
"Ku heningkan pendengaran ku dan mulai berdiskusi dengan hati kecilku : kuatlah, sabarlah, tangiskanlah, hari ini boleh kamu rasakan sakit itu. Tapi yakinlah, semua yang berada di atas pijakan bumi pasti akan ada akhirnya. Begitu juga dengan rasa bahagia, semua terus berputar dan kitalah porosnya."
__________________________________________________________________________________________
"Urusan ini belom selesai Bim, Lo gak bisa tetep bersikap tenang kayak gini!" Hans kembali melanjutkan topik pembicaraan mereka. Sedangkan Ica sudah istirahat di kamarnya.
"Iya Hans Gue ngerti, tapi Gue juga bingung harus kayak gimana? Gue nyesel." Jawab Bima dengan wajah lesu.
"Sekarang Ingatan Ica yang dia lupain itu ibarat bom buat Lo, bom itu hasil dari buatannya Lo sendiri Bim. Ini namanya senjata makan tuan." Ucap Hans meluapkan kekecewaannya pada Bima.
"Jujur Bim, Gue kecewa sama Lo! Gue cuma berharap kalo nanti waktunya udah tiba, semoga Lo kuat terima apapun keputusan Ica atas hubungan kalian." Sambung Hans mendo'a kan Bima.
"Makasih banyak ya Hans, Gue sadar kesalah fatal ini! Gimanapun nanti keadaan kedepannya, insyaallah itu emang udah jalan yang harus Gue tempuh." Tutur Bima mencoba menerima keadaan.
"Yah ... Semoga pernikahan Lo bisa berjalan dengan lancar Bim, Gue balik dulu ya! Jangan kecewa in Ica lagi, udah cukup dia rasa in sakit fisik. Jangan Lo tambah lagi sakit batinnya." Hans berucap sambil memegang pundak Bima.
"Mungkin Gue masih bisa bantu Lo kalo Dia sakit fisik, tapi kalo batinnya Gue angkat tangan." Hans terus saja berceloteh ria, sedangkan Bima hanya bisa pasrah mendengarkan tamannya ini.
"Satu lagi Bim, orang tua Ica pasti bakal hancur banget hatinya Kalo sampek mereka tau Ica malah di sakitin sama orang yang mereka percaya bisa jaga dia. Gue gak kebayang giamana nasib Lu!" Kata-kata Hans kali ini malah membuat Bima bergidik ngeri.
__ADS_1
Rasain Lo! Salahnya macem-macem sama anak orang. Emang brengsek temen Gue ini, patut di musnahkan. Batin Hans sambil tertawa geli melihat Bima.
"Ya udah, Gua balik dulu ya!" Hans berlalu pergi meninggalkan Bima sendirian, dengan posisi duduk termenung memikirkan ucapan-ucapan Hans barusan.
"Huuuuuuh ... Astagfirullah Al-'Adhim!" Bima menopang wajah sambil mengucap istigfar.
Setelah cukup lama menenangkan diri, akhirnya Bima kembali menilik keadaan gadis yang sedari tadi di tinggalkannya sendirian di dalam kamar.
Ternyata Ica sedang tertidur pulas, sampai-sampai terdengar dengkuran kecil keluar dari mulut mungilnya itu. Bima mendekat dan mengepalkan jemarinya di telapak tangan Ica, mata tajamnya terus memandang gadis itu tanpa berkedip sedikitpun.
"Sayang, mungkin kata maafku tidak akan mampu membayarkan rasa sakitmu. Mungkin setelah Kau ingat semuanya, tak ada lagi waktu untukku dapat memandang dengan tenang wajah menggemaskanmu." Ucap Bima seraya terus mencium punggung tangan Ica.
"Bahkan saat kau sudah tak sudi lagi mendengar nama si brengsek ini. Aku masih akan tetap sama, selalu menjadi orang yang sangat menyayangimu." Lanjut Bima dengan wajah tertunduk di gengaman tangan gadis itu.
Begitu sakit ia rasakan saat ini, masa depan dan kebahagian akan hancur dalam hitungan waktu.
- - - - - oOo - - - - -
Tak terasa pernikahan Bima dan Ica hanya tinggal menghitung hari, semua persiapan hampir 100% selesai. Semua undangan dan lain sebagainya sudah rampung di kerjakan, terpancar jelas raut bahagia dari dua insan yang sebentar lagi akan sah menjadi satu paket pasangan suami istri.
__ADS_1
"Sayang hari ini papa sama mama baru pulang ya?" Tanya Bima pada Ica yang sedari tadi masih asik mengupas buah apel di tangannya menggunakan pisau kecil.
"Iya, papa sama mama lama banget pulangnya! mereka dari minggu lalu terus aja menunda kepulangannya, sampek hari ini baru beneran jadi pulang." Gadis itu menggerutu pelan, Ia begitu kesal dengan kedua orang tua nya.
" Yahhhh namanya aja sibuk kerja, Kamu harus maklumin itu!" Bima mengelus pundak Ica mencoba memberikan penjelasan agar Ica tidak cemberut kesal.
"Iya tapi, kan. Kita bentar lagi nikah Ka, papa sama mama malah kayak cuek gitu. Ica gak enak sama keluarga Kakak, liat mereka selalu bantu Kita." Ica menatap Bima sambil menyuapkan potongan apel ke dalam mulut Bima.
"Yahh gak apa-apa, Kita juga harus ngertiin Sayang! Kasian papa sama mama juga capek pulang kerja, gak baik Kamu ngomong gitu." Bima terus saja tidak menyetujui pendapat gadis yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya itu.
Mereka berdua masih terus saja asik bercanda, mengobrol, saling tukar perhatian seolah-olah hanya mereka pasangan pemilik muka bumi ini yang lain ngontrak.
Sampai pada akhirnya terdengar suara Sirine Ambulans di tengah-tengah kemesraan mereka sore itu.
"Ni ... No ... Ni ... No ...!" Tubuh Ica tiba-tiba tersentak kaku.
Wajah cerianya berubah menjadi ekspresi takut sampai-sampai tubuhnya gemetar tak karuan, air mata dan kringat terus bercucuran.
Suara sirine itu masih terus bergiang di sekitar Mereka, Bima terlihat sangat panik. Apakah ini pertanda kekacauan akan segera datang? Kumohon jangan sekarang, Aku belum sah menjadi suaminya ya allah. Bima membatin dalam hati sambil terus mencoba menyadarkan Ica.
__ADS_1