
"Heh ... denger ya, ngapain juga Papa Kamu mau cium Kamu. Pokoknya Mama gak mau tau apapun itu Kamu harus nurut dan satu lagi awas kalo sampe Kamu ngadu sama papa." Nia berteriak sambil matanya terus melotot.
"Mama gak akan segan-segan buat usir Kamu dari rumah ini ingat itu!" Nia mengeluarkan kalimat ancaman pada anaknya sendiri.
Sambil melotot ke arah Ica dan mengacungkan jari telunjuknya tepat di kening Ica, Mamanya meluapkan amarahnya itu. Bukannya mendapatkan sebuah pembelaan dari sang Mama, Ica malah mendapat ancaman.
Di situ Ica mulai berfikir, bahwa ia harus memendam ini sendirian. Jika Mamanya saja tidak perduli dengannya bagaimana dengan orang lain, yang ada kesulitannya ini malah di jadikan bahan pembicaraan oleh orang lain.
"Hikss ... hiks ... hiks ...," Ica hanya bisa menangis meratapi perkataan Kasar Mamanya tadi. Sedangkan Mama Ica sudah berlalu pergi meninggalkan Ica di ruang makan itu sendirian.
Flashback off
Rahang tegas Tio kembali mengeras, tanda emosinya kembali naik. Tangan kekar Tio semakin intens memeluk tubuh mungil gadis Kesayangannya itu.
"Kakak Ica takut, giamana kalo orang-orang itu cari Ica. Belum lagi Om Bima, Ica bingung Kak ... hikss ... hiks ...!" Gadis itu berucap sambil membenamkan wajahnya dalam.
Entah sudah berapa lama gadis itu menangis, wajahnya terlihat merah dengan mata yang sedikit sembab karna terlalu lama menangis. Nafasnya sesegukan, sungguh sangat terlihat kacau dan memprihatinkan keadaannya.
"Ica gak usah takut! Kakak di sini sayang banget sama Ica. Kakak jaga Ica di sini, semua yang pernah sakitin Ica gak akan ngerasain hidup tenang Ca." Tio kembali menguatkan Ica.
Sedangkan Ica yang mendengar Tio mengeluarkan kalimat bernadakan ancaman membuat Ica seketika menggelengkan kepalanya.
"Jangan Kak! Ica gak apa-apa kok. Kita gak perlu balesin apapun hiks ... hiks ... Ica cuma mau hidup tenang Ka!" Ucap Ica meyakinkan Tio.
"Tapi Ca, sekarang Kamu emang belum kenapa-kenapa. Siapa yang tau besok atau lusa? Kakak gak mau ada penyesalan di hidup Kakak karna gak bisa jaga-in Kamu." Tio kembali tidak mengindahkan permintaan Ica.
"Ica percaya sama takdir Allah untuk Ica hiks ..., apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang baik atau buruk insyaallah semua terbaik untuk Kita. Kakak gak usah khawatir Allah itu sayang sama Ica hiks ...." Gadis itu menatap lembut.
__ADS_1
"Iya Sayang, Kamu memang gadis yang sangat baik. Tapi kenapa malah orang-orang tak tau diri itu memanfaatkan kebaikanmu untuk keuntungan mereka? Kakak takut Kamu kenapa-kenapa, karna Kakak gak bisa tiap waktu ada di samping Kamu!" Tatapan mata Tio menjadi sayu.
Begitu khwatirnya Tio akan keselamatan Ica, ia tau betul bagaimana alurnya jika dari awal Ica sudah di perlakukan seperti ini. Namun, gadis ini selalu menyakinkannya bahwa hal buruk tidak akan terjadi. Gadis kecilnya ini selalu berfikiran baik terhadap orang lain, walau sudah jelas-jelas dia tersakiti.
Tio sudah hapal betul bagaimana kehidupan dunia berbisnis, di depan mereka memang saling menjalin kerkerja sama dengan baik. Namun di belakang mereka akan saling menjatuhkan satu sama lain dengan cara apapun.
Mama Ica sudah melakukan permainannya dengan membahayakan keadaan putrinya sendiri, hanya demi kemajuan perusahaannya. Dia tidak menyadari, apa akibat dari permainannya ini.
Ica tak mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya, ia hanya mengeratkan pelukannya pada Tio. Menanggapi itu, Tio mulai mengelus lembut pucuk kepala Ica mencoba memberikan kenyamanan.
"Kakak ... biarin Ica di peluk kayak gini! Sebentar aja boleh ya kak?" Ica sedikit memohon kepada Tio dan di balas anggukan oleh Tio.
Semua jadi hening tanpa ada pergerakan sedikitpun di dalam ruangan itu, sedangkan di rumah Ica ...?
-Keadaan di rumah Ica-
"Duarkkkkk ...!" Suara pintu di banting dengan keras di iringi dengan langkah kaki yang sepertinya sedang tergesa-gesa.
Suara itu berhasil membuat penghuni seisi rumah kaget dan berlari menuju pintu utama di rumah mewah itu untuk memastikan apa yang terjadi.
"Bima...?"
Mata Nia tiba-tiba membulat sempurna setelah melihat sosok pria dengan wajah terlihat sangat jelas penuh dengan emosi.
"Dimana Ica? Bawa ke hadapan Saya sekarang juga!" Teriak Bima tergesa-gesa.
Bima berdiri tepat di tengah-tengah rumah itu, suara kerasnya terdengar di seisi rumah. Sorot matanya menunjukkan kabut kemarahan, membuat siapa saja yang berhadapan dengannya menjadi gemetar begitupun dengan Nia seorang Ibu dari gadis yang sedang di cari Bima.
__ADS_1
"Emmm ..., Bima tolong santai sedikit! Saya bisa jelaskan." Nia terlihat sangat gugup, bahkan tangannya gemetar sekarang ini.
"Anda ingin menantang Saya ...?! Anda masih ingat, kan perjanjian awal kita?! Saya harap Anda cepat bawa anak itu ke hadapan Saya sekarang juga! " Bima meneriaki Nia yang sudah tak berani berkata-kata. Bima memutari tubuh gemetar Nia dengan sorotan tajam, seakan tak ada ampun lagi.
"Ooo ... apa jangan-jangan Ica belum pulang yaa?" Langkah Bima berhenti.
"Emmm ... Ica mau minep di rumah Tio, ta-ta-tapi besok pagi Ica sudah kembali ke sini. Saya pastikan itu!" Suara wanita itu sudah sangat gemetar.
Nia tak bisa mengelak, dia ketakutan melihat Bima yang amarahnya sudah tak bisa di kontrol. Mengetahui Ica malah ingin menginap di rumah Tio membuat Bima semakin murka.
"Ahahahah .... Minap? Hebat sekali yaa ...! Anda lupa jika anak Anda itu, sudah Saya beli. Sekarang Anda malah seenaknya membiarkan dia sampai Menginap di rumah rival Saya! Anda pikir Anda siapa haaaa ...?!" Bima tertawa sikopat dan di akhiri dengan teriakan ke arah Nia.
"Tapi ... Bima. Aaaakkk ...!" Suara teriakan Nia melengking memenuhi isi rumah.
Bima memecahkan sebuah guci besar, hiasan di dalam rumah mewah itu. Jantung Nia bedegup kencang, sekarang Bima sudah keluar dari rumah itu dengan meninggalkan satu ancaman yang membuat Nia semakin bergidik ngeri.
"Berani membuat permainan, siap-siap menikmati permainan ini juga!" Kata-kata Bima itu di ucapkannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Bima berlalu meninggalkan Nia yang masih terperanjat, badannya terasa tegang, nafasnya sedikit tersengal-sengal. Ia mulai was-was akan permainan yang sudah ia buat.
Rencananya untuk mengelabuhi dua laki-laki hebat yang memiliki kekuasaan atas perusahaan-perusahaan besar di negara itu, sepertinya akan tidak berjalan dengan mulus.
Sedangkan Bima masih sangat merasa kesal setelah tahu jika Ica belum juga pulang, bahkan berencana untuk menginap di rumah rivalnya itu. Dengan cepat dan sedikit tergesa-gesa Bima melajukan mobil mewahnya itu menuju suatu tempat dengan tujuan ia bisa mengambil gadisnya itu kembali.
"Kenapa harus sama Si Brengsek itu? Apa mungkin memang ini sudah takdir? Selain memperebutkan kekuasaan, kami juga akan memeperebutkan seorang gadis yang sama-sama kami inginkan!" Ucap Bima masih emosi.
"Sial ...! Ica malah lebih memilih Si Brengsek itu dari pada Gua." Bima berucap sambil memukul stir mobilnya kuat.
__ADS_1
Jalan terlihat sedikit lengang, wajar saja ini sudah menunjukkan pukul 23:00 malam. Tapi Bima tidak memeperdulikan itu, tujuannya hanya ingin dengan cepat mengambil haknya.