
"Ica sudah siap apa belum? Om Yuda sudah di bawah!" Ucap Umi.
"Iya Umi ..., sebentar lagi Ica turun!" Teriak Ica dari dalam kamar.
Hari ini Ica pulang ke kampung halamannya, memang sebenarnya Ica bukan tinggal bersama orang tua kandungnya. Ruslan dan Tari adalah adik dari Papa Ica yang tinggal beda Kota dengan Orang tua Ica. Sudah hampir satu tahun terakhir, Ica tinggal bersama mereka.
Ruslan dan Tari sebenarnya belum di karuniai seorang anak, jadi mereka senang jika Ica tinggal bersama mereka. Namun hari ini, Ica akan pulang. Walau sebenarnya bulan depan Ica sudah kembali lagi, tetap saja membuat Tari sangat sedih berpisah dengan Ica.
Setelah cukup lama bersiap-siap, akhirnya Ica keluar dari kamarnya. Dengan mengenakan baju kaos panjang berwarna putih, di padukan dengan celana jeans panjang berwarna biru. Rambut terikat rapi dengan riasan wajah natural, membuatnya terlihat sangat mempesona.
Ica memang tidak terlalu urus dengan penampilannya, dia lebih suka pakaian yang lebih terlihat tomboy dan nyaman saat di pakai. Sangat sesuai dengan sifatnya yang cuek dengan orang-orang.
Dengan cepat Ica menuruni anak tangga menghampiri Umi, Abi dan Om Yuda yang sedari tadi menunggu.
"Ayok berangkat ...!" Pinta Gadis itu dengan ekspresi datar.
Ica bersuara sambil menuruni anak tangga, membuat semua mata tertuju pada sosok gadis bertubuh mungil dengan gigi gingsul yang membuat senyumannya semakin terlihat manis.
"Aduhhh ..., Anaknya Umi cantik banget. Umi pasti bakal kangen banget sama tingkah lucu kamu Sayang!" Ucap Umi.
Wajah Tari menjadi murung karna melihat Ica sudah siap dan sebentar lagi akan berangkat, dengan cepat Ruslan mencoba menghibur Istrinya agar tidak sedih.
"Ahhh ..., Umi kok sedih gitu. Masih ada Abi yang selalu ada buat Umi." Ucap Ruslan sambil mengedipkan mata menggoda Tari.
"Umi jangan sedih! Ica kan pulang ke rumah gak lama, bulan depan Ica sudah ke sini lagi," mencoba menenangkan Tari.
"Umi do'a in semoga urusan Ica di sana cepet selesai, biar Ica cepet pulang ke sini lagi ya ...!" Pinta Ica pada Uminya itu.
__ADS_1
Kenapa jadi kek drama gini? astagfirullah ...! Ucap Ica dalam hati.
"Aihhh ..., Mbak kok jadi lebay gitu ...?" Tanya Yuda sedikit mengejek.
"Ica bawel gitu, harusnya seneng kalo dia pulang!" Yuda terus mengejek Ica, bahkan sekarang di sertai dengan tawa kerasnya.
Setelah selesai berpamitan dengan penuh drama, akhirnya Ica dan Yuda berangkat. Masalah berpamitan dengan Octa tidak usah di tanya, Octa sudah pasti menjadi orang pertama tempat Ica berpamitan.
Setelah melakukan perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya mobil yang di Kendarai Ica dan Yuda berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah berwarna putih dengan taman yang sangat cantik di penuhi dengan bunga mawar merah.
Tak lama seorang laki-laki paruh baya berlari kecil menuju ke arah pintu gerbang, sedangkan kaca mobil sengaja di buka Ica. Setelah gerbang terbuka, Om Yuda melajukan mobil yang mereka kendarai pelan melewati laki-laki paruh baya itu.
Laki-laki itu melihat siapa yang berada di dalam mobil tersebut, tubuhnya terperanjat kaget setelah tau siapa yang berada di dalam mobil itu. Dengan cepat ia menutup kembali gerbang dan berlari menghampiri mobil yang di kendarai Ica dan Yuda.
Saat Ica keluar dari dalam mobil, Ica langsung di sugukan pertanyaan dari laki-laki paruh baya tadi. Ica tertawa melihat laki-laki paruh baya itu kaget atas kehadirannya.
"Ahahhahahah ...! Aduh Mang Amin pelan-pelan ngomongnya, Ica pulang sama Om Yuda adiknya Abi." Jawab Ica sambil tertawa.
"Oh iya..., Bi Ina mana Mang? Itu Ica ada oleh-oleh buat Mamang sama Bibik." Ucap Ica sambil menunjuk ke arah mobil.
"Iya Non maaf, Mamang kaget banget Non pulang hari ini. Bi Ina sedang pergi keluar belanja Non," jelas Mang Amin panjang lebar.
Setelah puas tertawa, Ica meminta Mang Amin untuk mengambil beberapa barang dan oleh-oleh yang di bawanya untuk Mang Amin dan Bi Ani.
Ica memang gadis yang sangat ramah, dermawan dan juga pintar. Walaupun sebenarnya dia adalah anak orang kaya yang memiliki perusahan besar di mana-mana, tapi Ica tidak pernah sombong akan kekayaan orang tuanya.
"Mang Amin ...? Tas Ransel yang itu gak usah di bawa masuk, biar Ica sendiri yang membawanya." Pinta Ica.
__ADS_1
"Ica juga minta tolong anterin Om Yuda ke kamar tamu! Supaya Om Yuda bisa istirahat, pasti Om Yuda capek banget tuh keliatan dari keriput mukanya banyak banget hehehe ...," Ica berucap sambil melirik ke arah Yuda.
"Enak aja, Om mu ini masih muda mana ada kriput! Kamu itu, sampe rumah bukannya tanya orang tuamu di mana? ini malah nyerocos ngomongin yang lain, ciri-ciri anak durhaka nih." Jawab Yuda panjang lebar menimpali ejekan Ica.
"Baik tuan, mari saya antar!" Jawab Mang Amin seraya menenteng barang-barang.
Ica tidak mengindahkan perkataan Yuda yang menyinggung sikapnya atas orang tuanya, karna Ica merasa bosan. Sudah bisa di pastikan, orang tua Ica sedang tidak di rumah.
Mereka terlalu sibuk memikirkan perkerjaan, sehingga Ica selalu berfikiran jika kehadirannya di rumah mewah ini tidak terlalu penting.
Ica masih berdiri dengan tatapan kosong memandang bingkai pintu rumah mewah itu, rasa trauma akan satu kenangan buruk di rumah itu masih membayangi fikirannya.
Namun, dengan sekuat tenaga Ica berusaha mengumpulkan keberanian untuk melangkahkan kaki memasuki rumah mewah itu. Ica mengedarkan penglihatannya menelisik seluruh sudut rumah mewah itu.
Seketika badannya bergetar, nafasnya terasa sedikit sesak namun dengan cepat Ica berlari menuju lantai atas memilih kamar secara acak.
Sebenarnya, dulu Ica mempunyai kamar tidurnya sendiri. Namun setelah kejadian naas menimpa Ica, ia enggan untuk masuk lagi ke kamar itu bahkan hanya untuk sekedar melihat bingkai pintu kamar itu saja Ica enggan.
Saat Ica membuka kamar itu, seketika langkah kakinya terhenti. Ica sangat terkejut melihat isi kamar yang di masukinya tanpa sengaja itu, Ica juga merasa heran kenapa kamar ini tidak di kunci.
Dalam hati Ica bertanya-tanya,
kamar siapa yang sedang Ia masuki? kenapa dekorasi kamar ini cocoknya di huni oleh seorang laki-laki?
Pelan-pelan Ica melangkah, kan kakinya mencoba memerhatikan setiap inci kamar itu. Sampai pandangannya terhenti, karna matanya melihat sebuah foto seorang pria muda yang sangat tampan di atas nakas di sebelah tempat tidur.
Dengan cepat Ica mengambil foto itu dan melihatnya dengan teliti, dalam hati Ica bertanya-tanya.
__ADS_1