Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 39)


__ADS_3

"Ku heningkan pendengaran ku dan mulai berdiskusi dengan hati kecilku : kuatlah, sabarlah, tangiskanlah, hari ini boleh kamu rasakan sakit itu. Tapi yakinlah, semua yang berada di atas pijakan bumi pasti akan ada akhirnya. Begitu juga dengan rasa bahagia, semua terus berputar dan kitalah porosnya."


__________________________________________________________________________________________


Tanpa fikir panjang, Hans Langsung menarik kerah kemeja Bima kuat sampai Bima beralih posisi menjadi berdiri sejajar dengannya. Bima hanya diam tanpa melakukan perlawanan sedikitpun, bahkan saat Hans melayangkan sebuah gempuran keras tepat di tulang pipinya Ia tetap diam pasrah.


Tubuh Bima terhuyung ke belakang, Ia kehilangan keseimbangan akibat gempuran Hans beberapa detik yang lalu.


"Lo emang brengsek Bim!" Hans berseru ke arah Bima dengan nafas memburu, menahan emosi.


"Maafin Gue Hans, Gue khikaf Hans! Gue cemburu karna Ica diam-diam nemuin Tio di belakang gue." Bima mencoba menjelaskan alasannya pada Hans.


"Lo gila ...! Itu semua salah Lo sendiri, Lo yang gak angkat telepon Ica!" Hans berteriak di depan wajah Bima.


"Bim, Ica kemaren siang nelpon Gue. Dia nyariin Lo, mau minta temenin ketemuan sama Tio! Tapi Lo di mana haaa ...?" Hans melanjutkan Ucapannya.


"Sekarang Lo malah gak tau diri kayak gini?" Tutur Hans dengan nada tinggi.


"Maafin Gue, ini emang salah Gue." Bima berkata sambil menunduk.


Hans tidak memperdulikan penuturan Bima padanya, sekarang ia sedang fokus ke arah gadis bertubuh mungil yang sudah sadar dari pingsannya.


"Kalian kenapa berantem?" Ucap Ica pelan.


Ica mencoba bangun dari posisi tidurnya, namun dengan cepat Hans dan Bima menahan Ica agar tetap pada posisi rebahan.

__ADS_1


"Kak Bima kenapa nangis? Ica gak kenapa-kenapa kok. Terus kenapa mukanya Kakak lebam gitu? Hiks ... hiks ... hiks ...," tanya Ica penuh rasa khawatir.


"Kakak gak kenapa-kenapa Sayang, Kamu gimana masih perih kah?" Bima menjawab pertanyaan Ica sambil mengusap kasar sisa air matanya


Hans membuang muka, ia sangat muak melihat tingkah Bima yang seolah tanpa rasa bersalah. Bima masih mencoba bersikap manis, pada gadis yang jelas-jelas sudah di sakitinya itu.


Apa yang terjadi pada Ica? kenapa Dia malah mengkhawatirkan brengsek itu? Hans bertanya-tanya dalam hatinya, ia sangat bingung melihat tingkah Ica saat ini.


"Ikut Gue bentar! Ada yang mau Gue omongin," Hans menarik lengan Bima tanpa permisi dan langsung meninggalkan Ica di dalam kamar itu sendirian.


- - - - -oOo- - - - -


"Kenapa Ica gak marah sama Lo? Apa itu juga kemauan dia?" Tanya Hans pada Bima saat mereka sudah cukup jauh meninggalkan kamar Ica.


"Apa sebelum Ica pingsan tadi, dia udah dari pingsan sebelumnya?" Hans kembali bertanya, sepertinya Hans mulai bertingkah menjadi seorang dokter.


"Iya ..., Ica memang sudah dari satu kali pingsan sebelumnya, mungkin karna kelelahan." Ucap Bima seraya menundukkan wajahnya.


sebenarnya Bima malu pada Hans, Sebagai seorang laki-laki Bima sudah jelas bukan laki-laki yang bertanggung jawab. Apalagi setelah Hans tau, Ia dengan tega melakukan hal yang seharusnya tidak pernah Ia lakukan pada Ica.


"Apa dari pertama kali sadar tadi, Ica udah gak ungkit-ungkit masalah itu?" Hans kembali bertanya dengan wajah serius menatap Bima,


"Nahh ..., itu yang bikin Gue bingung Hans. Tiba-tiba dia kayak orang lupa ingtan." Bima mencoba menjelaskan keadaan calon istrinya itu.


"Mungkin Ica mengalami Amnesia Psikogenik, kondisi ini di mana si penderita terkena stres, trauma, dan depresi yang cukup berat. Ingatan yang berkaitan dengan penyebabnya, dapat di blokir sebagai bentuk pertahanan diri."

__ADS_1


Hans menjelaskan masalah ingatan Ica yang sepertinya sedikit terganggu, setelah pertanyaan untuk Bima cukup hans kembali lagi ke kamar di mana Ica tadi mereka tinggalkan.


"Ca gimana keadaannya sekarang?" Hans mulai bertanya pada Ica.


"Emmm ... masih pegel semua kak, rasanya badan Ica nyeri." Jawab Ica sambil memegang tubuhnya.


"Emmm ..., coba ceritain ke Kakak! kejadian apa yang trakhir kali Ica inget sebelum Ica bangun tadi?" Tanya Hans yang kedua kali dan pertanyaan Hans Langsung di jawab oleh Ica cepat.


Sedangkan di sudut kamar, Bima terlihat gusar dengan wajah pucat pasi menunggu jawaban Ica. Bima menggoyangkan kakinya pelan, kekiri dan ke kanan mencoba menghilangkan rasa groginya.


Matanya terus saja menatap Ica yang terlihat mulai mencoba mengingat-ngingat kejadian apa saja yang telah ia lewati beberapa jam yang lalu.


"Ica teleponan sama mama, sholat, terus Ica nya bobo. Waktu Ica bangun, badannya Ica udah kayak gini Kak." Jelas Ica dengan menatap bingung pada Hans.


Hans dan Bima saling pandang, setelah mendengar penuturan Ica tentang kejadian yang telah ia lewati beberapa jam yang lalu. Sepertinya fikiran Hans dan Bima kali ini sama, Ica benar-benar mengalami Amnesia Psikogenik. Batin Bima dan Hans bersamaan.


Melihat kedua pria di dekatinya saling bertemu tatapan, membuat Ica berdehem kecil untuk menyadarkan mereka.


"Ehemm ...!" Mata sayu Ica seolag ikut bicara menatap kedua pria itu.


"Kakak ...! Ica gak kenapa-kenapa, kan?" Ica kembali menanyakan keadaannya dengan menatap hangat ke arah Hans dan Bima.


"Kamu gak apa-apa Ca, ini cuma karna Kamu salah makan aja. Nanti Kakak kasih resep obatnya biar Kamu bisa cepat sembuh ya," Hans mencoba menenangkan gadis di depannya itu, walau sebenarnya yang di katakan Hans tadi adalah hal bohong.


Ica hanya mengangguk tanda ia faham dan setuju dengan penuturan Hans tadi. Ica tidak terlalu memusingkan masalah rasa sakit yang ia rasakan di beberapa bagian tubuhnya itu, karna gadis itu benar-benar polos.

__ADS_1


__ADS_2