
"Huuuuuh ...!" Gadis itu membuang nafas kuat, kakinya berjalan gontai ke belakang menuju sepasang suami istri.
"Gimana-gimana kata Nak Octa? Beda kereta atau giamana?" Tari langsung menghujani Ica dengan pertanyaannya.
"Abang ..., itu Umi---" Ica menggantungkan ucapannya sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.
"Octa kenapa?" Tanya Ruslan dengan tatapan dingin dan suara datar.
"Ada apa dengan Nak Octa, Sayang?" Sekarang Tari juga ikut-ikutan mengajukan pertanyaan yang sama, sedangkan Gadis itu semakin ragu dengan jawabannya.
"Maafin Abang Octa Umi, Abi ...! Hiks ... hiks ... hiks," Ica menjawab dengan tangisan di belakang kalimatnya. Ia terus menggigit ujung bibirnya, hatinya sangat was-was sekarang ini.
"Maaf? Ngomong yang jelas Ica, biar Umi sama Abi faham!" Ruslan bersuara dengan nada sedikit meninggi.
"A-abang, gak jadi ke sini Umi, Abi ...! Maaf ...," Ica menunduk lesu. Ia merasa bersalah dan takut jikalau nanti Ruslan dan Tari menjadi tidak suka dengan Octa.
"Tadi Abang telpon, terus bilang kalo dia pulang. Abang ada urusan mendadak yang gak bisa di tinggal, Umi sama Abi jangan marah ya sama Abang! Hiks ... hiks ... hiks ...," Ica menjelaskan dengan tersedu-sedu menangis.
"Ahahahha ...! Oalah, pantes ngajak makan! Jadi maksudnya mau seliwurin Umi sama Abi to?" Tawa Ruslan dan Tari seketika pecah, setelah mendengar penjelasan gadis polos itu.
__ADS_1
Ica hanya mengangguk pelan, tangan mungilnya masih asik menutupi wajah malunya. Tari yang melihat tingkah imut Ica langsung memeluk gadis itu dengan lembut.
"Umi sama Abi enggak marah kok, malah Umi sama Abi kasian sama Ica. Ya udah yang sabar ya sayang, lain waktu pasti ketemu ok?" Gadis itu masih sesegukan pelan di dalam pelukan Tari.
Sedangkan di balik tiang besar yang tak jauh dari rombongan Ica, terlihat seseorang sedang asik tertawa memperhatikan tingkah gadis itu dari tadi.
"Subhanaullah cantik sekali ...!" Ucap pemuda itu saat pertama kali melihat Ica.
"Tingkahnya sama, menggemaskan ... dan selalu cengeng hihihi ...," pemuda itu terus memerhatikan gerak-gerik Ica. Kadang ia tersenyum kadang wajahnya juga menunjukkan ekspresi tidak tega.
Saat pemuda itu melihat Ica mulai berjalan meninggalkan tempat itu dan mendekat ke arahnya, dengan cepat ia mempersiapkan dirinya untuk memberikan kejutan kecil untuk gadis impiannya itu.
"Satu ..., dua ..., tiga ...! Bismillahirrahmanirrahim." Pemuda itu mulai menghitung dan saat di ujung kalimatnya, ia membawa tubuhnya keluar dari persembunyian.
"Enggak usah Abi, Ica masih ke---" tiba-tiba suara ica tertahan. Matanya membulat sempurna, begitu juga dengan langkah kakinya seketika terhenti.
"Assalamualaikum ...?" Ucap pemuda itu, sambil tersenyum manis ke arah tiga manusia yang sedang tercengang.
"Amhh ..., hiks ... hiks ... hiks!" Tubuh Ica melemas, tangan mungilnya langsung membungkam kuat mulutnya mencoba menahan teriakannya.
__ADS_1
"Gak ..., Ica hentikan hayalanmu ...!" Ica menggeleng kuat seraya melangkah mundur, tubuhnya berdesir, jantungnya berdegup kencang, ia menganggap ini hanya hayalannya.
"Ica ..., ini Abang ...!" Pemuda itu kembali berucap seraya mendekati Ruslan dan Tari, ia mencium punggung tangan kedua orangtua Ica.
"Abang ...? Hiks ... hiks ... hiks ...!" Ica masih menatap tak percaya dengan deraian air mata.
"Kamu Hebat Nak ..., temui lah Ica." Ucap Ruslan seraya menyunggingkan senyuman begitu juga dengan Tari.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Ruslan dan Tari, barulah Octa berani mendekati gadis yang sedari tadi memandangnya syok.
"Iya Sayang, ini Abang ...! Abang Dinosaurusmu." Octa berucap seraya menangkup pipi lembut Ica, sambil menatap dalam mata berair gadis itu.
"Aaaaaaa ...!" Ica hanya berteriak kecil, tubuhnya berjongkok lemas di lantai stasiun itu. Sebegitu bahagia dirinya saat ini, kejailan Octa berhasil membuatnya menggila.
Melihat Ica berjongkok, Octa juga ikut berjongkok. Tatapan mereka bertemu, tak ada suara di antara mereka. Sedangkan Ruslan dan Tari sedari tadi sudah menjauh dari dua insan itu.
"A-abang ...! Hiks ... hiks ... hiks," tanpa pikir panjang. Ica langsung membenamkan wajahnya di tengkuk Octa sambil menangis, Octa juga ikut memeluk erat tubuh gadis itu sambil mengelus pelan pucuk kepala Ica.
Dua insan itu tidak memperdulikan orang lain di sekitar mereka yang memerhatikan moment mengharukan itu, banyak yang kagum, banyak juga yang bingung.
__ADS_1