
"Kau abadi sebagai luka yang membekas, trimakasih untuk cintamu yang telah hadir walau bukan seperti ini kubayangkan kan berakhir."
__________________________________________________________________________________________
Wossh ... wossh ... wossh
Sekelebat ingatan Ica terus terngiang di kepalanya, ia terus saja menundukkan kepalanya sambil menggeleng pelan mencoba menghilangkan ingatan buruk itu.
Tapi bukannya hilang, ingatan itu malah semakin jelas berlintasan di kepalanya. Kepala Ica berdenyut hebat, ia merasakan sakit yang teramat sangat. Ica tak kuat walau hanya sekedar untuk membuka matanya, tangan Ica terus berpegangan erat di pinggir meja mencoba menjaga keseimbangan.
Ica sama sekali tidak memperdulikan Bima yang terus memanggil namanya, yang ada di fikirannya hanyalah ingatan buruk dan wajah bringas pria yang sedang menjahatinya itu.
Ica berteriak histeris ke arah Bima, Sungguh Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Beberapa kali ia mencoba untuk memukul tubuhnya sendiri, namun di tahan oleh Bima.
"Aaaak ... Prempuan kotor ...! Hiks ... hiks ...," Ica terus berteriak sambil menutupi wajahnya.
"Pergi Kamu ...! Brengsek pergiii ...! Jangan sentuh, Aku perempuan kotor. Menjijikkan ...!" Ica terus mengelu-elu kan dirinya sendiri sebagai wanita kotor, karna ingatan itu terus berlintasan di kepalanya.
"Sayang ... Sadar, istigfar ...!" Ucap Bima seraya memegang tangan Ica.
Bima terus mecoba membantu Ica untuk berdiri, karna sekarang tubuh Ica sudah tergeletak di lantai. Namun Ica terus saja menghindar, dengan tatapan penuh ketakutan memandang Bima.
__ADS_1
"Kakak jahat sama Ica, pergi ...! Kakak bilang, Kakak gak tau Ica kenapa? Tapi ternyata Kakaklah penyebab semuanya. Ica sakit Kakak, Ica kotor ... pergiiii ...!" Teriak Ica kuat penuh kebencian ke arah Bima.
Ica ingat sekarang, kenapa Bima bisa ada di kamarnya saat ia terbangun dengan keadaan tidak lazim minggu lalu. Ternyata dialah yang membuatnya merasakan sakit dan sekarang sakitnya bertambah, batin Ica begitu tersiksa saat ini.
"Maafin Kakak sayang, Kakak khilaf ...," Bima berlutut di depan tubuh gemetar Ica. mencoba meminta maaf pada gadis di hadapannya itu.
"Untuk apa Aku hidup? Siapa yang akan menerima gadis kotor dan menjijikkan sepertiku ...? Ucap Ica sambil berderai air mata.
Ica terus saja menghina dirinya sendiri, Ia sungguh merasa risih dengan keadaan tubuhnya sekarang ini.
"Enggak sayang, jangan ngomong kayak gitu! Kakak bakal tanggung jawab. Kita nikah, semua akan baik-baik saja." Bima berusaha meyakinkan Ica.
Mendengar penuturan Bima, seketika membuat Ica menatap wajah Bima dengan penuh kebencian yang tampak jelas dari sorot mata Ica.
"Tapi tolong, pergi jauh dari penglihatan Ica. Ica benci Kak Bima ...! Hiks... hiks ...," tutur Ica melanjutkan ucapannya tadi.
Bima tidak menjawab celotehan Ica, ia hanya terus berusaha mendekati Ica untuk menenangkan calon istrinya itu. Namun belum sampai tangan kekar Bima menyentuh tubuh gadis itu, Ica langsung mengambil pisau kecil yang digunakannya untuk mengupas buah apel tadi.
"Pergi ...! Jangan coba-coba buat deket Ica, apa lagi sentuh Ica! Kalo Kakak masih gak mau pergi, Ica bakal tusukin pisau ini ke badan Ica. Pergi ...! Teriak Ica sambil mengancam Bima dengan berkata akan menusukkan pisau di tubuhnya.
"Jangan Sayang ...! Iya Kakak bakal pergi, tapi jangan pernah coba buat lakukan hal bodoh itu."
__ADS_1
Ucap Bima panik dan mulai beranjak meninggal Ica.
Berani sekali Dia menyebutku dengan sebutan bodoh, jika aku bodoh lalu dia apa? Lagian siapa juga yang mau bunuh diri. Ica menggerutu di di dalam hati melihat Bima mulau menjauh.
Sekarang Ica sendiran di ruangan itu, ia tergeletak lemas dengan nafas belum teratur. Bima sudah tak terlihat lagi di ruangan itu, mungkin ia pergi ke ruangan lain. Ica menatap kosong ke arah jendela kaca di depannya, tiba-tiba ia kembali menangis sedih.
Kenapa harus kakak lakuin itu? padahal sebentar lagi kita sah jadi suami istri. Kenapa setelah Ica yakin sama Kakak? malah Kakak bikin Ica benci sama Kakak, kenapa**? Ucap Ica dalam hati sambil meringkuk mencoba memeluk tubuhnya sendiri.
"Mas Renal, Ica gak mau lanjutin pernikahan Ica Mas ...! Hiks ... hiks ... hiks ...," Ica sedang menelpon seseorang di sebrang sana sambil terus menangis. Sedangkan seseorang di sebrang telepon itu terkejut dengan ucapan Ica itu.
"Lohh ... kenapa Dek? Kamu kok nangis gitu?" Suara seorang pria terdengar nyaring menjawab heran atas ucapan Ica padanya.
"Gak apa-apa Mas, Ica gak mau pokoknya ...!" Ica menjawab dengan tegas pertanya Renal.
"Pernikahanmu tinggal ngitung hari. Jangan gegabah! Di musyawarah kan dulu, ada masalah apa to Dek? cerita sama Mas mu ini ...!"
"Hiks ... hiks ... hiks ...!" Ica terus saja menangis tanpa memberikan jawaban.
"Ya udah, Mas kerumah Mu sekarang juga, tunggu..! secepatnya Mas sampai yaa." Renal langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ica hanya terus sesegukan menangis. Sedangkan Bima, ia masih setia memperhatikan gadisnya dengan rasa hati yang sama tak kalah sakitnya dengan Ica.
__ADS_1
Maafin kaka sayang, maaf ...! Tubuh bima ikut meluruh di lantai seraya berucap dalam hati.
Sekarang Bima tinggal menunggu semua orang tau apa yang sudah di lakukannya, ia pasrah apapun kelanjutan ceritanya. Semua di serahkannya pada author... 😊