Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 12)


__ADS_3

Tio menghentikan laju Motornya tepat di depan taman kota, sedangkan Ica tubuhnya bergetar entah kenapa dan tangannya masih dengan kuat memeluk tubuh Tio. Merasa ada yang aneh dengan Ica, Tio mencoba menggenggam tangan Ica pelan.


"Kamu gak kenapa - kenapa kan?" Tio menanyakan keadaan Ica, namun tidak ada jawaban.


Tubuh Ica masih terasa gemeteran, Tio juga merasakan Punggung bajunya basah karna kepala Ica sedari tadi bersender di sana. Tio membalikkan badannya, mencoba mengecek keadaan Ica.


" Ca..., Kamu kenapa gemeteran gini? Kamu kringet dingin Ca!" Tanya Tio sambil menyentuh kening Ica.


Tio melonggarkan pelukan Ica di pinggangnya dan mencoba memegang wajah Ica dengan lembut, rambut Ica terlihat lepek karna kringat yang sedari tadi bercucuran.


"Ica gak kenapa-kenapa kak, makasih ya udah bawa Ica pergi." Akhirnya Ica bersuara setelah cukup lama membuat Tio khwatir.


"Ayok turun dulu kita cari tempat duduk!" Ajak Tio pada Ica.


Tio membawa Ica duduk di salah satu bangku taman dan melepaskan jaketnya untuk di pakaikan kepada Ica.


"Kakak ... Maaf," tiba-tiba Ica meminta maaf ke pada Tio, entah apa kesalahannya. Mendengar permintaan maaf dari Ica membuat Tio mengernyitkan keningnya karna merasa bingung.


"Maaf kenapa Ica?" Tio kembali bertanya sambil membungkuk di depan Ica, setelah selesai memakaikan jaket di tubuh gadis itu.


"Maaf tadi Ica gak nurut sama kakak, Ica gak mau pakek helm." Jelas Ica pada Tio sambil menunduk.


"Ahahahaha ... astagfirullah! ini Anak pengen di jitak kayaknya, Orang lagi khwatir mikirin keadaannya eh ... Dia malah ngelucu." Mendengar penjelasan Ica yang konyol itu seketika membuat Tio tertawa.


Tanpa permisi Tio mengacak-acak rambut Ica lembut, mencoba menyalurkan rasa gemasnya pada gadis di hadapannya itu.


"Ihhhhh Ica serius Kak ..., maafin Ica yaa ...!" Ica tidak menghiraukan perkataan Tio.


Ica tetap meminta maaf, bahkan sekarang ekspresi Ica bertambah dengan tatapan hangat dan itu membuat Tio tidak tahan.

__ADS_1


Astaga .... Gue gak kuat banget, ini Anak pinter banget yaaa ... bikin orang jadi sayang sama Dia. Tio berceloteh ria dalam hatinya, sambil tak berhenti memandang gadis di depannya ini.


"Iyaa ... iya ..., Kakak maafin deh, untuk kesalahan yang belom pernah Kamu buat. Dasar bocah aneh." Tio berdiri dan memposisikan tubuhnya untuk duduk di samping Ica.


"Enak aja bilang Ica aneh! Ehh ... Kak Tio tadi mau ke mana?" Ica bertanya sambil menatap wajah Tio penasaran.


"Emmmm ... tadi sih rencana mau cari makan, kebetulan pas lewat ada gadis teriak-teriak manggil nama Kakak. Ya udah deh Kakak samperin Ahahahah." Tio menjawab pertanyaan Ica sambil tertawa puas.


Tio mengejek Ica dengan jawabannya, mendengar ejekan Tio membuat Ica memanyunkan bibir merahnya sesaat.


"Ehhh gak usah manyun gitu ...! Makin jelek tau." Tio malah kembali mengejek Ica, itu berhasil membuat Ica merengek kesal pada Tio.


"Iiiii ... Kakak laa, biarin jelek dari pada Ica ganteng ... Wekk." Ica memeletkan lidahnya seraya mengejek Tio.


"Ca laper nih, kita cari makan yukk ...!" Ajak Tio sambil menatap gadis di sampingnya.


"Owalahhh ... pantes aja gemeter. Keringet dingin, kelaparan rupanya. Ica ... Icaa!" Tio kembali tertawa, ternyata karna kelaparan sehingga tubuh Ica bereaksi seperti tadi.


"Heheh ..., Iya Ka." Ica hanya menunduk malu.


"Ayok Kita cari makan, mau makan apa?" Tanya Tio sedikit was-was.


Tio menanyakan pertanyaan yang paling di hindari kaum pria saat bertanya pada wanita, karna kebanyakan wanita pasti akan menjawab TERSERAH.


"Emmm ... apa yaa?" Ica terlihat sedang berfikir.


"Ica mau makan nasi goreng, terus minum susu strawberry dingin boleh ya kak?" Gadis itu langsung melanjutkan ucapannya, ia mulai mengutarakan keinginannya.


Mendengar jawaban dari Ica yang tidak ada kata TERSERAH, membuat Tio tersenyum sumringah. Tanpa basa-basi Tio langsung membawa Ica mencari makanan yang di minta Ica dan kebetulan Tio juga suka nasi goreng.

__ADS_1


"EKKKKKKK ...! Alhamdulillah ...," tanpa rasa malu Ica bersendawa di depan Tio, kelakuannya itu berhasil membuat Tio terkekeh pelan.


Ini yang paling Gue suka dari Lo. Lo bukan cewek yang jaim, Lo orangnya To The Point, ceria, lugu, dan yang pasti dandanan Lo gak menor kek cewek-cewek jaman sekarang. Lo cantik alami ca. Tio membatin panjang lebar di dalam hati, sambil pandangannya fokus pada Ica.


"Heyyy ... Kak ..., kok bengong si?" Tanya Ica pada Tio sambil melambaikan tangannya beberapa kali.


"Ehh ... Enggak, cuma heran aja. Cantik-cantik kok gak malu. Untung dah kenal lama, jadi sudah tau tabiatnya. Kalo enggak, mau tak bungkus jatohin di sungai ...!" Tio menjawab pertanyaan Ica dengan candaan lagi.


Tio dan Ica memang sudah lama saling kenal, mereka teman dari kecil. Namun mereka terpisah, saat Tio dan keluarganya pindah ke luar negeri tiga tahun lalu. Maka dari itu Ica dan Tio tak segan saling memberikan perhatian kecil, itu karna memang meraka sudah sangat dekat dan saling percaya.


Sekarang, pemuda tampan dengan nama lengkap Tio Alexander Melfin itu sudah kembali ke Indonesia. Tio sekarang ini di Indonesia sendirian, karna orang tuanya masih di luar negeri mengurus perusahaan mereka.


"Ehhh ... tadi Ica belom cerita ke Kakak, kenapa kok kayak orang abis dari di kejar-kejar gitu?" Tanya Tio antusias.


"Kenapa bisa ada di restoran Bima? Terus kenapa bisa Bima ngejar-ngejar Kamu?" Tio terus memberikan pertanyaan bertubi-tubi pada Ica.


"Emm, jadi Kak Tio denger Om Bima panggil-panggil Ica tadi? Slurppp ...!" Ica malah balik bertanya kepada Tio.


Gadis itu terus saja tidak memberhentikan aktifitas serunya, menyedot habis susu strawberry dingin yang ada di tangannya. Ica merasa kaget, ternyata Tio tahu jika Ica tadi mengajaknya cepat-cepat pergi untuk menghindari kejaran Bima.


"Walaupun Kakak pakek helm, Kakak masih denger. Kuping Kakak gak congek-an Icaa bawel ...!" Ucap Tio sedikit geram pada gadis bawel itu.


Tio sedikit menaikkan nada bicaranya, terlihat jelas dari raut wajahnya jika ia sudah tak sabar mendengarkan penjelasan dari Ica.


"Ica gak kenapa-kenapa kok Kak, Om Bima ... anu kayaknya dia mau nitip salam sama papa heheh ...," Ica mencari alasan lain agar Tio tidak khawatir padanya, namun sayang Tio sama sekali tidak mau mempercayai alsannya itu.


"Kakak tau, Kamu lagi nutupin sesuatu dari kakak. Jadi tolong Kamu cerita ...! Kakak bakal bantu, Ica percaya kan sama Kakak?" Tio mencoba meyakinkan gadis itu.


"Emmmm ... Ituu Kak. anuuuu ...," ekspresi Ica memang tidak ahli untuk akting, siapa pun pasti tau jika ia sedang menutupi sesuatu. Suara Ica terbata-bata menjawab pertanyaan Tio, sulit baginya untuk menceritakan masalahnya pada orang lain.

__ADS_1


__ADS_2