
"Waktu tidak akan sanggup mengobati luka seseorang yang pernah merasakan sakitnya di tinggalkan."
__________________________________________________________________________________________
"Kakak udah jahat sama kamu Ca ..., Kakak udah tega tinggalin Kamu tanpa alasan. Kakak nyesel Ca ...!" Sambung Tio lirih.
Tio menundukkan kepalanya di antara lututnya, Ia memeluk tubuhnya sendiri. Sungguh Ia sangat merasa bersalah pada gadis itu.
"Tidak ada yang perlu di sesali Kak, Hiks ... toh I-ica juga baik-baik saja. Jadi jangan pernah ngerasa bersalah atas Ica." Gadis itu berusaha tegar, walau sebenarnya hatinya saat ini hancur.
"Tapi Ca? Kakak tinggalin Kamu saat Kamu lagi butuh kehadiran Kakak, apa bener Kamu ngerasa baik-baik aja?" Tio sedikit meninggikan nada Bicaranya, setelah mendengar semua jawaban Ica yang sedari tadi terdengar tabah dan baik-baik saja.
"Hahah ... kalo masalah itu Kak, memang tidak ada orang yang akan baik-baik saja setelah dirinya di tinggalkan." Ica tertawa kecil menanggapi perkataan Tio yang menanyakan keadaannya.
Tapi bagi Ica, hal itu bukanlah hal yang penting. Ica menjawab pertanyaan Tio itu apa adanya, sesuai yang ia rasakan.
"Intinya Ica sekarang udah mulai terbiasa, bahkan saat orang sebutin nama Kakak di depan Ica! Saat itu juga gak ada gambaran apapun lagi tentang Kakak di fikiran Ica." Ica menggambarkan prasaannya sekarang ini.
"Ica berharap kakak juga gitu, gak ada yang perlu Kita sesali lagi sekarang ini." Lanjut Ica tanpa memberi kesempatan Tio untuk menjawab.
Ica terdengar sangat tegar, mungkin karna memang Ia sudah benar-benar menganggap Tio hanya sebagai seseorang yang pernah mengisi ceritanya di masa lalu.
"Ya sudah, di sini sudah larut malam. Ica butuh istirahat, semoga Kakak sehat selalu di sana. Assalamualaikum." Ucap Ica cepat.
__ADS_1
Ica menutup sambungan telepon sepihak, Setelah sambungan telepon sudah benar-benar di pastikan terputus deraian air mata itu kembali berlinang. Hati gadis itu begitu hancur, setelah sekian lama akhirnya dia kembali dan mencoba memperbaiki kesalahan.
Sedangkan pria di sebrang sana masih tertegun, ia tidak percaya dengan apa saja kalimat yang di dengarnya langsung keluar dari bibir gadis itu.
"Apa benar-benar sudah tidak ada lagi Aku di hatimu sayang, sedalam itu kah luka yang Ku perbuat padamu? Aaaaaaarghhhhh ...!" Tio berteriak kencang.
Tanpa permisi Tio melabukahkan bogem mentahnya di pintu kaca yang berada tepat di sampingnya, mencoba meluapkan emosinya. Ternyata gadis itu tumbuh menjadi gadis yang sangat dewasa setelah kepergiannya, dan itu membuat Tio semakin khwatir Ica akan benar-benar menikah dengan Bima.
"Kalau kayak gini ceritanya, gak bisa di diemin! Gua harus ke sana secepatnya untuk bujuk Ica kembli ke pelukan gua." Tio berdiri dan langsung menuju meja kerjanya.
"Kemari sekarang juga! Ada perkerjaan untuk Mu," sekitar 5 menit dari menelpon seseorang itu, masukklah seorang wanita cantik ke ruang kerja Tio.
"Ada yang Bisa Saya bantu Pak?" (Dalam bahasa belanda) Wanita itu adalah sekretaris Tio di kantornya ini.
Tio sepertinya akan pergi, sampai-sampai Dia memberikan tugas itu kepada sekretaris dan sepupunya. Kelvin adalah sepupu Tio yang tinggal di Belanda.
"Tapi Pak, ini akan sulit!" Elena sedikit membantah perintah Tio, seketika Tio menatap tajam ke arahnya.
"Baiklah Pak , akan kami atur sebisa mungkin. Kami tidak akan mengecewakan Bapak." Melihat Tio manatapnya tajam, seketika membuat Elena menjadi takut.
"Baiklah silakan pergi!" Ucap Tio sedikit berteriak.
Elenapun pergi meninggalkan Tio yang masih asik berkutat dengan laptopnya, entah apa yang sedang di priksanya.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, seorang gadis sekarang tengah duduk termenung sambil memeluk lututnya di pinggir tempat tidur. Tubuhnya masib sedikit lemas, fikirannya berkecamuk.
"Kenapa dia datang setelah sekian lama hilang? Apakah ini cobaan dari Allah untuk meneguhkan pilihanku?" Tanya Ica pada dirinya sendiri.
Ica memandang foto yang berada di atas nakas, terlihat di foto itu Ica bersama Bima saat di pasar malam merayakan ulang tahun Ica yang ke 17.
"Kakak Ica gak akan kecewain Kakak, Ica bakal tepatin perkataan Ica, sekuat tenanga Ica bakal bertahan buat tujuan Kita." Ica mulai mengutarakan isi hantinya pelan.
"Dia sekarang udah benar-benar gak ada tempat lagi di hati Ica," air matanya terus mengalir. Sepertinya permainan akan segera di mulai batin Ica, tapi Ica berencana untuk tidak memberitahukan ini dulu pada Bima. Ica tkut nanti Bima akan emosi dan melakukan tindakan yang membahayakan.
Mata indah Ica terlihat sedikit sembab, Ia melirik jam yang bertengger di dinding kamarnya. Ternyata sudah jam 01.45, Ica bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil air whudu. Ia ingin menangkan hatinya dan melepaskan beban fikirannya, dengan cara melaksanakan sholat Tahajjud malam ini.
Setelah selesai melaksanakan niatnya, Ica kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kesayangannya itu. Alhamdulillah, sekarang hatinya sudah merasa jauh lebih tenang di bandingkan yang tadi. Perlahan mata indahnya itu mulai terlelap kembali, sungguh Ica sebenarnya tidak ingin hal seperti ini terjadi.
"Tok ... tok ... tok ...!"
Suara pintu di ketuk sedikit keras berkali-kali dan itu membuat Ica mulai terjaga dari tidur singkatnya itu. Ica menggeliatkan tubuhnya mencoba memfokuskan pemandangan, tubuhnya berjalan gontai menuju pintu berniat membuka pintu yang sedari tadi di ketuk tanpa henti.
"Cklekkk ...," terpampang lah sesosok pria berkulit hitam manis menggunakan baju kaos berwarna hitam, terlihat sedikit ketat di tubuhnya karna otot-otot itu. Baju yang di pakainya di padukan dengan celana panjang berwarna cream. Sungguh penampakan yang menyenangkan sekali di pagi hari seperti ini.
"Bangun sayang ..., katanya mau sekolah hari ini?" Bima mengelus pelan pucuk kepala Ica yang masih bersender di pintu, tubuhnya masih sangat lemas.
"Bobo 10 menit lagi ya ...! Habis itu Ica mandi, sholat subuh, kita sarapan baru brangkat ok." Ica menjawab perkataan Bima sambil menikmati sentuhan lembut yang di berikan Bima padanya.
__ADS_1
Mendengar penuturan Ica, seketika membuat Bima tertawa. Tangan Bima menunjuk jam dinding yang ada di dalam kamar Ica, melihat itu Ica langsung memeriksa ke arah jam. Matanya membulat sempurna, Ica sangat terkejut ternyata sekarang sudah jam 6.30 ternyata Ia bangun kesiangan.