Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
BAGIAN 49


__ADS_3

"Ckrekkk ...," Ica membuka pintu kamarnya.


Kaki jenjangnya mulai menapaki setiap inci ubin kamar, tangannya penuh dengan barang-barang yang di tentengnya kiri dan kanan.


Ica membanting tubuh lelahnya di kasur empuk Kesayangannya, mata cerah itu terus memerhatikan setiap sudut ruangan.


"Bersih banget, ini pasti Umi yang beresin." Ucap Ica sambil mengusap nakas di sampingnya lalu meletakkan Handphonenya di pinggir nakas.


"Drett ... drett ... drett," suara getaran terdengar dari atas nakas.


Tangan Ica langsung mengambil kembali Handphone yang baru saja beberapa detik di lepaskannya dari genggaman. Sedikit penasaran dengan isi pesan yang masuk, tanpa fikir panjang gadis itu langsung membukanya.


"Besok kita ketemu! bisa ...? " Suara bibir gadis itu saat membaca pesan yang di terimanya.


"Kenapa tiba-tiba gini?" Ucap Ica sambil menggigit pelan ujung bibirnya.


Ica masih bingung, jawaban apa yang akan Ia berikan untuk permintaan Octa padanya. Sepuluh menit berlalu, Ica masih belum memberikan jawabannya. Otaknya terus berfikir, mencoba menyamakan dengan keinginan hatinya.


"Bisa saja sih ... bertemu besok, tapi---?" Ica tidak melanjutkan ucapannya.


Otak gadis itu terus berfikir keras, sebenarnya Ica juga mau bertemu dengan Octa. Tapi Ia masih ragu dan takut semua tidak berjalan lancar, dan Octa nanti malah menjauh darinya.


"Apa memang sudah waktunya?" Tanya Ica pada dirinya sendiri.


"Bisa Abang, Ica juga sudah di rumah Umi sama Abi." Balas Ica sedikit ragu.


Handphone itu di genggamannya erat, mencoba untuk menghilangkan rasa groginya. Ica masih dengan rasa jantung bedegup cepat, was-was dengan jawaban Octa.


"Drettt ... drettt ... drettt," tangan gadis itu ikut bergetar akibat Handphone yang di genggamannya bergetar.


Sedikit ragu, tapi Ica tetap membaca pesan Octa dengan menutup sebelah matanya. Handphone itu sekarang berjarak 50cm dari pandangannya, entah mengapa hanya karna akan bertemu dengan Octa membuat Ica menjadi lebay.


"Ok, jadi akan bertemu di mana Kita?" balas Octa.


" Ica tunggu Abang di Stasiun A, baru nanti setelah kita bertemu Abang Ica bawa ketemu juga sama Umi dan Abi. Abang mau, kan?" Ica membalas pesan Octa dengan tenang.

__ADS_1


"Pas banget ..., rencananya Abang juga kayak gitu. Abang akan nemuin Umi dan Abi juga, pendekatan ...!" Balas Octa cepat.


Membaca pesan dari Octa, membuat Ica semakin tak karauan. Hati dan fikirannya tak sinkron sekarang ini, hatinya sangatlah ingin menatap pemuda yang selama ini sanggup membuatnya lupa akan kesedihan. Sedangkan di sisi lain, fikirannya terus mengutarakan ke khawatiran.


Bahkan sampai malam tiba, saat semua kegiatannya hari itu selesai Ica masih terus saja memikirkan masalah pertemuannya dengan Octa besok siang.


Ica menyentuh dadanya pelan, mencoba merasakan detak jantungnya yang tak beraturan jika memikirkan Octa. Pemuda itu membuatnya frustrasi, bahkan sebelum Ia melihat penampakannya.


"Huuuuh ..., sekarang aja kayak gini. Giamana besok pas liat manusianya? Bisa copot kamu jantung!" Omel gadis itu sambil menatap tubuhnya.


Mata indahnya mulai meredup, mengikuti malam yang juga semakin habis. Gadis itu mempersiapkan dirinya untuk kegiatan termenakjubkan besok, pertemuannya dengan Pemuda dunia onlinenya selama ini.


05:20


Ica sudah bangun sedari tadi, tubuhnya sangat risau sampai-sampai menunjukkan gejala yang membuatnya repot sendiri.


Dari tadi malam, Ica keluar masuk kamar mandi. Sampai subuh ini terhitung sudah lebih dari 15 kali pintu kamar mandi di buka dan di tutup, mungkin efek itu timbul karna rasa groginya.


"Pruttttttt ...!" Gadis itu langsung berlari tunggang langgang, berhamburan memasuki kamar mandi.


Tubuhnya terlihat pucat, butiran keringat dingin mulai mengalir membasahi keningnya. Ica berjalan lemas menuju tempat tidurnya, di bawah sana sudah sangat panas terasa.


"Duhhhh ..., perutku kenapa ini?" Gumam Ica penuh tanya.


"Ini bukan karna Aku salah makan, tapi karna Aku salah prasan." lirih terdengar suara gadis itu.


Walau ke khusyukkannya sedikit goyah, karna perutnya terus melilit. Perlahan tapi pasti, Ica tetap melaksanakan kewajibannya untuk sholat subuh. Setelah selesai dengan sholatnya, Ica keluar dari kamar menuju dapur.


Gadis itu berniat membantu Tari membuat sarapan seperti biasanya, dari kejauhan terdengar jelas suara yang di timbulkan oleh beberapa alat dapur yang sedang di gunakan.


"Selamat pagi, Umi ...!" Sapa Ica bersemangat.


"Pagi juga Sayang, udah sholat belum ...?" Tanya Tari, melirik kilas ke arah Ica.


"Alhamdulillah sudah, Umi." Jawab Ica sambil menahan sakit perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa pucat gitu?" Tari menatap kening Ica panik.


"Enggak kok Umi, Ica cuma mules doang." Jawab Ica cepat sambil memotong bawang.


"Tapi kok pucat ...?" Tanya Tari, heran.


"Ica baik-baik saja Umi sayang ...! Emmm ... Umi, Ica mau minta Izin keluar rumah nanti siang. Boleh gak Umi?" Tanya Ica ragu.


"Mau ke mana Sayang?"


"Ituuu ... Umi, Ica mau ketemu sama Octa di Stasiun A nanti siang. Boleh kan Umi?" Ica menatap Tari penuh harap.


"Waa ...! Octa mau kemari?" Tari terkejut mendengar Ucapan Ica.


"I-iya ... Um---," ucapan Ica terhenti seketika karna ulah Tari yang langsung memmotong pembicaraannya.


"Ok ... ok, kalo kayak gitu rencananya Umi sama Abi bakal temenin kamu jemput Octa di stasiun." Titah Tari sambil mengangkat sutil di tangannya.


"Itu juga artinya Umi harus masak lebih banyak, yang enak buat calon menantu Umi ...!" Entah kenapa Tari begitu bersemangat.


Umi malah semangat gitu, gak tau yang di sini sampek mau bikin pintu kamar mandi rusak sangking groginya! Batin Ica dalam hati.


Ica hanya nyengir kuda melihat Uminya yang sangat antusias menyambut kedatangan Octa. Sangat berbanding terbalik dengan Ica, mungkin karna faktor beda prasan beda hubungan ikatan.


"Hehehe ..., i-iya Umi." Jawab Ica terbata-bata.


"Umi mau bangunin Abi ...! Biar Abi udah siap-siap buat berangkat ke stasiun, Kamu tolong jagain masakan Umi ya!" Tari langsung berlari meninggalkan Ica yang heran dengan sikapnya itu.


Dan ternyata yang tak kalah mengejutkan, Ruslan juga ikut bersikap seperti Tari yang sangat antusias untuk menyambut kedatangan Octa. Ruslan dan Tari memang sudah tau banyak tentang Octa, itu semua lewat cerita Ica pada mereka tentang Octa.


Ica tidak pernah menutupi siapapun yang sedang dekat dengannya, itu semua Ica lakukan agar kejadian yang menimpanya saat bersama Bima dulu tidak terulang kembali.


Karna memang dulu hubungannya dengan Bima tidak ada yang tahu kecuali Nia, Mama Ica sebagai orang yang menjodohkan mereka. Setelah rencana pernikahan mereka mulai di buat, barulah orang sekitar mereka tahu.


Namun sayangnya hubungan itu malah kandas di ujung acara, dan sekarang hanya menyisakan kenangan yang sama-sama membuat mereka tersiksa.

__ADS_1


__ADS_2