
"Maaf ...! Hiks ... hikss ... hiksss," suara sesegukan terdengar jelas dari tubuh seorang gadis yang membenamkan wajahnya di dada bidang Octa.
Suasana saat ini di dukung dengan belaian angin semilir yang menerpa, di tambah sinar hangat mentari pagi yang terlihat setia menemani sepasang insan yang sedang sibuk dengan fikiran mereka.
"Shutt ...!" Suara Octa terdengar lembut begitu juga jari telunjuknya yang menempel pelan di bibir merah ica, ia memberi isyarat pada Ica agar gadis itu berhenti meminta maaf.
"Biarin Abang peluk Kamu, tumpahin semua kekacauan hatimu selama ini Sayang!" Ucap Octa sambil mengeratkan pelukannya, ia tak perduli orang di sekitarnya saat ini karena yang terpenting baginya adalah Ica.
Tak ada sepatah Katapun yang di keluarkan Ica untuk menanggapi ucapan Octa, gadis itu hanya terus saja menagis pilu beberapa saat sampai suara tangisannya mulai di ganti dengan sesegukan pelan.
Nafasnya perlahan mulai teratur, namun lingkaran tangannya masih enggan untuk berpindah dari posisinya yang sekarang ini. Pemuda yang sedang memeluknya saat ini, telah berhasil membuatnya menjadi kembali kuat walau ia belum tau bagaimana kelanjutan kisahnya nanti.
"Tapi ..., itu bukan kemauan Kamu sendiri, kan?" Tanya Octa setelah memastikan suasana kembali membaik.
"Bukan Abang!" Jawab Ica pelan sambil menggelengkan kepalanya cepat.
"Siapa orangnya, Sayang?" Ucap Octa kembali bertanya.
__ADS_1
"Orang itu adalah mantan calon suami Ica dulu Abang ..., !" Tutur Ica menjawab pertanyaan Octa.
"Jadi kamu sebelumnya sudah pernah hampir menikah?!" Ucap Octa kaget, lalu menangkup wajah Ica agar ia bisa menatapnya. Sedangkan Ica hanya mengangguk, tanda membenarkan.
"Kapan itu terjadi?" Octa kembali bertanya.
"Saat itu pernikahan Kami sebentar lagi di laksanakan, dan dia malah menjahati Ica." Tutur Ica menjelaskan kejadian itu secara singkat.
Air mata Octa tiba-tiba meluruh dengan tatapan nanar ke arah Ica.
"Abang gak nyangka aja, ternyata gadis yang selama ini terlihat begitu ceria malah bisa dengan hebatnya menutupi rasa sakitnya." Lanjut Octa setelah cukup lama hanya memandang Ica sedih.
Ica hanya tersenyum kecut menanggapi ucap Octa, ia tak pernah menyangka jika tanggapan Octa bisa sebaik ini.
"kenapa itu bisa terjadi?" Ucap Octa bertanya, ia sangat penasaran akan masalah ini.
"Itu semua karna salah faham, dia kira Ica selingkuh. Pada saat itu papa dan mama sedang tidak di rumah, tiba-tiba dia datang dan langsung jahatin Ica." Ica menjelaskan dengan susah payah, karna sekarang ini air mata mulai kembali menumpuk.
__ADS_1
"Ica gak akan maksa Abang untuk terus bertahan dengan Ica, karna Ica tau hal itu adalah masalah penting bagi laki-laki." Lanjut Ica sambil menunduk karna air matanya mulai berjatuhan.
"Papa kamu sayang, kan sama Ica?" Tanya Octa sambil mengangkat wajah gadis itu menghadapnya.
"Iya, Papa sayang banget sama Ica. Papa gak marah sama Ica, Papa trima keadaan Ica, Papa malah minta maaf sama Ica." Jawab gadis itu panjang lebar dengan air mata yang terlihat jelas di pipinya.
"Nah, sama kayak abang ...! Abang sayang sama kamu, ngapain nyerah. Masak cuma masalah itu aja udah nyerah, Ica meragukan Abang?" Ucap Octa penuh keyakinan, dan kecerian.
Tak ada kata yang keluar dari bibir gadis itu, hanya tatapan pilu dan senyuman lebar yang tersungging untuk menanggapi ucapan Octa padanya.
"Hiks ... Hiks ..., Ica sayang Abang!" Tutur Ica sambil membenamkan wajahnya di dalam pelukan Octa.
Astagfirullah Ica, ternyata di balik sifat manjamu ada luka dalam yang sedang Kau tahan. Octa berucap dalam hati, sambil membalas pelukan Ica penuh kasih sayang.
"Maafin Abang Sayang!" Octa berkata sambil mengelus pucuk kepala Ica pelan.
"Abang gak akan mundur, apalagi hanya karna masalah itu." Ucap Octa tanpa sedikitpun keraguan, ia melanjutkan perkataannya.
__ADS_1