
"Tin ... tin ... tin!"
Ica buru-buru mengelap sisa air matanya yang sudah mulai mengering di atas pipi gembilnya itu, setelah mendengar suara kelakson mobil dari depan rumahnya. Ica berusaha terlihat biasa saja, walau dalam hati dan fikirannya sedang tidak menentu.
Ica juga melihat Sang Mama keluar dari kamar menuju pintu depan menyambut tamu yang datang itu, namun Ica masih terduduk diam larut dalam lamunannya. Hingga saat Mama Ica memanggilnya dengan nada sedikit berteriak, hingga membuat kesadaran Ica kembali.
"Icaaaa ... Cepat ke sini ...!" Nia berteriak kencang dari luar rumah.
Ica buru-buru berdiri dari kursi yang ia duduki, tanpa sengaja pergelangan tangan Ica malah mengenai pinggiran meja makan itu. Seketika membuat Ica mengaduh kesakitan, sambil memegangi pergelangan tangannya tadi.
"Iyaa Ma ... ada apa?" Ica bertanya sambil matanya melirik ke arah Pria di samping Mamanya itu.
Loh itu, kan? Om-om di tempat acara waktu malem itu, apa bener ini orang yang mau di jodohin Sama aku? Iss ... Aku gak mau!
Ica berkata dalam hati setelah sekilas menatap ke arah Pria itu.
"Ini ... salim dulu dong sama Kak Bima! Dia yang bakal anter jemput Kamu selama Kamu sekolah." Titah Nia kepada Ica.
Mama Ica menjelaskan tugas Bima dengan penuh semangat dan rasa bahagia, sedangkan Ica begitu risih dengan apa yang di ucapkan Mamanya tadi.
Ica memcium punggung tangan Bima dengan terpaksa, namun Bima malah mengusap kepala Ica dengan lembut membuat Ica kaget dan sedikit risih dengan perlakuan Bima padanya.
"Emmm ... Sudah siang nih, nanti Ica malah telat datang ke sekolah. Lebih baik kita berangkat sekarang aja ya Ca!" Ucap Bima sambil menatap lekat Ica.
Sedangkan Ica hanya bisa pasrah, ini memang sudah hampir telat untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai berpamitan dengan Mamanya, Ica masuk kedalam mobil mewah yang siap mengantarkannya menuju sekolah.
Saat di perjalanan Bima mencoba untuk mengajak Ica mengobrol, namun Ica tidak sedikitpun menunjukkan gelagat baik kepada Bima. Sepanjang jalan Ica hanya cemberut dan memalingkan wajahnya dari pandangan Bima.
__ADS_1
"Ica cantik banget yaa ...," puji Bima pada Ica.
"Ohhh ya ..., Kita pernah ketemu waktu di acara jamuan makan di rumah Kakak. Iya ..., kan?" Tanya Bima pada Ica yang masih terlihat diam.
Namun nyatanya sepanjang jalan Ica masih saja membisu, tatapannya terus menuju ke luar jendela. Ica sungguh sangat kesal dan sangatlah heran kenapa Mamanya malah menjodohkannya dengan Om-om seperti ini.
Cukup lama berkendara, akhirnya mobil Bima berhenti di tempat Ica bersekolah. Karna merasa di antar ke tempat yang benar Ica mengerutkan dahinya, itu menandakan dia sedikit heran dari mana Bima tahu tempatnya bersekolah.
Tapi fikiran heran itu segera tersingkirkan, setalah Ica mengingat pasti Mamanya yang sudah memberitahu Bima. Dengan cepat Ica mencoba untuk membuka pintu mobil itu tidak sabar, namun sayang usahanya gagal karena pintu mobil itu masih terkunci.
Melihat tingkah Ica yang tidak sabaran di tambah lagi dengan wajah cemberutnya, membuat Bima tertawa gemas melihat tingkah gadis kecil itu. Bima memegang bahu Ica dan seketika membuat Ica menjadi terkejut, Ica sedikit menjauh sambil menepis tangan Bima di tambah tatapan tajam Ica seakan-akan sedang mengancam.
Bima terkekeh melihat kelakuan Ica, ia begitu tergila-gila dengan gadis kecil di depannya ini. Ini memang aneh banyak gadis-gadis lain yang seumuran dengannya, yang cantik yang jauh di bandingkan Ica.
Tapi karna kepolosan dan sifat imut Ica, membuatnya begitu menyukai Ica sejak pertaman ia bertemu. Gadis kecil ini selalu menghantui fiirannya, sampai terpikirlah cara sedikit licik untuk mendapatkan gadis kecil tengil ini.
"Ica tau kan apa konsekuensinya kalo sampek nolak perjohan ini? Ica gak mau, kan liat orang tuanya Ica susah karna Ica?!" ucap Bima penuh penegasan.
"Baik-baik dan turuti semuanya, jadilah gadis kecil yang baik!" Ancam Bima pada Ica.
Mendengar perkataan Bima yang sedikit bernada Ancaman, membuat Ica semakin geram. Tanpa sadar Ica mengepalkan telapak tangannya, sambil memandang wajah Bima.
Mata tajam Bima melihat tangan kecil Ica, yang sedang mengepal. Bukannya takut, Bima malah menyunggingkan senyuman smirk. Ica sudah keluar dari mobil mewah itu, buru-buru Ica meninggalkan mobil dan pemiliknya sambil berlari.
Jangan berharap Ica bakal panggil dengan sebutan kakak, sungguh itu hal yang tidak mungkin! Ica berbicara dalam hati dengan sedikit menggerutu kesal.
"Nanti pulangnya Kakak jemput, jangan pergi kemana-mana ya ...! Semangat belajarnya gadis nyebelin ...." Teriak Bima dari kejauhan.
__ADS_1
Suara Bima itu tadi malah memanggil Ica dengan sebutan yang sedikit aneh, dan terdengar menggelikan. Itu juga berhasil membuat orang-orang di sekitar mereka menjadi menunjukkan tatapan aneh pada Ica, sungguh Ica sangat merasa risih.
Ihhhh ... nyebelin banget itu Om-om, ngapain juga bisa kek gini. Mana teriak-teriak lagi, di kiranya hutan apa bisa teriak seenaknya gitu! Manggil-manggil nama orang, dasar gak jelas**! Ucap Ica dalam hati, merutuki dirinya sendiri.
Ica berlari dengan sekuat tenaga, menjauhi mobil dan Si Empunya menuju kelas. Sesekali Ica menoleh ke arah mobil itu, memastikan mobil itu sudah beranjak meninggalkan wilayah tempat Ica bersekolah.
Ica menegok sekali lagi ke arah belakangnya dan alhamdulillah mobil mewah itu sudah tidak terparkir di halaman sekolah. Ica bernafas lega, kakinya melangkah lebih pelan di bandingkan tadi.
"Huuuuuuh ... akhirnya itu Om-om minggat juga," Ucap Ica tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
"Aduhhhh Ica ...! sakit niii ... palak gue," suara melengking terdengar di balik telinga Ica.
Kepala Ica terbentur dengan kepala temannya yang sedari tadi berada tepat di depannya, memperhatikan gerak-gerik aneh Ica pagi ini.
"Sorry ... sorry! Gak sengaja, lagian ngapain ngejogrok di situ ... nguping yaaa ...?" Tuduh Ica tanpa basa-basi.
"Enak aja ..., Lo itu yang ngapain pakek acara lari-lari pagi. Sampe ngosngosan gitu ...?" Tanya gadis di depan Ica dengan nada sedikit tinggi.
"Ohh ..., ini gara-gara Ica di kejar sama Kang Cilok pertigaan. Nagih utang ...!" Jelas Ica dengan sedikit cengar-cengir.
"Serius Ca? Lo ngutang cilok, wah ... parah parah ...!" Ucap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya tak habis fikir.
Sahabat Ica itu hanya bisa menepuk jidat, untuk mengekspresikan ke kagetannya. Karna seorang Ica, anak orang kaya pintar pula ... Pakek acara ngutang cilok.
"Ehhhh ... bersihin tuh fikiran! Ica gak sebaik itu kok ... wkwkkw," suara tawa renyah Ica menggelegar di sepanjang koridor.
Setelah menjawab Ucapan sahabatnya, Ica berlalu meninggalkan sahabatnya itu tanpa permisi. Merasa di acuhkan, seketika membuat Dewi menjadi sebal dengan tingkah Ica. Dengan cepat Dewi berlari, menyusul Ica yang sudah berjalan lebih dulu menuju kelas.
__ADS_1