
Sedangkan di sisi lain, seorang gadis sudah terlelap di dalam pelukan hangat seorang pemuda. Terlihat bekas air mata sudah mulai mengering di pipi gembil gadis itu, bunyi sesegukan nafasnya juga masih terdengar lembut.
Tio sedikit menundukkan kepalanya mencoba untuk memastikan keadaan Ica, ternyata gadis itu sudah terlelap. Tio menyunggingkan senyumanya, lengannya sedikit kesemutan karna menahan berat tubuh ica sedari tadi.
Tio mencoba mengangkat tubuh Ica untuk memindahkannya di dalam kamar, agar Ica bisa tidur dengan nyaman. Perlahan tapi pasti Tio menggendong tubuh mungil Ica ala bridal style menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Di letakkannya tubuh Ica di atas tempat tidur berwarna hitam berukuran big size itu dengan pelan, agar gadis itu tidak terjaga dari tidurnya. Tio dengan telaten memakaikan selimut ke tubuh Ica penuh perhatian.
Bisa-bisanya Kamu tidur senyeyak ini, sampai-sampai di pindahkan saja Kamu masih tetap tidak terbangun. Lucu tapi akan membahayakan dirimu sendiri jika model tidurmu tetap seperti ini ...! Pemuda itu terus menatap gadis yang sedang tertidur pulas sambil berucap dalam hati.
Tio tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, setelah selesai membenarkan posisi tidur Ica agar nyaman. Ia hanya memandang gadis yang sudah tertidur lelap, di balik selimut lembut itu.
Perlahan Tio mencoba menyibakkan rambut Ica yang menutupi sebagian wajah cantiknya itu. Tio mengelus pelan pucuk kepala Ica, mencoba mengucapkan beberapa patah kata di dalam hatinya sambil menggenggam lembut tangan Ica.
Yang kuat ya ... Sayangku, kamu pasti bisa hadapi ini. Saya tahu Kamu adalah perempuan hebat, Saya sangat menyangimu walau tak pernah Ku ungkapkan secara langsung kepadamu! Itu semua karna saya ingin Kamu tau di saat semua keadaan kacau ini telah membaik. Tidurlah yang lelap malam ini, i love you gadis bawelku**!
Setelah selesai mengungkapkan isi hati yang sebenarnya tidak di dengar Ica sama sekali, Tio beranjak meninggalkan kamar itu dengan sedikit mengendap-ngendap agar Ica tidak terbangun.
Sejenak Tio duduk di sofa empuk itu, menarik dan membuang nafasnya secara kasar.
"Huuuuh ...!" Nafas hangat itu berhasil di hembuskan.
Tio menutupi wajahnya dengan telapak tangan, terlihat jelas ia sekarang sedang banyak fikiran. Tadi pagi sebelum ia bertemu Ica, Tio mendapatkan telepon dari ayahnya, yang mengatakan Tio harus segera berangkat ke Luar Negeri untuk membantu mengurus sedikit masalah di perusahaan keluarganya.
Awalnya Tio tidak terlalu pusing dan bersedia dengan senang hati untuk segera pulang ke orang tuanya, walau ia baru beberapa bulan istirahat dari rutunitasnya di perusahaan.
Namun setelah ia bertemu dan mengetahui gadis Kesayangannya dalam keadaan membahayakan, Tio menjadi sedikit bimbang dengan pilihannya. Tapi untuk saat ini Tio tidak bisa mundur untuk tidak membantu orang tuanya, karna memang posisi Tio di perusahaannya itu sebagai ujung tombak.
__ADS_1
Kesuksesan atau kebangkrutan perusahaan keluarganya ada di tangan Tio, dengan berat hati Tio akan meninggalkan Ica untuk sementara waktu di sini. Namun Tio tidak semata-mata meninggalkan Ica begitu saja.
Tio akan mengutus beberapa orang untuk mengawasi dan menjaga Ica dari jauh, tanpa di ketahui Ica. Karna Tio juga tidak mau ica merasa risih, jika ia tahu semua pergerakannya di awasi.
"Pak Jek tolong siap kan jadwal keberangkatan saya tiga hari lagi ...! Jangan ada sedikit masalah apapun saya minta !" Tio menelpon seseorang di sebrang sana, dengan suara tegas, dingin namun tetap menjunjung tinggi kesopanan.
"Baik Tuan, akan Saya atur semuanya dengan baik." Terdengar jawaban dari sebrang sana menyanggupi.
"Satu lagi, siapkan Saya beberapa orang terbaik kita untuk datang ke rumah Saya besok malam." Tio memberikan satu perintah lagi kepada seseorang di sebrang sana, dan langsung di sanggupi orang tersebut.
Tio menutup sambungan telepon dan kembali menutup wajahnya dengan tangan kekarnya itu, ia mencoba menenangkan fikiran dengan menarik nafas dalam.
Tiba-tiba ketenangan di rumah itu berubah menjadi sedikit keributan, Tio mendengar seperti suara orang sedang berkelahi di luar rumahnya. Dengan cepat Tio membuka pintu, benar saja ternyata Bima sedang mencoba untuk menerobos masuk melewati para bodyguard Tio yang menjaga pintu utama rumahnya .
"Waaaa ...! lama Kita tidak bertemu?"
"Tidak usah bertele-tele, apa keinginanmu sampai Kau sanggup menginjakkan kaki kotormu itu di rumahku?"
Tio berjalan mendekati Bima yang sudah berdiri tegap sambil melipat tangannya di dalam dada bidangnya.
"Cih ...! Brani sekali mulutmu itu, dasar bocah."
Bima membuang salivanya ke tanah, sambil mencoba meremehkan Tio yang memang umurnya masih di bawah umur Bima.
"Jika tidak ada urusan silahkan pergi! Saya tidak akan menyediakan waktu untukmu."
Tio membalikkan badannya berjalan masuk meninggalkan Bima yang masih berdiri.
__ADS_1
Sebenarnya Tio tau kedatangan Bima pasti untuk mengambil Ica dan itu adalah hal yang tidak mungkin akan terjadi, apapun keadaannya.
"Kembalikan sesuatu yang bukan hakmu!"
Bima kembali berkata, tapi dengan nada lebih serius di bandingkan beberpa menit yang lalau.
Mendengar kalimat yang di keluarkan Bima, membuat Tio menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Bima kembali.
"Dia juga bukan milikmu, jadi jangan terlalu berlebihan." Tio masih menanggapi Bima dengan santai, namun sebenarnya Tio dengan susah payah menahan emosinya.
"Ahahahaha ..., apa katamu? Bukan milikku?! Semua yang sudah Ku bayar, itu berarti sudah menjadi milikku." Bima tertawa sikopat kembali.
Namun Tio tetap santai tidak sedikitpun merasa grogi apa lagi takut. Karna sebenarnya Bima dan Tio adalah orang yang memiliki sifat hampir sama, hanya saja Tio adalah orang yang cenderung santai sedangkan Bima sangat tergesa-gesa.
"Akan Ku kembalikan uang kotormu itu berkali-kali lipat dan berhentilah berfikir dia milikmu." Tio sungguh sudah muak melihat pria dewasa di depannya ini.
"Sayangnya Saya tidak membutuhkan uangmu, baiklah akan Ku biarkan dia bermimpi indah malam ini di rumahmu! Tapi lain kali tak akan ada kesempatan ini lagi dan Kita akan lihat permainan ini akan di menangkan oleh siapa?" Bima mencoba mengalah, karna dia tak ingin gadis kecil itu semakin benci padanya.
"Tidak ada kata lain kali jika berurusan dengan dia. Sayangnya kekayaan dan jabatanmu itu tidak bisa membeli sebuah cinta yaa, sungguh menyedihkan!" Ejek Tio dengan senyuman smirk ke arah Bima.
Mendengar Tio semakin berani mengejeknya, Bima tersulut emosi dan langsung mencoba melayangkan sebuah bogem mentah tepat di ujung bibir Tio, tapi dengan cepat Tio mengelak.
"Saya rasa di luar sana banyak wanita lain yang menunggumu dan yang jelas sesuai dengan level rendah, seperti dirimu itu! Kau tidak mungkin mendapatkan cinta dari gadis sebaik dia, jangan bermimpi terlalu tinggi." Tio memberikan sedikit saran kepada Bima.
"Jadi tak perlu Kau ganggu kehidupannya lagi!" Tio kembali menyulut emosi Bima dengan kata-kata tajamnya, namun tetap dengan wajah tenang tanpa ekspresi.
"Tutup mulutmu itu brengsek!" Teriak Bima geram dengan ucapan Tio.
__ADS_1