Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 11)


__ADS_3

Langkah kaki pelayan itu terhenti setelah matanya menangkap pemandangan yang seharusnya tidak di lihatnya, namun ini tugas penting jika tidak di sampaikan Bima pasti akan marah.


Tapi jika ia melanjutkannya, ia juga akan di amuk Bima karna sudah lancang. Dengan tekat dan keberanian, akhirnya pelayan itu tetap menyampaikan tugasnya kepada Bima dengan rasa gugup.


"Emmmm ..., maaf permisi Tuan. Makan siang sudah siap dan akan segera kami hidangkan!" Ucap seseorang memecah keheningan.


Tiba-tiba dari sudut pintu, terdengar suara seseorang dengan nada bica terbata-bata memanggil Bima. Dan seketika membuat kedua insan itu kaget, Ica membuka matanya Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.


Alhamdulillah, yeeeeee ... untung aja ada itu pelayan jadi selamat dah ...! Hihihi. Ucap Ica dalam hati dengan ceria.


Sedangkan Bima malah santai menengok ke arah pelayan itu, Bima bahkan tidak merubah posisinya. Ia hanya menjawab singkat, seakan tidak perduli akan kehadiran orang lain di ruangan itu.


"Cepat bawa dan hidangkan ke mari! Gadisku sudah terlalu lama menunggu." Suara ketus itu lagi-lagi di keluarkan Bima.


"Maaf Tuan, Kami akan segara kembali dan menghidangkannya!"


Pelayan itu berlalu pergi meninggalkan dua manusia yang tengah asik bermesraan itu, namun dalam hati pelayan itu bertanya-tanya.


Kenapa Tuan Bima tidak marah? Padahal biasanya Tuan Bima akan langsung marah jika ada yang melihatnya sedang bersama wanita bayaran, seperti biasa? Itu artinya Gadis berseragam sekolah itu, benar-benar istimewa di mata Tuan Bima. Batin pelayan itu sambil terus berjalan.


Sedangkan Ica masih asyik berusaha menyingkirkan Bima dari tubuhnya, karna ia sangat merasa malu dan risih sedari tadi. Apa lagi sekarang mereka malah kepergok oleh salah satu pelayan Bima.


Saat Bima kembali menengokkan wajahnya ke arah Ica, tanpa sengaja bibir Bima mendarat mulus di pipi Ica. Musibah itu bisa terjadi, karna Ica juga mencoba untuk menengok ke arah Bima. Akhirnya kejadian yang di hindari Ica dan tidak benar-benar ingin di lakukan Bima, malah terjadi tanpa di sengaja.


Merasa sesuatu yang aneh terjadi, tubuh Ica tiba-tiba menegang kaku karna kaget. Sedangkan Bima, mata tajamnya seketika membulat sempurna karna kaget. Dan tanpa di sadarinya Bima melonggarkan cengkramannya pada tubuh Ica, sungguh Bima tidak pernah merasa tubuhnya aneh seperti sekarang ini.


Padahal Dia hanya mencium pipi dan itu adalah hal biasa yang sering Bima lakukan pada wanita-wanita yang mengejarnya, tapi kenapa sensasi ini sungguh berbeda.


Arggghhhhh ...! Bima mendengus kesal di dalam hati, gadis kecil ini sungguh hebat.

__ADS_1


Ica yang merasa mendapat perlakuan yang tidak seharusnya di lakukan Bima padanya, seketika tangannya dengan reflex mendarat indah di pipi Bima dan itu membuat Bima tersadar dari lamunannya.


"Plakkk ...!" wajah Bima seketika sedikit terhuyung.


"Yaaa ampun maaf ...! Maaf Ca kakak sengaja ...," saat Bima sadar apa yang barusan di ucapkannya itu salah, membuat Bima membungkam mulutnya dengan tangan.


Kata-kata yang di keluarkan Bima seketika membuat darah Ica semakin mendidih, dengan cepat Ica mendorong tubuh Bima kuat sampai terjatuh di lantai. Ica menatap tajam mata Bima, namun tatapan itu malah di balas dengan tatapan hangat dari Bima dan itu membuat Ica semakin muak.


Kurang ajar banget ini Om-om, gak tau diri seenaknya aja main nyosor-nyosor! Bukannya minta maaf bener-bener, malah becanda. Ica meluapkan Kekesalannya di dalam hati.


Merasa sudah cukup puas menahan emosi, Ica berdiri dan langsung keluar meninggalkan Bima yang masih terduduk di lantai. Saat Ica keluar dari ruangan itu, Ica berpapasan dengan para pelayan yang membawa makanan menuju ruangan Bima.


Para pelayan itu menatap bingung ke arah Ica, namun mereka tidak menghentikan Ica dan terus berjalan membawa makanan ke dalam ruangan.


"Icaaaaa ..., Tunggu ...! jangan pergi dulu!" suara Bima menggema di seisi ruangan.


Bima berlari keluar ruangan mencoba mengejar Ica namun tiba-tiba...,


"Astaga ...! Kalian ini benar-benar menguji kesabaran saya, Kalian Saya pecat! Dan tinggalkan tempat ini sekarang juga!" Teriak Bima ke arah para pelayan itu.


"Maaf Tuan, maaf... Kami tidak sengaja tolong jangan pecat Kami, Tuan ...!" suara pelayan itu memohon.


Bima terus berlari tidak menghiraukan pelayan yang sedang memohon kepadanya. Nasib pelayan-pelayan itu sudah dapat di pastikan mereka di pecat, karna mereka tau perkataaan Bima jelas tidak bisa di ganggu gugat.


Sedangkan Ica sedari tadi masih berdiri di pinggir jalan, mencari-cari seseorang untuk membantunya pergi dari tempat itu. Namun Dewi Fortuna sepertinya sedang tidak berpihak padanya, karna Ica sudah hampir 5 menit berdiri di pinggir jalan. Namun tidak ada satupun Taxi atau Ojek dan lainnya yang melintas.


Saat Ica mulai gusar, dari kejauhan Ica melihat seseorang yang Ia kenal.


"Itu kan Kak Tio ...?" Tatap Ica sambil memicingkan sebelah matanya.

__ADS_1


Seorang pemuda yang sedang mengendarai sepeda motor, dengan cepat Ica berlari dan memberikan lambaian sambil memanggil Tio.


"Kak Tiooo ... Kak Tiooo ...! Di sini kak ...," Ica melambaikan tangannya sambil memnggil- manggil nama Tio berharap pemuda itu melihatnya.


"Siapa tu bocah manggil-manggil nama Gue?" Ucap Tio heran.


Tio mencoba memfokuskan pandangannya, dari balik helm yang sedang di pakainya untuk melihat siapa yang sedang mencoba memanggilnya.


"Loh itu kan Ica? Ngapain Dia di situ ...?!" Tanya Tio sendiri sambil menancap gas.


Tio mempercepat laju motornya dan menghampiri Ica. Tio memberhentikan motornya tepat di depan Ica, sedangkan Ica langsung histeris dan meminta bantuan Tio.


Melihat tingkah Ica yang seperti sedang di kejar-kejar, berhasil membuat Tio bingung dan bertanya. Namun bukannya mendapat jawaban, Ica malah langsung naik ke atas motor Tio dan memintanya untuk membawanya pergi.


"Kamu ngapain di sini Ca ...? Mana kayak orang habis di kejar-kejar gitu." Ucal Tio.


"Kak Tio nanti aja Ica jelasin, sekarang ayok bawa Ica pergi dari sini Kak . Kakak ayok ...! Jalan. "


Ica langsung naik di atas motor Tio, sambil merengek tanpa memberikan jawaban dari pertanyaan Tio sambil memeluk tubuh Tio erat.


"Icaaaaa ..., berhenti ..., sial siapa tu bocah?Beraninya dia bawa pergi Ica ..," Tiba-tiba Bima keluar dari restoran sambil berteriak, melihat Bima sudah dekat membuat Ica semakin merengek memaksa Tio membawa nya pergi.


"Kakak ayokkk ...! Ica takut ...," Ica mengeratkan pelukannya pada pinggang Tio.


"Iya ... iyaa, Kita jalan tapi helmnya di pakek dulu! Bahaya Ca ...." Titah Tio sambil memberikan helm.


"Nanti aja kita berenti pakek helm, sekarang pergi dulu dari tempat ini Ka ...!" Ica terus merengek sambil menggoyangkan baju Tio.


Melihat Ica yang gusar dengan penuh keringat, itu berhasil membuat Tio langsung menancap gasnya. Tio membawa Ica menjauh dari restoran, tanpa memperdulikan Ica yang belum memakai helm.

__ADS_1


Sedangkan Bima masih berlari mencoba mengejar, namun sayang Ica sudah terlalu jauh dan tidak mungkin bisa di kejarnya. Bima mengusap wajahnya kasar, Bima sangat kesal karna Bima melihat Ica memeluk laki-laki yang membawanya pergi tadi.


__ADS_2