Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
BAGIAN 50


__ADS_3

"Ica ..., kok belum siap-siap? Ini sudah hampir masuk zuhur lo ...," ucap Tari pada Ica yang tengah asik melamun di meja makan.


"Hey ...! Anak gadis kok ngelamun, nggak baik." Tari melambaikan tangannya beberapa kali tepat di depan wajah gadis itu, setelah beberapa lambaian kiri dan kanan akhirnya gadis itu tersadarkan.


"Heh ...! I-iya Umi ..., kenapa?" Gadis itu kaget dan menjawab dengan linglung.


"Humz ..., lagi ngelamunin apa sih?" Tanya Tari pada anak gadisnya itu penasaran.


"Enggak kok Umi, hihihi ...!" Ica tertawa kecut ke arah Tari dengan menunjukkan gigi gingsulnya.


"Udah cepetan mandi, sholat, terus Kita berangkat ke satasiun ya ...!" Ujar Tari sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda Ica.


Setelah memberikan printah pada Ica, Tari pergi berlalu meninggalkan Ica sendirian di ruang makan. Ica menarik nafas gusar, jantungnya terus berdegup kencang. Sedari tadi yang ada di fikirannya hanyalah Octa dan pertemuannya itu.


Ok Ica, mari kita siapkan pertemuan ini! Semua akan baik-baik saja. Gadis itu berkata di dalam hati sambil beranjak dari posisinya.


Tiga puluh menit berlalu, semua terlihat baik-baik saja. Sekarang rombongan Ica sudah siap, duduk rapi di dalam mobil dengan sopir yang terlihat gagah.


"Ayok ...! Apakah semua sudah siap berangkat?" Tanya Ruslan sambil memegang kemudi, tapi mobil masih diam di tempat.


"Siap ...!" Terdengar penuh semangat.


Kedua wanita di samping dan di belakangnya bercakap dengan nada suara yang berbeda, yang satu semangat dan yang satu terdengar tak yakin dengan jawabannya.


Ruslan dan yang lainnya sudah selesai dengan do'a sebelum memulai Perjalanan mereka. Mobil yang mereka tumpangi juga sudah mulai berjalan, menerobos hiruk-pikuk keramaian kota dan semua terlihat baik-baik saja sejauh ini.


"Ohh iya ..., Ica sudah tanya nak Octa belum?" Ucap Ruslan bertanya.


"Tanya apa Abi ...?" Ica menjawab dengan ekspresi wajah bingung.


"Itu, nak Octa sudah berangkat atau belum sekarang?" Ruslan kembali bertanya dengan penjelasan yang lebih ditail.

__ADS_1


"Ohhh ... Iya Abi, tadi Abang Octa mengatakan Kalau dia sudah di kereta dan dalam perjalanan." Ica menjelaskan dengan cepat, informasi apa saja yang sudah Ia terima dari Octa.


Ruslan dan Tari hanya mengangguk pelan menanggapi Perkataan Ica tadi, mereka berdua malah terlihat asik bertukar perhatian di depan Ica. Sedangkan Ica yang melihatnya merasa canggung dan malu.


Setelah cukup lama, kurang lebih satu jam akhirnya rombongan Ica sudah sampai di Stasiun A. Dengan cepet Ruslan dan Tari turun dari mobil membawa Ica di antara mereka berdua, dengan penuh harap agar hari bahagia ini akan berjalan dengan baik.


Terlihat Ruslan dan Tari sedang duduk santai, menunggu kedatangan kereta yang di tumpangi Octa. Sedangkan Ica, Ia terlihat begitu cemas. Sedari tadi kakinya enggan untuk duduk, matanya terus menunggu dan memastikan setiap keadaan yang terjadi.


"Ca ...? Ayo duduk di sini aja ...! Sebentar lagi juga sampe kok." Tari berucap sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.


Namun Ica hanya mejawab dengan gelengan pelan, itu artinya Ia lebih memilih terus berdiri menunggu Octa. Tak lama dari itu kereta yang mereka tunggu akhirnya tiba, semua pintu gerbong mulai terbuka.


Semua orang yang berada di dalamnya mulai berjejalan saling mendahului, mereka ingin segera keluar dari mesin berjalan itu. Sedangkan Ica, matanya terus memantau dengan fokus pada setiap orang yang berlalu lalang di sekitarnya.


Gadis itu sedang mencari sosok yang selama beberapa bulan ini dinantikannya. Sesekali Ica melirik handphone yang di genggamannya, memastikan ada atau tidaknya pesan dari pemuda itu.


Lima belas menit berlalu, keadaan mulai tenang dan semua kembali berangsur-angsur lengang. Namun keadaan itu sangat berbanding terbalik dengan suasana hati Ica, sedari tadi Ia terus menggigit bibir bawahnya. Tangannya terus memumatarkan cicin yang ada di jari tengahnya, Ia sangat gugup.


Matanya melirik gusar ke arah handphone yang ada di genggamannya, Ia ingin mencoba menelpon Octa. Namun niatnya itu segera di urungkannya, karna Ia merasa tidak enak jika menggangu Octa saat dalam perjalanan.


"Kok belum sampai yaa ...?" Ucap Tari mulai ikut gusar menunggu kedatangan Octa yang tak kunjung tiba.


"Apakah Nak Octa benar naik kreta ini Ica?" Tutur Ruslan di sela-sela kebingungan Ica.


"Iya Abi," Ica menjawab dengan cepat. Tanpa melihat ke arah Ruslan.


"Coba Kamu hubungi ulang! Siapa tau bukan Ini keretanya, karna isi kereta ini sudah mulai kosong." Ruslan memberikan saran dan langsung di setujui oleh Tari istrinya.


Namun belum sempat Ica membuka handphonenya untuk menghubungi Octa, tiba-tiba handphone itu sudah bergerak lebih dahulu.


"Drett ... drett ... dret ..., " suara itu berasal dari handphone di tangannya.

__ADS_1


"Abang Octa ...?" Gadis itu berkata seraya matanya melihat layar handphonenya.


"Halo, assalamualaikum Abang?" Ica mengucapkan salam lebih dahulu, lama tak ada sautan.


"Iya halo ..., waalaikum salam." terdengar jelas balasan dari sebrangnya.


"Abang lagi di mana? Kok belum sampe Bang, apa bukan naik kereta yang ini?" Gadis itu langsung menghujani Octa dengan beberapa pertanyaan.


"Bukan kayak gitu Sayang, Abang gak jadi berangkat." Octa berkata sangat pelan, namun masih sanggup untuk di dengar.


"Loh ..., maksudnya gimana?" Tanya Ica bingung dengan ucapan Octa.


"Kita gak jadi ketemuan hari ini, maaf." mendengar ucapan itu, seketika berhasil membuat air matanya menetes pelan.


"Kok gitu? Hiks ... hiks. Ica, kan sudah sampai sini Abang! Ica juga bawa Umi sama Abi." Gadis itu berkata sambil mulai sesegukan kecil.


"Ya maaf, Abang tadi memang sudah berangkat. Tapi tiba-tiba ada telepon dan itu memang benar-benar tidak bisa Abang tolak!" Octa memberikan penjelasan panjang lebar.


"Terus Icanya di sini gimana dong?" Ica mulai gundah dengan nasipnya, terlebih lagi dengan Umi dan Abinya.


"Ya Abang nitip maaf buat Umi dan Abi. Bukan sengaja, tapi Abang bener-bener ada urusan mendadak." Sambung Octa mencoba meminta maaf.


"Sekarang posisi Abang lagi di mana?" Ica mencoba memastikan.


"Ini lagi dalam perjalanan pulang sayang, maaf ya ...!" Octa berucap sambil sedikit memohon.


"Ya udah kalo gitu, hiks ... hiks...! Ica pulang dulu saja, Abang hati-hati di jalannya ya. Assalamualaikum!"


Ica menutup sambungan teleponnya, mata berairnya dengan cepat Ia hapus. Sebenarnya yang ada di fikirannya saat ini bukanlah memikirkan tentang prasaannya, tapi bagaimana prasaan Umi dan Abinya jika tau Octa tidak jadi datang.


Ica sangatlah takut itu akan membuat Umi dan Abinya menjadi tidak suka dengan Octa, Ica tidak mau itu sampai terjadi. Gadis itu mencoba memutar otaknya untuk berfikir, mencari alasan yang tepat agar Ruslan dan Tari tidak berkecil hati karna kejadian ini.

__ADS_1


__ADS_2