Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
TERIMA


__ADS_3

Tiga orang itu terus menertawakan sikap polos gadis yang berada di hadapan mereka. Puas dan tidak tega sebenarnya membuat gadis itu meneteskan air mata, namun itu di sengaja agar gadis itu menjadi sebal.


"Udah ... udah! Kasian tu mewek terus ...," ucap Tari pada Ruslan dan Octa meminta mereka berhenti mengejek gadis itu.


"Huuuuh ...!" Ruslan membuang nafasnya cepat, berusaha untuk tidak tertawa begitu juga dengan Octa.


"Baiklah, Abi mulai ya ...!" Ucapnya sambil membaca do'a terlebih dahulu.


"Silakan Nak Octa sendiri yang menyampaikannya langsung! Apa tujuan Nak Octa berkunjung ke kediaman Kami ini?" Ucap Ruslan melanjutkan Ucapannya tadi.


"Iya Abi trima kasih banyak, jadi begini Abi, Umi. Octa kemari, pertama dengan tujuan ingin silaturahmi dengan Abi, Umi, dan Ica tentunya." Ucap Octa menjelaskan dengan perlahan.


"sedangkan yang kedua, Octa Ingin meminta Izin dan restu dari Abi dan Umi." Ucap Octa dengan suara yang pelan namun tetap tegas.

__ADS_1


Mendengar penuturan Octa yang agak aneh di fikirannya, dengan cepat tubuh Ica merespon. Ekspresi wajah gadis itu seketika berubah menjadi bingung, alisnya bertautan sampai hampir menyatu.


"Izin dan restu atas apa Nak Octa?" Tanya Ruslan yang sebenarnya sudah tau tujuan Octa.


"Octa dan Ica sudah saling kenal cukup lama Abi, Umi dan niat Octa ingin mengajak Ica ke arah yang lebih serius. Karena Octa tidak ingin bermain-main dan berlama-lama hanya menjalin ikatan tanpa kejelasan, Octa ingin menghalalkan Ica sebagai istri Octa." Ucap Octa dengan telapak tangan yang berkeringat, sedangkan Ica jantungnya langsung berdegup kencang mendengar penuturan pemuda itu.


Ruslan dan Tari hanya mengangguk pelan mencoba mencerna ucapan Octa tadi,


"Octa belum bermaksud melamar Ica sekarang ini, hanya saja Octa mau meinta Izin, restu dan mengutarakan niat serius Octa pada Ica." Tutur pemuda itu kembali menjelaskan.


"Baiklah, niat dan tujuan Nak Octa sudah Kami dengar dan Kami selaku orang tua Ica pasti selalu merestui apapun pilihan terbaik untuk Ica. Hanya saja Nak Octa, semua keputusannya ada pada gadis manja ini!" Ucap Ruslan menanggapi perkataan Octa yang panjang lebar tadi.


"Jika nanti ternyata hasilnya tidak sesuai harapan tolong jangan membuat Kita berkecil hati, apa bila nanti hasilnya sesuai harapan jangan sampai membuat kita terlalu bersenang hati." Lanjut Ruslan dengan ramah.

__ADS_1


"Benar itu nak Octa, terlebih lagi Anak gadis kami ini sangatlah manja. Dia ini anak satu-satunya di keluarga, jadi jika sikap dan sifatnya sedikit tidak sesuai tolong di bantu menegur dan membimbingnya." Ucap Tari ikut menanggapi.


"Iya Abi, Umi! Insyaallah Octa berusa semaksimal mungkin, Octa pun begitu masih banyak kurangnya." Ucap Octa menanggapi dengan sedikit malu-malu.


"Jadi bagaimana Ica?" Tanya Ruslan sambil tersenyum lembut.


Beberapa detik berlalu, masih tak ada suara dari gadis itu. Hanya senyuman manis yang tersirat di wajahnya dan tatapan penuh harap yang di hadirkannya.


"Biasanya jika seorang gadis hanya diam tersipu malu dan tersenyum, itu artinya Sang gadis setuju." Ucap Tari sambil terkekeh pelan melihat tingkah Ica.


"Ahhaha! Ica ... Ica, ternyata Anak gadis Abi bisa malu." Ucap Ruslan sambil tertawa mencoba menyarankan suasana.


Octa dan Tari kompak ikut terkekeh gemas melihat pipi gembil gadis itu mulai merona, sedangkan Ica hanya bisa menunduk menutupi rasa malu yang bercampur dengan bahagia yang sedang ia rasakan itu.

__ADS_1


"Umi ..., jangan ledekin Ica kayak gitu! Ica malu ...," rengek Ica pada Tari sambil memegang lengan Tari lembut.


Sesaat dua pasang mata itu saling bertemu, tatapan mereka seolah saling berbicra. Berusaha mengungkapkan apa yang sedang melanda prasaan mereka masing-masing, namun keadaan memaksa mereka untuk memberhentikan aktivitas indah nan menenangkan itu untuk sementara waktu.


__ADS_2