Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 7)


__ADS_3

Setelah selesai berpamitan Yuda berangkat menuju kediamannya, sedangkan Ica masih berdiam diri di luar memperhatikan bunga-bunga yang bermekaran di taman rumahnya itu.


Ica melangkahkan kakinya menuju salah satu rumpun bunga mawar, ia mencoba untuk lebih dekat menikmati indah dan harumnya bunga-bunga di sana.


Dari atas balkon rumah mewah itu, ada seorang pria dewasa yang sedang memperhatikan wajah ceria Ica sedari tadi. Pilu melihat tingkah polos gadis itu, Ica memang terlihat baik-baik saja dari luar.


Terlihat sangat beruntung mempunyai wajah dan tubuh begitu indah,sangat pintar, dengan kehidupannya yang sangat berkecukupan. keluarga bahagia yang begitu di idamkan gadis-gadis lain di luar sana.


Namun karna kejadian naas tujuh bulan yang lalu menimpa Ica, membuat kehidupan nyaman dan bahagianya benar-benar sirna. Sedangkan batinnya begitu tersiksa, Ica menjadi begitu dingin selalu mengurung diri dan sikap hangatnya kepada kedua orang tuanya tidak pernah terlihat lagi.


Sebenarnya Ica sudah merasa tertekan batin sejak ia masih duduk di bangku SMP, karna Mama Ica sudah beberapa kali mencoba menjodohkannya dengan beberapa rekan bisnis mereka. Dan tak jarang, orang yang di jodohkan dengan Ica terpaut beda usia sangat jauh lebih tua di bandingkan Ica.


Namun perjodohan itu di lakukan secara diam-diam, hanya di ketahui oleh Mama Ica dan calon suami Ica. Tanpa sepengetahuan kedua orang tua calon suami Ica dan bahkan Papa Ica juga tidak tau akan masalah ini.


Sejak awal Ica tidak pernah menginginkan perjodohan ini, Ica selalu tersiksa karna perjodohannya karna sikap sang calon suami terlalu berlebihan padanya.


Sudah sering Ica memprotes perjodohannya ini kepada Mamanya, mengatakan perlakuan yang tidak pantas dari calon suaminya itu. Namun hasilnya nihil, Mamanya malah balik menyalahkan Ica dan tidak pernah mau percaya kepada Ica.


Karena berulang kali tidak di tanggapi, akhirnya Ica mendiamkan semua yang ia rasa. Ica tidak pernah menceritakan masalahnya ini kepada siapapun, pada sahabatnya, bahkan pada ayahnya sendiri.


Pada akhirnya di perjodohan yang terakhir, Ica terpaksa menerima dengan berat hati. Ia sudah pasrah, tidak ingin lagi melakukan penolakan apa lagi perlawanan pada rencana Mamanya itu.


(flashback on)


Pagi yang cerah, di sebuah kamar tidur yang terlihat begitu ceria. Dengan sebuah boneka kepiting berwarna putih berukuran besar di atas tempat tidur, di tambah pernak pernik di dalamnya menambah kenyamanan mata untuk memandang.


Seorang gadis duduk di depan meja rias di dalam kamar itu, terlihat ia sedang menata rambutnya. Gadis itu sudah mengenakan seragam sekolahnya, jika di lihat dari seragam yang dia kenakan lebih seperti seorang siswa SMK.

__ADS_1


Setelah selesai dengan kegiatannya bersiap-siap berangkat ke sekolah, dengan cepat dia keluar dari kamar menuju meja makan di dalam rumah mewah itu. Ia menghampiri keluarga kecilnya yang sudah menunggunya untuk sarapan bersama, sebelum melakukan kegiatan masing-masing.


"Selamat pagi Ma ... Pa ...?" Sapa Ica.


"Selamat pagi Sayang, udah selesai siap-siapnya? Ayok kita sarapan dulu ..., " suara seorang wanita dewasa terdengar penuh kasih sayang menyambut anak gadisnya.


"Bi Ani sama Mang Amin mana Ma? Kok gak di ajak sarapan juga," tanya Ica pada Mamanya.


"Ada di belakang, lagi ngerjain pekerjaannya. Udah sekarang Ica sarapan dulu! Hari ini Ica berangkat ke Sekolahnya di antar supir ya ...!" Titah Mama Ica sembari memberikan segelas susu untuk Ica.


"Soalnya Papa hari ini mau ada pertemuan dengan client dari Luar Negeri, jadi gak boleh telat. Ya udah, Papa berangkat dulu ya ... assalamualaikum ...." Ucap Papa Ica memberikan penjelasan sembari berpamitan.


Papa Ica sangatlah sibuk, namun setiap berangkat sekolah Ica selalu di antar Papanya. Tapi tidak untuk hari ini, Ica harus berangkat dengan sopir.


"Hati-hati ya Pa ..., Semangat kerjanya!" Mama Ica memberikan semangat kepada Papanya itu sebelum berangkat.


Sekarang tinggal Ica dan Mamanya di ruang makan itu, di saat Ica sedang asik menyantap sarapan paginya tiba-tiba Mamanya angkat bicara.


"Sayang Mama mau kenalin Kamu sama anaknya temen Mama namanya Bima, yang waktu itu kita pernah datang ke acara peresmian Bima di angkat menjadi pemilik perusahan itu loo. Rekan bisnis Papa yang kaya raya itu, kamu mau,kan Sayang?" Ucap Mamanya panjang lebar.


Mendengar perkataan Mama yang sedikit aneh membuat Ica menjadi tersedak, dengan segera Ica menuangkan air ke dalam gelas lalu meminumnya.


"Pelan-pelan Ca ..., Mama udah jodohin Kamu sama dia. Dan kebetulan hari ini Kamu gak berangkat bareng Papa, jadi Mama minta Bima buat jemput kamu!" Mama Ica terus saja berbicara tentang Bima.


Pejodohan? anak teman Mama yang mana? Ica gak mau! Teriak Ica di dalam hati.


"Mah apa maksudnya ini? Jodoh-jodoh gimana? Ica masih kecil Ma ..., Ica gak mau! Om Bima itu, kan sudah tua Ma." Bantah Ica pada Mamanya.

__ADS_1


"Kamu tinggal turuti saja, tidak usah banyak protes ...! Ini demi kebaikan Keluarga Kita, apa Kamu udah gak sayang sama Keluarga Kita?!" Mama Ica berteriak, setelah mendengar Ica menolak permintaannya.


"Ica sayang Ma ..., Hiks ... hiks , tapi ini gak ada hubungannya sama sekali sama sayang apa enggaknya Ica ke Mama Papa hiks ... hiks .... Kalo Mama mau, Mama aja yang sama Om Bima. kan Mama yang terima perjodohan ini." Ica mencoba menolak permintaan Mamanya itu.


Mata indahnya sudah benar-benar tak bisa menahan deraian air mata karna bentakan yang di lontarkan Mama pada Ica. Sangking tak habis fikirnya Ica dengan tindakan Mamanya, sampai-sampai Ica tidak sadar mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan, yang meminta Mamanya saja yang menerima perjodohan ini.


"Oooo Kamu ini memang anak durhaka yaa, tidak mau melihat orang tuamu bahagia.., anak tidak tau trimakasih ok kalo Kamu tidak mau tidak apa-apa. Tapi Mama sangat kecewa dengan Kamu!" Mama Ica berteriak kencang ke arahnya.


"Tapi ma ... Ica gak mau! Hiksssss ... hiks ...."


Ica hanya teetunduk lesu memikirkan masa depannya yang rasanya tiba-tiba hilang. Ia merasa takut menjadi anak durhaka menjadi anak yang tidak berguna. Karana rasa takutnya tadi akhirnya Ica terpaksa menerima perjodohan ini.


"Yaaa udah kalo Kamu gak mau, Mama gak maksa cuma sekarang Mama tau kalo Kamu sebenarnya gak sayang sama Mama dan Papa."


Mama Ica beranjak meninggalkan Ica


Namun belum jauh ia melangkahkan kaki, Ica mengeluarkan beberapa patah kata yang memebuat ukiran senyum terbentuk di wajah Mama Ica. Sedangkan Ica terlihat begitu kacau dengan mata sembab karna menangis.


" Iya, Ica mau kok. Tapi jangan bilang Ica anak durhaka yaa Ma jangan bilang Ica gak sayang Papa Mama, Ica sayang banget Ma hiks ... hiks ... hiksssss ...!"


Nafas ica berat di tambah lagi ia mengais sampai sesegukan, fikirannya berkecamuk tak menentu memikirkan perjalanan ini.


"Ya sudah siap-siap gih, nanti ada Bima yang bakalan anterin Kamu ke sekolahan ok."


"Iya Mah ..., hiks ... hiks ...!"


Sekarang Mama Ica sudah benar-benar tidak terlijat di ruangan itu, sedangkan Ica masih menikmati kesedihannya.

__ADS_1


__ADS_2