
"Abang, Kita duduk di sini aja ya!" Pinta gadis itu sambil menepuk kursi panjang yang terbuat dari bilah besi.
"Ok, Abang nurut sama Ibu sekertaris." Ucap Octa sambil mengacak pucuk kepala Ica gemas.
"Pak Bos gitu! Nurut-nurut terus." Ucap Ica yang sudah duduk manis menatap Octa silau, karna pemuda itu masih berdiri.
Tanpa fikir panjang, Octa ikut duduk sambil terkekeh pelan karna ulah lucu gadis kesayangannya itu. Lama tak ada suara di antara dua insan itu, sepertinya mereka tengah menelusuri fikiran mereka masing-masing.
Sampai pada akhirnya, Octa mencoba untuk buka suara.
"Jadi ...?" Ucap Octa dengan nada bertanya, dan itu berhasil membuat gadis di sampingnya sedikit bingung.
"Jadi, sayang Abang ...!" Jawab Ica dengan riang, gadis itu sudah terlalu bucin saat ini.
"Iya bawel, udah tau ...!" Tutur Octa sambil menggelengkan kepalanya kiri dan kanan karna tak menyangka sikap gadis Kesayangannya itu terlalu bucin.
"Yah terus apa ...?" Tanya Ica penasaran sambil menatap Octa.
"Jadi kamu," Octa menggantungkan ucapannya sesaat.
__ADS_1
"Gadis mungil yang bernama DaraMonica Agata." ucap Octa dengan menatap lembut mencoba menyatukan tatapannya pada sepasang mata gadis itu.
"Bersediakah Kamu, menjadi istriku, Ibu dari anak-anakku, Menantu dari kedua orang tuaku, Cucu dari kakek dan nenekku, Keponakan dari ..., huuuuh ... huuuuh ...?!" Octa berkata panjang lebar, sampai-sampai nafasnya sedikit tersengal dan akhirnya ucapannyapun terputus.
Ica hanya terdiam, hatinya berdesir. Bahagia rasanya di pinang seseorang yang memang kita sayang, tapi di sisi lain hati ica ikut menyuarakan sesuatu yang berbeda.
"Jadi, giamana jawabannya Sayang?" Tanya Octa lagi, tapi dengan kalimat singkat.
Belum ada jawaban, gadis itu hanya menundukkan kepalanya tak sanggup menatap Octa. Bahkan sekarang, kelopak matanya mulai menimbun tetesan air yang sebentar lagi akan mencur bebas.
"Kenapa sayang?" Tanya Octa mulai cemas dengan sikap Ica.
"Kenapa gitu? Kan Abang emang sayang Ica." Jawab Octa heran sambil menaikkan satu alis tebalnya.
"Ica Ud---, hiks ... hikss ... hiksss!" Ucapan Ica tertahan oleh desakan rasa perih di dada, bibirnya juga seakan tak sanggup untuk berucap.
"Terusin aja Sayang, Abang dengerin kok ...!" Tutur Octa meyakinkan Ica lalu ia menggenggam erat kedua tangan Ica, mencoba memberikan semangat.
"Ica udah gak suci lagi Abang, maaf ...! Hiks ... hikss ... hiksss, maaf ...!" Tutur Ica penuh keyakinan namun juga rasa sedih akan kenyataan itu.
__ADS_1
Octa terdiam seketika, semua anggota tubuhnya baik dalam maupun luar ikut mencerna kalimat yang di ucapkan Ica tadi. Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya agar bisa berfikiran baik pada Ica.
"Itu cuma becanda, kan?" Tutur Octa lembut dan terlihat syok.
"Itu benar Abang, Ica sudah tidak perawan." Ica mengulang pernyataannya dengan nada tegas, dan ia menggunakan kata yang jelas dapat langsung di mengerti oleh Octa. "Hiks ... hikss ... hiksss ... maaf!" Lanjutnya sambil terus menunduk dengan deraian air mata.
Wajah Octa tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi, kalimat itu berhasil menghujam hatinya. Ia terlihat sangat syok sampai tak sanggup berkata lagi, sekarang ini yang sedang terjadi adalah perdebatan antara prasaan dan logikanya.
"Maaf Abang ..., Ica bukan gadis baik seperti yang Abang fikirkan, Ica gadis kotor, Ica gak pantas untuk mendapatkan Abang ... hiks ... hikss!" Ica mulai meracau tak karuan dengan di iringi tangisannya.
"Abang pasti udah gak mau lagi nikah sama Ica! Tapi gak apa-apa, Ica ikhlas. Ica udah tau konsekuensinya dari awal, Maaf Ica baru bisa jujur ... hiks ... hikss ... hiksss!" Ica berucap seakan dunianya telah runtuh, yang ada di fikirannya saat ini harus mengiklaskan kepergian Octa.
Sedangkan Octa masih terdiam, ia perlahan mencoba mencerna setiap ucapan gadis itu.
"Ica akan pergi jauh dari hidup Ab---," ucapan Ica tiba-tiba terhenti. Itu semua terjadi karna Octa telah membenamkan wajah gadis itu tepat di dalam dekapan tubuhnya.
"Udah Cukup!" Tutur Octa dengan suara yang parau, ia juga sedang menahan gejolak di tubuhnya.
" HUAAAAA ... hiks ... hikss ... hiksss ...!" seketika tangisan Ica pecah, tak ada sepatah kata yang akan sanggup menggambarkan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
__ADS_1