
"Ku heningkan pendengaran ku dan mulai berdiskusi dengan hati kecilku : kuatlah, sabarlah, tangiskanlah, hari ini boleh kamu rasakan sakit itu. Tapi yakinlah, semua yang berada di atas pijakan bumi pasti akan ada akhirnya. Begitu juga dengan rasa bahagia, semua terus berputar dan kitalah porosnya."
__________________________________________________________________________________________
"Awhhhh ...!" Ica melenguh sakit setelah ia berhasil membuka matanya, entah kenapa seluruh tubuhnya serasa remuk.
Perih, ngilu, dan letih sampai-sampai tak kuat untuk bergerak. Mata indahnya yang terlihat sembab, masih setia menatap langit-langit kamarnya mencoba mengumpulkan kesadaran.
Loh masih jam 04.00**? Batin Ica sambil menggerakkan tangannya mencoba menggarut keningnya yang gatal.
Namun alangkah sangat terkejutnya Ica setelah melihat pundak polosnya, Ica seperti orang yang sedang lupa ingatan sesaat. Entah kenapa dia menganggap kejadian yang barusan ia lewati itu adalah mimpi.
Ica memegang pangkal selimutnya dan melirik kearah dalam selimut, seketika kedua matanya melotot setelah dengan jelas melihat tubuh polosnya terpampang di depan mata.
Astagfirullah, apa yang terjadi? Kenapa Aku bisa seperti ini? Batin Ica dalam hati sambil menggigit bibirnya merasa terkejut, Ica mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar.
Ica semakin terkejut lagi, setelah melihat ada sesosok pria tertidur di kusi meja riasnya dengan posisi setengah duduk. Merasa penasaran, Ica mencoba turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekat dengan selimut yang di lilitkan di tubuh polosnya itu.
Tapi belum sempat kaki jenjangnya menyentuh lantai, Ica sudah memberhentikan pergerakannya itu.
"Aduhhhh ...! Sttttt ...," Ica mengaduh sakit. Tubuhnya seketika kaku bak tersambar petir, ia merasa sedikit aneh dengan sesuatu di bawah sana. Ica juga bingung, kenapa tubuhnya di penuhi oleh tanda merah keunguan bahkan ada yang terlihat lecet.
Kenapa dengan tubuh ku ini? Sakit apa aku?
__ADS_1
Ica bertanya-tanya dalam hati, sambil terus mencoba berjalan perlahan sedikit tertatih menahan sakit dan perih disekujur tubuhnya.
"Kak Bima?" Ica merasa bingung dengan kehadiran Bima yang ada di dalam kamarnya.
"Kakak bangun!" Ica mencoba membangunkan Bima dari tidurnya, sambil menyentuh lembut pundak calon suami nya itu.
Sedangkan Bima yang merasa tidurnya terusik, karna suara seseorang memanggil namanya dan itu membuatnya mulai terjaga dari tidur.
"Ica ...?" Bima terkejut dan langsung berdiri.
Bima melihat Ica sudah berada di sampingnya dengan selimut melilit tubuhnya, sambil melihat ke arah Bima dengan tatapan bingung.
"Kakak sejak kapan ada di kamar Ica?" Ica bertanya sambil memegang lengan Bima, sepertinya Ica benar-benar tidak ingat sama sekali kejadian beberapa jam yang lalu.
Kenapa dia malah terlihat biasa saja, ada apa dengan Ica? Bima berbicara di dalam hati sambil menggarut tengkuknya yang tak gatal, ia sangat bingung melihat tingkah Ica.
"Kakak, Ica kenapa yaa ... Kok kayak gini? Rasanya badan Ica sakit semua Kak, Ica takut!" Ica bertanya pada Bima sambil mengeratkan pegangannya pada lengan kekar Bima.
"Emmm ... Kakak juga gak tau Sayang, lebih baik sekarang Kamu pakai baju dulu! Nanti Kita obatin ya memar sama lecet-lecetnya." Ucap Bima, sambil menatap iba.
Hati Bima terasa seperti tersayat-sayat, kenapa gadis polos ini malah terlihat bingung dengan keadaannya. Itu malah membuat Bima merasa semakin bersalah, namun Bima mencoba terlihat biasa saja.
Ica hanya mengangguk pelan tanda menyetujui saran Bima, ia langsung berjalan terseok-seok menuju lemari bajunya mencoba mengambil acak baju yang akan di kenakannya. Bima yang melihat Ica kesusahan langsung membantu memapah tubuh Ica dan mendudukkannya di pinggir tempat tidur.
__ADS_1
Di luar kamar, Bima mondar-mandir seperti setrika. Wajahnya terlihat was-was sambil sesekali mengusap keningnya kasar, sulit bagi Bima sekarang ini untuk mendefinisikan apa yang sedang ia rasakan.
Di tengah kelarutannya dalam rasa hati tidak tenang, terdengar suara lembut dari dalam kamar memanggilnya. Dengan cepat Bima membuka pintu dan berjalan menghampiri calon istrinya itu.
"Kakak badan Ica sakit semua, Ica gak kuat kak ...," Tutur Ica menjelaskan keadaannya.
Sekarang gadis itu sudah mengenakan pakaian lengkapnya, sambil duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah yang terlihat sangat pucat. Tangannya sudah kembali melingkar di erat di lengan Bima, sambil kepalanya bersender di bahu Bima juga.
"Iya Sayang ... ayok Kita obatin dulu ya!" Ucap Bima sambil mengelus pucuk kepala Ica.
Bima beranjak dari duduknya mengambilkan obat untuk Ica, tapi belum sempat Bima mengambil Obat. Tiba-tiba badan gadis itu sudah lebih dulu tergeletak di paha Bima, Ica pingsan!
Bima panik dan langsung mengangkat tubuh lemas Ica keluar kamar, membawanya kedalam mobil. Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju salah satu rumah mewah miliknya. Saat di perjalanan, Bima menelpon dr. Hans untuk datang juga ke rumah yang sedang di tuju Bima.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Bima sudah menapakkan kakinya di salah satu ruang kamar di rumah mewah itu. Di letakkannya perlahan tubuh pinsan Ica, di atas tempat tidur. Tak lama setelah itu dr. Hans sudah datang dengan sedikit tergesa-gesa.
"Ada apaan Bim? Lo gak liat apa ini jam brapa?!" Protes dr Hans, karna ulah Bima yang memhubunginya subuh-subuh seperti sekarang ini.
"Hans tolong gue! Tolong sembuhin calon istri gue!" Ucap Bima memohon pada Hans sambil terlihat sangat gugup.
Dengan capat Hans masuk ke dalam kamar, di mana tubuh pingsan Ica tengah tergeletak di atas tempat tidur. Belum sempat hans memeriksa Ica, mata Hans Langsung melirik tajam ke arah Bima penuh tanda tanya.
Hans melihat beberapa tanda bercak merah yang terpampang jelas di leher mulus Ica. Hans faham betul bercak apa itu dan di sebabkan karna apa, fikiran buruk Hans seketika langsung tertuju pada Bima.
__ADS_1
"Bima jawab gue! lo apain Ica sampe kayak gini? Jangan bilang kalo Lo---," suara Hans tertahan setelah melihat Bima berlutut di lantai sambil berderai air mata.