Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
LANCAR


__ADS_3

"Hiks ... hiks ... hiks ...!" Gadis itu masih terus menangis, bahkan sekarang cairan dari hidungnya sudah mulai membasahi tengkuk Octa.


"Isss ..., gemesin! Tapi jorok ...," Octa berucap di barengi dengan kekehan pelannya tanpa memberhentikan aktivitas mengelus pucuk kepala Ica.


"Aaaaa ..., Abang jangan bilang gitu!" Suara Ica terdengar parau di balik telinga Octa.


"Yah Kamu aneh, ketemu Abang malah nangis ...!" Tutur Octa mengejek gadis Kesayangannya itu.


Ica mendongakkan kepalanya melihat wajah Octa yang sekarang ini letaknya sangatlah dekat dengannya. Tiba-tiba senyuman manis dari bibir gadis itu mengembang, matanya memancarkan kebahagiaan.


"Ihhh ..., ngapain kok tiba-tiba senyum gitu? Ngeri ...!" Octa berucap sambil alisnya bertautan melihat heran.


"Abang kejam!" Ucap Ica tanpa mengedepankan matanya.


"Dihh ..., kenapa jadi bilang gitu?" Octa berkata sambil melihat gadis itu menahan senyum.


"Yaa, abis abangnya ngerjain Ica." Jawab gadis itu mengutarakan protesnya.


"Kita berdiri dulu yuk, pundak abang pegel tahan badan Kamu berat. Hihihihi ...!" Octa tidak mengindahkan Ucapan Ica, ia malah kembali mengejek Ica.


Gadis itu terkekeh pelan, tangannya masih enggan melepaskan pelukan hangat dari laki-laki itu. Begitu juga dengan Octa, rasa rindunya hari ini tersalurkan.

__ADS_1


"Abang sengaja bilang gak jadi, karna pengen liatin Kamu nangis secara langsung tu gimana. Penasaran ...!" Ucap Octa seraya menatap jail ke arah Ica. Melihat tingkah Octa, mata Ica dengan cepat melotot dan itu berhasil membuat Octa bergidik ngeri.


"Abang bawa sesuatu buat Kamu!" Ucap Octa seraya melepaskan pelukannya.


"Apa ...? Jangan bilang bawa rombongan buat lamar Ica, belom siap abang ...!" Gadis itu berucap dengan percaya diri.


"Astagfirullah, halu ...!" Octa berjalan gontai menuju tasnya setelah mendengar ucapan nyeleneh gadis itu.


Melihat respon Octa, Ica hanya menatap bingung pundak pemuda itu. Duhh ..., salah ucap ya? Tapi kalo beneran ya gak apa-apa si, apa jangan-jangan ada kejutan selanjutnya ya? Mana kameranya? " Ica berceloteh ria di dalam hati sambil matanya melirik beberapa tempat, mencari-cari sesuatu yang berbau kejutan.


"Tada ...!" Ucap Octa girang, sambil mengangkat sebuah boneka Dinosaurus berwarna hijau berukuran sedang.


Melihat benda yang di pegang Octa membuat mata Ica langsung berbinar, gadis itu berlari kecil menuju Octa dengan senyum merekah.


"Awhhh ...!" Lenguh Ica sambil mengelus keningnya.


"Belum muhrim!" ucap Octa dingin, sambil menggeleng kan kepala dan menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan.


"Ow ... Iya ya, hehehe ...!" Ica hanya mengangguk dan tertawa kaku, entah kenapa dia berubah menjadi sedikit agresif.


"Gimana, suka gak?" Tanya Octa penasaran sambil menyodorkan boneka di tangannya.

__ADS_1


"Lembut ..., anget, ada namanya Abang juga di sini, Ica suka banget ...!" Gadis itu terlihat sangat antusias sambil memperhatikan setiap inci bonekanya, lalu memeluknya erat.


"Iya makasih." Jawab Octa dingin.


Ica hanya menatap heran ke arah Octa, kenapa Abang jadi dingin gini? Apa Ica ada salah ya? Ucap gadis itu di dalam hati.


"Ayok Kita susul Umi sama Abi ...! Gak enak kalo kelamaan misah." Lanjut Octa tanpa memeperdulikan Ica.


"Abang ..., Ica mau susu! Abang, kan udah janji sama Ica." Ucap Ica sambil berlari kecil mengikuti Octa.


Tiba-tiba Octa membalikkan badannya menghadap Ica dengan tatapan tajam, Ica yang kaget hanya bisa menunduk. Ica takut dengan tatapan pemuda itu dan suasana sekarang malah menjadi sangat mencekam.


"Susu-susu, kayak bocah aja!" Ucap Octa dengan nada tinggi sedangkan Ica haya menunduk.


"Icanya punya salah? Maaf Abang ...!" Ucap gadis itu masih menunduk, lalu di eratkannya pelukan pada boneka dinosaurus itu.


Tidak ada jawaban dari Octa, ia malah melanjutkan langkahnya menuju Ruslan dan Tari yang sudah terlihat dari kejauhan. Sedangkan gadis di belakangnya mulai meneteskan air mata, Ica benar-benar cengeng.


"Cepet dikit jalannya, kasian Abi sama Umi udah nunggu! Lelet banget si ...." Ucap Octa ketus tanpa melihat ke arah gadis itu.


"Hiks ... hiks ..., iya Abang ...!" Suara Ica sekarang sudah di barengi dengan tangisan pelannya.

__ADS_1


Hihihihi ..., maaf ya Sayang sengaja bikin Kamu nangis! Ucap Octa dalam hati di barengi dengan langkah kakinya cepat, menuju Ruslan dan Tari.


__ADS_2