Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 37)


__ADS_3

"Ku heningkan pendengaran ku dan mulai berdiskusi dengan hati kecilku : kuatlah, sabarlah, tangiskanlah, hari ini boleh kamu rasakan sakit itu. Tapi yakinlah, semua yang berada di atas pijakan bumi pasti akan ada akhirnya. Begitu juga dengan rasa bahagia, semua terus berputar dan kitalah porosnya."


__________________________________________________________________________________________


"Dasar wanita murahan! Masih sanggup bertanya kenapa?!" Teriak Bima mengeluarkan kata-kata kasar.


"Apa maksud Kakak? Menyebutkan dengan sebutan itu!" Ica menjawab dengan nada sedikit meninggi, sambil menatap Bima nanar.


Lagi-lagi Bima tidak menajawab pertanyaan Ica, ia malah menangkup pipi Ica kuat lalu mengecup darah segar yang mengalir di dagu Ica. Dengan sekuat tenaga Ica menendang tubuh Bima agar menjauh darinya, Bima benar-benar menjadi orang yang berbeda.


"Emm ...! Baru kali ini terasa berbeda dari biasanya." Ucap Bima tanpa memperdulikan keadaannya.


Kak Bima menelan darahku, apa kah Kak Bima seorang pisikopat? Batin Ica sambil terus memandang Bima.


"Tolong kasih tau Ica! Kenapa Kakak sampe nampar Ica kayak gini?" Tutur Ica seraya mencoba berdiri dan berjalan mendekati Bima.


"Ternyata begitu ya caramu di belakangku, Kau wanita penghianat! Kau bermain di belakangku dengan laki-laki brengsek itu!" Bima meneriaki Ica sambil mencengkram pundak Ica kuat.


Mendengar penuturan Bima membuat Ica faham kenapa Bima sampai semarah ini padanya.


"Itu bukan seperti yang Kakak maksud, Ica gak ngehianatin Kakak! Ica sayang, sama Kakak hiks ...," Ica menjelaskan dengan suara sesegukan dan menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Haaah ...! Aku tidak perduli, apa yang Ku lihat itu lah fakta." Bima berteriak sembari mendorong tubuh Ica kuat sampai ica terjatuh lagi di atas tempat tidur.


"Buka baju mu! Jika tidak, akan Ku robek sekarang juga!" Ucap Bima tegas, membelakangi Ica.

__ADS_1


Mata Ica terbelalak kaget, setelah mendengar kalimat tidak masuk akal yang di keluarkan Bima. Ica tak percaya, Bima sanggup memintanya melakukan hal yang tidak mungkin itu.


"Apa Kakak sudah gila!" Teriak Ica, ke arah Bima.


"Kau yang gila ...! Bermain di belakangku. Memeluk laki-laki lain, masuk ke dalam hotel! Ucap Bima menjawab perkataan Ica.


"Kau tidak sama sekali menghargai Aku!" Bima meneriaki Ica dengan wajah merah padam.


"Aku tidak melakukan apapun Kak! Hiks ... hiks, aku tidak mungkin menghianatimu." Ica kembali menjelaskan dari belakang tubuh Bima.


"Krekkk ...!"


Tanpa basa-basi, Bima langsung melancarkan aksinya. Bima merobek paksa baju yang di pakai Ica, sedangkan Ica terus melakukan perlawanan.


"Hentikan dasar Kau BRENGSEK ..., Hentikan!" Ica terus berteriak sambil berusaha menghentikan aksi kurang ajar Bima.


"Di bayar berapa Kau untuk memuaskannya? Wanita murahan!" Bima berteriak kencang penuh penekanan di balik telinga Ica.


"Emhhh ... Emmh ...!" Suara Ica seketika tertahan, akibat ******* ganas Bima di bibirnya.


Manis ...! Lembut sekali ...! Semakin Kau melawanku, maka akan semakin menggila diriku. Batin Bima sambil berpindah menuju leher jenjang Ica, Bima menghisap kuat sampai menyisakan bercak merah di kulit mulus gadis itu.


"Berenti Kaka ...! Sakit ... arghhh ...!" Ica melenguh menahan sakit akibat perlakuan Bima padanya.


Bima menanggalkan satu persatu pakaiannya, hingga hanya menyisakan celana pendek berwarna hitam. Tubuh Ica semakin merasakan ketakutan, Ica menarik selimut mencoba menutupi tubuhnya yang sedikit lagi benar-benar polos di hadapan Bima.

__ADS_1


"Berhenti Kak...! Hiks ... hiks ...," Seisi ruangan itu di penuhi oleh raungan kesedihan Ica.


"Jangan ...!" Ica kembali berteriak, sambil menyilangkan tangannya di dada sedangkan kakinya saling menindih berusaha menutupi tubuhnya.


Bima tertegun sesaat karna melihat tubuh polos Ica yang putih mulus bak susu tanpa noda sedikitpun, di tambah lekuk tubuh Ica yang indah sempurna seperti mannequin.


"Hiks ... hiks ... hiks ...!" Ica menggeleng pelan menatap memohon ampun pada Bima.


"Ahhhhhk ..., Sakit Ka ... Sakit!" Lagi-lagi Ica kembali berteriak, sepertinya Bima tidak sama sekali memberi ampun.


Bima terus melancarkan aksi biadabnya tanpa memperdulikan Ica yang terus menangis, menahan kesedihan dan rasa sakit akibat perlakuan Bima. Sekarang di tambah lagi dengan fikirannya yang campur aduk, memikirkan nasip hidupnya di masa depan.


"Ternyata Si Brengsek itu belum menyentuhmu, tapi malah Aku lah yang pertama!" Bima meracau tak karuan di atas tubuh lemas Ica.


Bukannya merasa bersalah karna telah memfitnah dan melakukan hal kurang ajar pada Ica, Bima malah merasa bangga. Ia tidak memerdulikan Ica yang terus mencakar tubuhnya, mencoba memberikan perlawanan.


" Ni ... No ... Ni ... No ...! Cukup kak, hentikan ...! Hiks ... hiks ...," tangisan Ica di barengi dengan suara Sirine Ambulans yang sedang melintas, entah kenapa Ica berhenti melakukan perlawanan setelah mendengar suara sirine itu.


Bima tetap saja tidak memperdulikan Ica, ia terus saja dengan bengis meluapkan nafsunya. Tubuhnya menjadi sangat candu dengan Ica, sampai-sampai Ica tak berdaya lagi untuk melawan karna kehabisan tenaga.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02:45 dini hari, Bima tergeletak lemas di samping tubuh polos Ica yang diam sedari tadi. Sepertinya Ica pingsan tanpa di ketahui Bima, Bima memeluk erat tubuh Ica. Sekarang bima sudah puas, Amarahnya sudah hilang, fikirannya sudah kembali normal.


Bima mengusap frustasi wajahnya, matanya menatap wajah kacau Ica. Bima melihat ada bekas luka di ujung bibir merah gadis itu, bekas air mata yang mengering di pipinya, mata yang terlihat sembab karna terlaku lama menagis.


Di tambah cap lima jari Bima, yang masih bertengger indah di wajah Ica. Air mata Bima meluruh, ia sadar telah tega memperkosa calon istrinya sendiri hanya karna cemburu buta. Ia juga sudah memfitnah Ica dan berbuat kasar pada Ica.

__ADS_1


Bima mengeratkan pelukannya pada tubuh diam Ica, ia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Setelah cukup lama, Bima beranjak dari samping tubuh Ica. Ia memunguti pakaiannya dan mengenakannya satu persatu setelah selesai membersihkan badannya.


Tangan Bima menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh Ica, terlihat di beberapa bagian tubuh Ica terdapat tanda yang di buat oleh Bima. Namun beberapa di antaranya, ada yang sampai mengeluarkan darah karna permainan yang di lakukan Bima tadi sangatlah kasar.


__ADS_2