Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 44) Hasil! 2


__ADS_3

"Kadang kala kita sudah mencintai seseorang yang benar, hanya saja cara kita mencintainya yang salah."


__________________________________________________________________________________________


"Baiklah jika memang itu keputusan terbaik, Kami bisa apa?" Ayah Bima sudah pasrah, ia tak mungkin memaksakan kehendaknya.


"Kami minta secepatnya dia pergi dari sini! Karna Saya khawatir jika dia masih tetap di sini dan salah satu dari pihak Kami melihatnya, Kami takut tak sanggup mengotrol emosi." Pak Bowo kembali menegaskan permintaan pihak keluarga Ica.


"Kami akan membayar semua kerugian yang keluarga besar Pak Dian tanggung! Kami sdar semua ini akibat ulah anak kami Bima." Ucap Restu, Sambil mengeluarkan sebuah koper berwarna hitam berukuran cukup besar.


Mereka benar-benar ingin menebus masa depan anakku dengan uang, mereka fikir saya menjual anak saya sediri apa? Batin Dian dalam hati menahan murkanya


"Ahahahha ...! Anda sedang bercanda? Atau anda sedang mencoba menghina keluarga kami?" Dian terkekeh pelan sambil matanya menatap tajam ke arah keluarga Bima.


"Bukan begitu maksud Kami Pak Dian, tapi ya sudahlah intinya kami meminta maaf yang Sebesar-besarnya pada Ica pastinya dan keluarga besar Pak Dian." Restu dengan segera meminta maaf, ia merasa tidak enak pada Dian.


"Kami meminta satu permintaan sebelum kita benar-benar menyudahi musyawarah ini." Ucap Restu dengan penuh wibawa.


"Saya juga mau menyampaikan salam dari Ica anak ku untuk Bima, Ica sudah memaafkan semua kesalahannya." Ucap Dian dengan santai.


" Lalu apa permintaan itu Pak Restu?!" Tanya Dian singkat.


"Dalam kurun waktu 9 bulan kedepan Kami ingin mendapatkan kabar dari Ica, kalau-kalau dia nanti mengandung cucu Kami. Jadi mohon izin dan kerja samanya!" Tutur Restu penuh harap sebenarnya.

__ADS_1


"Ok baik, Saya rasa hasil sudah Kita dapatkan. Trimakasih atas waktunya, Kami permisi." Tanpa basa-basi, Dian dan rombongan langsung beranjak pergi meninggalkan keluarga Bima di ruangan Itu.


Begitu juga dengan pihak dari Bima, setelah cukup lama berbincang-bincang akhirnya mereka kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Sedangkan Bima masih menunggu dengan gusar di dalam ruang kerjanya. Bima masih terus berdo'a dan berharap agar pernikahannya tetap dapat di lanjutkan. Sedari tadi kakinya terus berjalan kesana kemari, sambil sesekali jemarinya digunakan untuk menusap pelan pucuk kepalanya.


"Tok ... Tok ... Tok ...!" Suara pintu di ketuk dari luar.


"Bagaimana hasilnya? Bima masih bisa lanjutkan pernikahannya? Ica maafin Bima, kan Yah?" pertanyaan Bima langsung bertubi-tubi di lontar kan pafa restu.


"Emmm ...," Restu hanya berdehem lembut sambil melangkah kan kakinya memasuki ruangan dan langsung di ikuti oleh Bima dari belakang.


"Yah ...?" Bima kembali bertanya.


"Bima ..., Ica sudah memaafkan kesalahanmu nak." Ucap Restu pelan.


"Tapi Nak ...!" Restu menggantungkan ucapannya, membuat Bima menghentikan aktivitas selebrasinya.


"Tapi apa Yah ...?" Bima menilik penasaran ke arah Ayahnya penuh rasa bertanya-tanya.


"Kita tidak bisa melanjutkan pernikahanmu, nak!"


Seketika ekspresi bahagia itu berubah, Bima melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Ayahnya.

__ADS_1


"Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda Ayah!" Bima masih berdiri dengan senyuman kecut dari ujung bibirnya.


"Kapan Ayah bercanda untuk hal yang serius?"


Tanya Restu Tanpa mengubah ekspresi.


"Tapi kenapa?! Bima sayang sama Ica. Bima tau ini salah, tapi Bima akan tanggung jawab." Bima merasa syok setelah mendengar kabar yang menohok hatinya itu.


"Maaf kan Ayah! Tapi kamu harus pergi dari kota ini nak! Itu permintaan Ica untukmu." Ucap restu Sambil mendekat dan mencoba menepuk pelan pundak Bima.


"Ayah ..., Tolong tinggalkan Bima sendiri!" Ucap Bima dengan suara datar tanpa sedikitpun menoleh ke arah restu.


"Yaa ... Baiklah, Ayah rasa kamu sudah memahami ini semua. Tidak semua di dunia ini bisa kita atur Nak, termasuk prasaan orang lain terhadap kita." Setelah mengucapkan kalimat itu Restu mulai beranjak meninggalkan Anak sulungnya itu.


Bima masih berdiri dan tertegun, prasaannya kalut atas apa yang beru saja di dengarnya. Cukup lama membeku, akhirnya Bima berjalan keluar ruangan itu sambil mengenakan jaket hitam panjang hampir selutut.


"Bima ...! Mau pergi ke mana nak?" Suara halus terdengar di antara beberapa pasang mata yang menatap bingung ke arah Bima.


Bima sama sekali tak menggubris pertanyaan yang jelas tertuju padanya, Ia terus melangkah kan kakinya cepat dan masuk ke dalam mobil mewahnya.


Suara mobil yang di Kendarai Bima terdengar membelah malam yang sunyi, mobil terus melaju degan kecepatan tinggi. Entah di mana akan bertambat, mobil itu seolah-olah mewakilkan prasaan Bima saat ini.


Dua hari lagi seharusnya pernikahan yang di idam-idamkanya akan terlaksana. Namun semua yang di susun Bima dan Ica sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun hancur berantakan dalam waktu kurang dari 1 minggu.

__ADS_1


Namun hasilnya sekarang telah Ia dapatkan, bukan hanya dirinya yang merasakan sakit tapi seorang gadis yang sangat ia sayangi juga ikut terkena imbasnya.


Semua orang yang tak bisa memahami maksud dan tujuannya pun ikut menganggapnya sebagai ********, tak ada yang salah dan tak ada yang benar. Hanya saja tak ada yang bisa menghalangi pendapat orang lain terhadap apa yang telah kita lakukan, semua orang memang mempunyai hak untuk menilai.


__ADS_2