Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 9)


__ADS_3

-Suasana tenang di dalam kelas-


"Selamat pagi anak-anak ...!" Sapa guru di dalam kelas itu.


"Selamat pagi pak ...!"


Suara riuh anak-anak menjawab sapaan dari guru yang masuk, untuk mengajar pagi ini di kelas Ica.


Sedangkan Ica, sudah duduk manis di salah satu kursi yang ada di dalam kelas itu. Di samping Ica sudah ada Dewi, teman sebangku plus sahabat Ica sedari kecil.


Bukan hanya sekedar seorang sahabat, Ica bahkan sudah menganggap Dewi seperti kakaknya sendiri. Kedua orang tua mereka juga sangat dekat, Ica sangatlah menyayangi Dewi. Terlebih Ica tidak memiliki saudara, jadi Dewi adalah salah satu sosok penting di hidup Ica.


Walaupun mereka sudah bersahabat lama, Ica dan Dewi memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Tapi walau berbeda mereka tetap sama-sama cantik, Dewi adalah seorang gadis dengan prawakan badan yang jauh lebih tinggi di bandingkan Ica.


Satu hal lagi yang sangat membuat mereka berdua terlihat berbeda, hijab yang di kenakan Dewi. Yahh ... sejauh ini memang Ica belom tergerak untuk memakai hijab, sudah banyak yang menyarankannya untuk berhijab.


Namun menurut Ica, ia berhijab karna hatinya bukan karna paksaan atau sekedar mengikuti tren. Walau sebenarnya Ica tau, berhijab adalah salah satu kewajibannya.


"Ehhh ... Ca? Cerita dong ... kenapa Lo tadi pagi lari-lari gak jelas gitu?" Dewi mengajak ica mengobrol di tengah jam pelajaran.


Di saat guru sedang menjelaskan Dewi malah asik menatap Ica, sepertinya Dewi lebih penasaran dengan urusan Ica di bandingkan dengan pelajaran sekolahnya.


Sungguh ratu kepo si Dewi ini๐Ÿ˜Œ.


"Kan, udah Ica bilang ..., di kejar sama Kang Cilok." Jawab Ica bisik-bisik.

__ADS_1


"Ahhhh ... gak seru nih, main rahasia-rahasiaan gitu ...!"


Dewi mendengus kesal sambil membalikkan badannya menghadap lurus kedepan melihat guru yang sedang menjelaskan, melihat sahabatnya cemberut Ica terkekeh kecil.


"Udah ... ahhh, perhatiin itu guru lagi jelasin. Nanti di suruh ngerjain tugas bingung. Ujungnya ngemis-ngemis ahaha ...," Ica tertawa kecil mengejek Dewi yang sedang manyun karna merasa tingkah Ica sangat menjengkelkan.


Lama mereka belajar di kelas, akhirnya bel istirahat berbunyi membuat semua anak bersorak dan mulai berhamburan keluar kelas. Begitupun dengan Ica dan Dewi mereka langsung melesat menuju kantin sekolah, untuk mengisi perut mereka yang sudah melakukan konser sedari tadi.


Setelah berjam-jam berada di sekolah, berkutat dengan pelajaran membuat Ica merasa sangat lelah hari ini. Bel pulang sudah berbunyi dari 10 menit yang lalu, namun Ica masih enggan keluar dari ruang kelasnya. Dewi yang masih setia menunggu sahabatnya itu, sedikit merasa heran dengan tingkah aneh Ica.


"Ca ... Ayok pulang! Ngapain masih duduk di situ aneh banget. Apa jangan-jangan Lo kesambet ya ...?" Tanya Dewi bingung.


Dewi mencoba menggoyangkan tangan Ica khwatir, karna melihat ekspresi khawatir sahabatnya itu Ica malah tertawa lepas. Alhasil itu berhasil membuat Dewi kaget dan langsung reflexs berlari meninggalkan Ica.


"Huuuuh ... untung aja Dewi sudah minggat sendiri tanpa aku minta, jadi aku gak perlu repot-repot cari alasan buat usir dia." Ucap Ica pelan sambil membuang nafas.


Ica bersyukur Dewi sudah pergi sendiri tanpa di minta, sebenarnya tadi pagi terlitas di fikirannya untuk menceritakan masalah perjodohannya ini dengan Dewi. Namun fikiran itu cepat-cepat di hilangkannya, karna Ica tidak mau menambahi fikiran Dewi dengan masalahnya jika Ica cerita Dewi pasti akan khawatir.


Ica juga sempat berfikiran untuk kabur tidak pulang bersama Bima siang ini, namun ide itu hanya akan sia-sia. Karna pasti sampai di rumah nanti, dia akan di omeli Mamanya.


Ica menarik nafas panjang sambil berdiri dari tampat duduknya, tangannya mengepal kuat.


Semangat Ica, kamu pasti bisa ...! Anggap saja dia supir pribadi Kamu, Ica ... gadis yang kuat. Semangat ...! โœŠ


Ica mencoba menyemangati dirinya sendiri di dalam hati, dengan keberanian yang sudah di kumpulkannya Ica berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Belom sampai di luar, mata Ica sudah menangkap sesosok yang paling ingin ia hindari saat ini.

__ADS_1


Ternyata Bima sudah bediri di samping mobilnya, terlihat Bima sedang celingukan seperti mencari-cari sesuatu. Ica mengerutkan keningnya menandakan bahwa dirinya sedang merasa heran, Ica bertanya-tanya dalam hati.


Sedang mencari apa Om Bima sampai terlihat seperti bingung sekali ...! Ucap Ica dalam hati.


"Astagfirullah ..., kenapa malah jadi gak fokus gini too? Apa ini efek terlalu banyak fikiran ya? Om Bima itu lagi cari Kamu ...!" Ica menepok jidatnya sendiri, sambil berjalan menuju ke arah Bima.


Melihat sosok yang sedari tadi di cari-carinya ternyata sudah ada di depan mata, membuat Bima langsung berlari dan mencoba untuk memeluk tubuh mungil Ica.


Melihat tingkah aneh Bima, dengan sigap Ica melangkahkan kaki menjauh. Sehingga Bima tidak bisa memeluk tubuh Ica, Karna merasa malu Bima malah tertawa kecil. Sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak sama sekali gatal.


"Ehhhh ... kok lama banget Ca? Yang lain udah pada pulang dari tadi lo ...!" Tanya Bima sambil menatap lembut Ica.


Mendapatkan pertanyaan dari Bima, tidak sama sekali membuat Ica membuka mulutnya untuk menjawabnya. Merasa pertanyaannya tidak mungkin mendapatkan jawaban, akhirnya Bima lebih melmilih untuk berjalan menuju mobil dan membukakan pintu mobil mempersilahkan Ica masuk.


Setelah itu Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat Ica menuntut ilmu , di perjalanan pulang bima mencoba mengajak Ica untuk mengobrol. Namun Lagi-lagi hasilnya nihil, Ica seakan bisu.


"Kita mampir makan siang dulu yuk Ca! Kita makan di restoran kakak aja yang deket sini. Jangan nolak, kamu harus nurut! Kalo nggak, Kamu tau akibatnya." Lagi-lagi ancaman keluar dari bibir Bima.


Bima mengajak Ica untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum pulang. Namun belum sempat Ica menolak, Bima sudah mengeluarkan kata-kata yang bernadakan ancaman. Sungguh membuatnya merasa muak.


Ica tetap tidak mengeluarkan sepatah Kata apapun, ia malah memalingkan wajahnya melihat ke arah luar jendela. Bima tidak menghiraukan sikap Ica yang cuek padanya, karna Bima yakin perlahan-lahan hati Ica akan luluh karnanya. Yang terpenting sekarang bagi Bima adalah bisa setiap saat bersama Ica.


Setelah cukup lama berada di mobil, akhirnya Ica bisa menghirup udara luar. Ica sudah sampai di salah satu restoran terkenal di kota tempatnya tinggal.


Bima yang sudah berjalan lebih dulu di bandingkan Ica, tiba-tiba berhenti sambil menengok ke arah belakang. Melihat Ica masih diam tak bergerak, membuatnya harus putar balik dan mengajak Ica untuk mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2