendiri, Nak! Ucap Dian dalam hati.
"Papa sama Mama sayang sama Kamu, ini semua terjadi bukan karna kemauan Kamu. Kita akan balas laki-laki brengsek itu sesuai dengan apa yang di lakukannya terhadap Kamu sayang!" Dian merenggangkan pelukannya pada Ica, rahangnya terlihat mengeras menandakan Dian sedang menahan emosi yang meluap-luap.
"Maksudnya Papa? " Ica menatap bingung ke arah Dian dan lainnya.
"Papa mau tuntut dia dan mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas kelakuan kurang ajarnya itu. Dia harus menikahi kamu!" Mata Ica seketika membulat sempurna mendengar kata pernikahan.
"Pah ... Ica mohon, Ica gak mau nikah sama dia!" Ica merengek pada Dian, memohon agar pernikahan ini tidak terjadi.
Tapi sepertinya Dian tetap bersikeras untuk melanjutkan pernikahan itu, ia tidak mau anaknya sampai tidak mendapatkan pertanggung jawaban.
Ica yang mengetahui itu langsung memohon pada Renal, agar membantu Ica berbicara pada Papanya untuk menyetujui pembatalan pernikahannya.
"Mas Ica mohon! Ica gak mau lagi ketemu dia. Apalagi mau jadi istrinya." Ica terus membujuk Renal.
sedangkan Nia sedari tadi hanya bisa diam. Karna memang keberadaannya di situ seperti tidak di anggap, semua orang sudah mengetahui ini semua berawal dari ulahnya. Dian pun tak habis fikir, ternyata anak gadisnya memang sudah sering di jodoh-jodohkan tanpa sepengetahuan nya.
__ADS_1