
"Wahh ..., udaranya mulai kerasa sejuk ya Bang?" Ucap gadis itu sambil memeluk erat pinggang Octa.
Tak ada jawaban dari pemuda yang sedang fokus berkendara itu, hanya lengkungan manis yang terukir. Merasa di cueki, gadis itu kembali bersuara dengan mengulang ucapannya yang sama.
"Udaranya mulai kerasa sejuk ya Bang?!" Ucap Ica di dari balik helm Octa dengan sedikit berteriak.
"Woy... Neng! Abang denger Sayang ...," ucap Octa seraya sebelah tangannya langsung menggenggam tangan Ica yang sedari tadi melingkar di tubuhnya.
"Yaa habis, Abangnya kayak gak denger!" Ucap Ica manja dan itu berhasil membuat Octa terkekeh pelan karna sikap Ica yang menggemaskan itu.
"Abang denger tau ...!" Tutur Octa sambil memgelus lembut tangan Ica, mereka berdua malah terlihat asik bermesraan di atas motor.
Sedangkan Bima yang memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi semakin meradang di buatnya. Ilmu sabarnya hari ini benar-benar harus di terapkan dengan baik, agar semua bisa berjalan dengan lancar.
Setelah beberapa menit mengendarai motor memasuki areal Danau, akhirnya sampailah sepasang insan itu di tempat memarkirkan motor dan di mulailah Perjalanan mereka.
Begitu juga dengan Bima yang sedari tadi masih setia mengikuti jejak dua insyan itu, ini semua di lakukannya demi seorang gadis yang bahkan tak mengetahui kehadirannya di sana.
"Abang liahat deh! Di sana, Cantik yaa?" Ucap Ica penuh semangat sambil menunjuk hamparan air di hadapan mereka.
"Iya, cantik sekali." Ucap Octa yang malah menatap wajah ceria gadis di sampingnya itu.
"Ihh, Abang ...! Ica serius tau." Ica berkata dengan wajah yang merona karna malu mendapatkan pujian dari pujaan hatinya itu.
__ADS_1
"Cie ..., tutupin tu hidungnya yang merah merona!" Tutur Octa menggoda gadis di hadapannya, Ica yang mendengar ucapan Octa yang sedikit nyeleneh langsung tertawa geli.
"Dasar gak jelas!" Ucap Ica lalu memanyunkan bibirnya.
"Tapi sayang, kan?" Octa berkata seraya menatap lembut gadis itu sambil menanik-naikkan sebelah alis tebalnya.
"Iya ..., Ica sayang Abang." Jawab Ica malu-malu.
"Astagfirullah ...! Ihh gak malu bilang sayang duluan." Ucap Octa sambil menggelengkan kepalanya berlagak tak percaya, padahal di dalam hati sangat bahagia.
"Abang dari tadi ledekin Ica terus!" Ucap Ica seraya memalingkan wajah malunya. " Ayok! Kita cari tempat duduk bang ...," ucap Ica melanjutkan ucapannya sambil melangkah pergi mencari kursi yang tersedia di sekitar Danau.
"Om ... Om ...! Ngapain sembunyi sambil jongkok di situ?" Tanya seorang anak laki-laki pada pria dewasa yang sedari tadi asik mengendap-ngendap.
"Om lagi main petak umpet yaa ...?" Tanya anak itu sambil menunjukkan ekspresi bahagianya.
Tak ada jawaban dari Bima atas ucapan anak kecil itu, ia hanya menunjukkan ekspresi datar. Setelah itu ia kembali melihat target intaiannya, namun sepasang manusia itu sudah raib dari posisi awal mereka.
"HAAAAAA! HILANG ...!" Ucap Bima berteriak kaget, dan berhasil mebuat anak kecil tadi ikut menjerit kaget karna ulah Bima.
"AAAAAAAA ...!" Teriak anak itu berbarengan dengan Bima.
"Heh ... Bocil! Ngapain ikut teriak?" Tutur Bima menahan rasa kesalnya, Bima memang paling tidak suka dengan yang namanya mahluk kecil yang sering di sebut Bayi , Balita, dan sejenisnya.
__ADS_1
"Om sendiri kenapa teriak-teriak?" Anak itu malah mengembalikan pertanyaan Bima, dengan menunjukkan wajah polosnya.
"TERSERAH ...!" Tutur Bima menjawab dengan nada tinggi sambil berlalu pergi, ia tak ingin melanjutkan perdebatannya dengan anak kecil itu.
"Ihh galak banget, nanti gak dapet jodoh lo Om!" Ucap anak laki-laki itu mengejek Bima dengan sedikit berteriak.
Bima yang mendengar ucapan yang menohok yang di tujukan untuknya, langsung dengan cepat memutar balikan badannya lalu menatap tajam penuh amarah pada anak kecil itu.
"MAMA ...!" Teriak anak itu sambil berlari pergi karna takut melihat Bima.
"Gitu aja takut!" Ucap Bima mengejek, "Duhh ... Pergi kemana Ica sama orang itu?" Ucap Bima melanjutkan ucapannya dengan mata yang terus beredar meneliti setiap tempat yang ada di situ.
"Drettt ... drettt ... drettt!" suara getaran yang berasal dari handphone Bima.
"Ya, ada apa?" Ucap Bima setelah mengangkat panggilan telepon itu.
"Apa tidak bisa di tunda dulu?!" lanjut Bima dengan nada sedikit meninggi.
"Humz ..., baiklah tunggu Saya di sana!" Ucap Bima lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Lain kali, Aku yakin pasti akan Ada kesempatan untuk kita bersama sayang!" Ucap Bima percaya diri, dengan tatapan fokus menatap langit biru setelah selesai dengan obrolannya di telpon tadi.
Entah kenapa Bima langsung berlari menuju mobilnya dan meninggalkan area danau secepat kilat, sepertinya ada informasi penting yang di dapatnya sehingga ia harus rela meninggalkan rencana besarnya.
__ADS_1