
Ica berlari menaiki anak tangga dengan cepat, sedangkan orang-orang yang di tinggalkan Ica di ruang makan tadi hanya terdiam melihat tingkah Ica.
Mama dan Papa Ica langsung tertunduk lesu, melihat sikap anak gadis semata wayang mereka. Sedangkan Yuda hanya bisa diam melihat suasana yang tidak nyaman itu.
"Tuan dan Nyonya silahkan makan, pasti Tuan dan Nyonya lelah baru pulang dari Luar Negri. Nanti biar Saya siap, kan semuanya." Ucap Bik Ani berusa mencairkan suasana.
"Tidak usah Bi, trimakasih. Saya dan Bapak akan istirahat saja di kamar. Tolong beresin barang bawaan di mobil, sampaikan kepada Mang Amin ya!" Nia menolak tawaran Bik Ani lembut.
"Yuda ..., trimakasih banyak sudah mengantar Ica. Maaf, suasananya malah jadi begini. Jika Kamu membutuhkan sesuatu, tinggal kasih tahu Mang Amin. Kakak sama Mbak masuk kedalam dulu." Sambung Dian, melanjutkan perkataan Istrinya.
"Sama-sama, Saya juga mau istirahat. Besok pagi Saya sudah akan berangkat ke Luar Kota untuk pulang." Yuda menjawab Ucapan Dian dengan sedikit rasa tidak nyaman.
Ica masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu kamar itu rapat. Tubuhnya terjatuh lemas di lantai, air matanya sudah tidak bisa di bendungnya lagi. Ica kembali mengis malam ini, fikirannya tak karauan mengingat ketakutan dan trauma serasa kembali menyelimutinya lagi.
"Aaaaa ...! Ica benci semua ini Hiks ... Hiks...," tangisnya sudah tak bisa di tahan.
"Apa salah Ica ...? Sampai-sampai Ica harus nanggung ini semua sendiri. Hikss ... hikss ...," gadis itu merutuki dirinya sendiri.
"Ica Takut! Hikss ... hikss ...," teriak Ica dari dalam kamar.
Ica menagis histeris, ingatan pahit itu telah datang dan menguasai fikirannya. Tubuh Ica bergetar hebat, hanya tangis kesedihan yang terdengar jelas. Ica menggerakkan tubuh mungilnya menjadi posisi meringkuk, ia mencoba untuk memeluk dirinya sendiri mencari ketenangan.
Perlahan isak tangis pilu di kamar itu mulai tidak terdengar, hanya tersisa suara sesegukan halus yang keluar dari bibir mungil itu. Tatapan gadis itu terlihat kosong, namun jelas terlihat dari raut wajahnya kesedihan begitu menyiksanya.
Di tengah lamunannya, Ica di sadarkan oleh suara handphone yang tiba-tiba berbunyi. Ica langsung berdiri dan melangkah menuju nakas di samping tempat tidur untuk mengambil handphone itu.
Ternyata itu adalah panggilan masuk dari Octa, tanpa fikir panjang Ica langsung mengangkatnya. Terdengarlah suara dari seberang sana mengucapkan salam dan entah mengapa tiba-tiba tubuh Ica berdesir.
"Hay bawel ...? Assalamualaikum." Sapa Octa dari sebrang sana.
__ADS_1
"iyaa abang ..., Waalaikum salam ...." Jawab Ica dengan sedikit sesegukan.
"Kamu kenapa? Suaramu seperti orang yang habis dari menangis," Octa bertanya heran.
Dengan cepat Octa mematikan panggilannya dan langsung mencoba untuk mengajak Ica melakukan panggilan Video Call, Namun Ica tidak mengangkatnya. Ica malah menolak panggilan dari Octa, Ica tidak mau Octa tau keadannya yang sedang kacau karena itu pasti akan membuat Octa khawatir padanya.
"Abang ..., Ica gak apa-apa kok abang gak usah khawatir!" Ica langsung menjelaskan keadaannya setelah Octa kembali menelponnya.
"Ica ...? Abang khwatir ini. kalau memang tidak terjadi apa-apa, lalu ada apa dengan suaramu?" Octa bertanya dengan nada sedikit mengintimidasi.
"Emmm ..., I-itu Ica tadi habis dari nonton film kartun sedih banget. Jadi terbawa suasana, ya gini hasilnya meleber dari mana-mana hihihi ...," suara tawa gadis itu terdengar di buat-buat.
"Astagfirullah ...! Ada-ada saja kelakuan anehnya ini bocah ya. Lebay banget ... Hihihi," Octa berusah menerima alasan Ica, walaupun sebenarnya Octa tau sedang terjadi sesuatu.
"Yeee ... enak aja, ini bentuk totalitas menjadi seorang penonton. Kapan-kapan kita nonton bareng ya Abang ...!" Suara gadis itu terdengar merengek.
"Ahahah ..., pulang dulu ke sini ...! Terus kita ketemu. Barudeh terserah kamu, mau ajak Abang nonton sampe berapa banyak tak jabanin neng ...!" Ucap Octa bersemangat.
"Iya ... boleh, terserah mau ambil berapa banyak, tapi bayar sendiri ...! Ahahaha ...," gelak tawa Octa terdengar begitu nyaring.
"Iss ... apaan kayak gitu? Tapi kita nonton filmnya lewat handphone aja ya ...!" Pinta gadis itu di sela-sela kekesalannya pada Octa.
"Siap ... Nyonya Kuala! Orang kok pemalu banget? Depan abang aja malu-maluin." Jawab Octa cepat.
"Biarinnnn ...," Ica menarik nafas sehingga terdengar lah suara seperti orang sedang flu.
"Isss ...! Jorok banget, makasih ya Ca." Ucap Octa tiba-tiba.
"Trimakasih untuk apa Abang Dinosaurus?" Tanya Ica penasaran.
__ADS_1
Apa jangan - jangan Dia menyindirku? Batin Ica heran.
"Abang sayang Kamu. Jangan buat Abang khawatir gini ...!" Celetuk Octa pelan.
"Kita ini LDR beda pulau, Kamu tahu gak ...? Rasanya khwatir ke orang yang kita sayang, tapi orang itu gak bisa kita liat langsung keadaannya," titah Octa melanjutkan ucapannya.
Nada bicara Octa menjadi rendah seolah-olah dia sedang menatap gadis yang sedang di ajaknya bicara. Ica hanya bisa terdiam mendengar pernyataan Octa untuknya, Ica merasa terharu sungguh ini kah rasanya di sayangi oleh seseorang yang juga kita sayangi.
"Ahahaha ... emang kayak apa rasanya Abangku?" Tanya Ica sambil terkekeh pelan.
"Kayak Es Campur, enak to ...? Yuk Kita beli ...! Ahahaha ...," Octa malah menjawabnya dengan candaan yang membuat Ica kembali tertawa lepas.
"Ahahahah ... dasar Abang Dinosaurus gak jelas, emm ... Ica juga sayang abang!" Seru Ica pelan.
Dengan malu-malu Ica juga ikut mengutarakan isi hatinya, mendengar pernyataan Ica tadi seketika membuat Octa sangat senang. Octa merasa bahagia, ia bisa mendengar gadis itu tertawa karna memang itu tujuannnya.
"Heee ...? Udah brani bilang sayang, pulang...! Udah malem cuci kaki tangan, minum susu terus tidur ...!" Lagi-lagi Octa berulah dengan candaannya.
"Abang mah gitu, licik ...!" Ica terdengar mendengus kesal karena ulah Octa.
"Mana ada ...? Emang Abang beneran sayang kok, sama Gadis bawel ini," lagi-lagi pemuda itu berhasil membuat pipi Ica merona seketika.
Lama Octa menunggu jawaban dari seberang sana, namun bukan jawaban yang di dapatnya. Octa malah mendengar dengkuran halus dan suara itu sudah jelas bersumber dari gadis kesangannya itu.
Octa kembali terkekeh pelan, ia menyadari gadis bawel itu sudah tertidur pulas. Ingin rasanya Octa melihat langsung gadis itu saat sedang tidur seperti sekarang ini, pasti lebih terlihat menggemaskan.
Setelah puas mendengarkan dengkuran halus gadis Kesayangannya, Octa menutup panggilan suara itu. Tentunya dengan mengucapkan selamat tidur terlebih dahulu.
"Kamu lucu banget, Abang sayang Kamu. Jangan sedih-sedih lagi ya ...! Selamat bobo Kesayangannya Abang, muachhhhhh...!" Octa mengungkapkan prasaannya.
__ADS_1
Setelah memberikan ciuman online untuk Ica, Octa terperanjat mengingat tingkah konyolnya tadi. Octa merasa malu sendiri, ia melakukannya tanpa disadarinya mungkin karna memang rasa sayangnya begitu besar.
Karna merasa malu, akhirnya Octa memutuskan sambungan panggilan suara itu dengan jantung yang bedegup jauh lebih kencang dari biasanya. Sedangkan Ica masih tertidur pulas, ia sangat bahagia malam ini.