Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 19)


__ADS_3

Bima yang merasa sangat kesal memilih untuk pergi meninggalkan Tio dan akhirnya terjadilah perang dingin di antara mereka berdua.


Di dunia bisnis mereka memang sudah menjadi rival sejak dulu dan sekarang ternyata di kehidupan percintaan, mereka sedang merebutkan sebuah cinta dari seorang gadis mungil yang sederhana.


Tio kembali masuk kedalam rumah mewahnya itu, dengan fikiran yang terpaku pada kata-kata Bima yang menyatakan bahwa dia telah membeli Ica dan Tio sangat yakin ini pasti ulah dari Nia, mama dari gadis Kesayangannya itu.


Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju apartemen mewahnya dengan rasa kesal karna perdebatannya dengan Tio beberapa menit yang lalu.


Selain ia merasa kalah saat berdebat tadi, ia juga tidak berhasil melihat gadis yang di carinya apa lagi membawa gadis itu pulang denganya.


Bima masuk ke dalam apartemen mewahnya, dengan rasa kesal yang tergambar jelas dari ekspresi wajahnya Sekarang ini. Wajah Bima yang sudah seperti kertas di remas, kusut.


"Arghhhhh ...!" Bima berteriak frustrasi.


Sambil menghantamkan kedua tangannya di sebuah nakas, samping tempat tidur king sizenya dengan keras.


"Kenapa Brengsek itu selalu bisa lebih dari Gue!" Bima tertunduk lemas di pinggir tempat tidurnya sambil mengusap kasar wajahnya.


Puas merenung Bima berjalan menuju balkon apartemennya itu, ia duduk di salah satu kursi yang mengahadap ke arah kota dengan pemandangan lampu di seluas penglihatan.


Bima mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menghisapnya, beginilah caranya menghilangkan stres, emosi, dan kesedihan di kepalanya.


Jika tidak menyendiri seperti sekarang ini, Bima memilih pergi menemui teman-temannya. Menghabiskan malam, dengan meneguk minuman beralkohol sampai tak sadarkan diri.


Bukan hal sulit bagi Bima sebenarnya jika ia hanya ingin sekedar mempunyai pacar atau bahkan istri, karna banyak sekali gadis yang menyukainya. Bima bisa saja tinggal memilih, namun entah kenapa Bima malah jatuh hati pada gadis kecil yang seharusnya lebih cocok menjadi adiknya itu.


"Kenapa harus dia? Hati apakah kau tak mngerti di dunia ini tak semua bisa ku beli?!" Bima mengucapkan kalimat itu dengan di selimuti rasa frustrasi.


Di dalam renungannya Bima membenarkan ucapan Tio tadi, ia sedikit menyalahkan hatinya kenapa menempatkan rasa kepada seseorang yang tak menginginkannya.

__ADS_1


"Apa ini karma ...?" Tiba-tiba Bima berfikiran bahwa itu karma untuknya.


Entah sudah berapa banyak asap rokok yang masuk memenuhi paru-parunya itu, namun Bima masih menyambung terus api rokoknya sepanjang malam.


Sedangkan di sisi lain seorang gadis masih terlelap tak ada tanda-tanda ia akan terjaga malam ini, berbeda dengan Seorang pria muda bernama Tio yang masih duduk merenung dengan sejuta fikirannya.


Sedangkan di rumah lain seorang wanita dewasa yang di panggil Ica dengan sebutan Mama itu malah terlihat seperti orang yang sedang was-was sampai membuat Dian suaminya merasa khawatir.


- - - - -oOo- - - - -


Perlahan matahari memancarkan cahaya hangatnya, menembus kaca besar di salah satu kamar yang di huni oleh seorang gadis berkulit putih mulus itu membuat tidurnya sedikit terganggu.


"Huaaaaaa ...!" Tangan mungilnya menutup mulutnya.


Ica sedikit menguap sambil beberapa kali mengerjapkan mata indahnya itu, di tambahkan dengan sedikit peregangan di beberapa bagian tubuhnya mencoba melemaskan ototnya.


Matanya melirik ke arah jam yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya itu, berhubung ini hari minggu jadi Ica tidak terlalu kaget saat matanya melihat jarum jam yang sudah menunjukkan angka pukul tujuh pagi.


Setelah selesai mnyegarkan wajahnya, Ica keluar dari kamar. Menuruni anak tangga perlahan menuju ruang makan, jujur perutnya sedari tadi berbunyi dan juga tenggorokannya terasa sangat kering. Mungkin, energinya terkuras setelah kelelahan menangis.


"Baru saja mau kakak samperin ke kamar, biar sarapan bareng. Ehh orangnya sudah bangun, yuk lah gas ... Kita sarapan!" Suara Tio mengagetkan Ica yang mengendap-ngendap masuk ke dalam ruang makan.


Awalnya Ica fikir, semua orang belum bangun dari tidur mereka masing-masing. Karna suasana rumah yang sangat sepi, Tapi ternyata Tio sedang asik menyusun beberpa makanan di atas meja makan.


"Heee ..., Kakak udah bangun?"


Tanya Ica sambil mendekati meja makan, yang di sana sudah ada dua piring nasi goreng see food di tambah dengan satu piring ayam goreng.


"Iya nih, sengaja bangun pagi buat masakin Kamu sarapan. Tapi ya gak tau soal rasa enak apa enggak?" Tio menggaruk tengkuknya yang tak sama sekali gatal, mungkin karna grogi dengan hasil masakannya.

__ADS_1


Ternyata hidangan pagi ini di buat oleh chef Tio ala-ala. Batin Ica sambil memandang nasi goreng dengan mata yang berbinar senang.


" Wahhhh ...! Ayokk Kak, Ica pengen coba udab laper, pasti enak ni ...!" Ica duduk sambil membaca doa.


sebelum makan dan langsung menyendoki nasi goreng itu kedalam mulut kecilnya dengan lahap, tanpa permisi terlebih dahulu dengan sang pembuat makanan.


Ica sangat antusias dengan masakan Tio itu, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat bahagia saat makanan itu meluncur di dalam mulutnya. Walau Tio memiliki darah keturunan Belanda yang di dapatnya dari sang ayah, namun selera lidahnya Indonesia sekali loh.


Tio juga sangat lihai dalam memasak masakan Indonesia, tapi entah kenapa pagi ini ia terlihat tidak percaya diri dengan hasil masakannya. Mungkin itu di sebabkan karna seseorang yang akan memakan masakkannya ini.


"Dihhhh ..., gadis satu ini ya! Gak malu banget ..., yang masak aja belom makan. Lah Dia gak basa-basi lagi langsung masuk mulut!" Tio menjawil gemas hidung mancung Ica sambil mengomentari kelakuan lucu gadis di depannya itu.


"Enak ... Banget kak, kakak jago banget masakknya! Jadi pengen tiap hari sarapan nasi goreng buatan Kakak."Ica mengomentari masakan Tio yang menurutnya sangat enak itu.


Sedangkan Tio hanya terkekeh pelan, melihat Ica yang sangat lahap memakan masakkannya sambil melanjutkan aktifitas sarapannya.


"Ada yaa ...? Model Bini yang kek gini, gak malu mintak masakin tiap pagi!" Ucap Tio di sela-sela suasana sarapan itu.


Mendengar kata Bini yang keluar dari bibir tipis Tio, membuat Ica menghentikan aktifitas mengunyahnya. Ica terperanjat, sampai-sampai mulutnya ternganga kaget.


"Biasa aja Neng! Gini nih efek kalo jomblo bertahun-tahun." Tio kembali meledek Ica.


Ica memanyunkan bibirnya sambil memutar matanya malas, setelah mendengar Tio mengejeknya. Melihat Ica yang bertingkah seperti itu membuat Tio semakin senang mengejeknya.


Setelah selesai dengan acara sarapan, Ica membantu Tio mencuci piring mereka tadi. setelah Itu Ica meminta Tio mengantarkannya pulang, karna pasti Mamanya sedang menunggu di rumah.


- - - - -oOo- - - - -


"Assalamualaikum," Suara lembut Ica mengucap salam, sekarang Ica sudah berada di rumahnya.

__ADS_1


Merasa salamnya tidak juga kunjung di jawab, akhirnya Ica mendorong pintu dan mempersilahkan Tio untuk masuk dan bertamu di rumahnya.


"Humzz, kayaknya lagi gak ada orang kak. Ayok Kak silakan masuk!" Tio masuk dan di ikuti oleh Ica dari belakangnya.


__ADS_2