
"Tapi Kak ... hiksss ..., nanti Ica jadi anak durhaka Kalo gak nurut." Ica memcoba mengungkapkan ketakutannya selama ini.
"Enggak sayang! Kalo yang di suruh orang tuanya itu adalah hal yang gak baik terus kamu nolak ..., Kamu gak akan jadi anak durhaka kok." Tio mencoba meyakinkan Ica, dan di balas anggukan oleh Ica.
"Kakak kita duduk yuk ...! Ica udah lemes berdiri terus hiks ...," Ica meminta Tio untuk duduk karna kakinya terlalu lemas untuk masih tetap berdiri, mendengar permintaan Ica yang lugu itu membuat Tio terkekeh pelan sambil berbicara di dalam hati.
Dasar bocah bawel, bisa-bisanya bikin Gua tiba-tiba ketawa padahal abis emosi gini. Hilang wibawa gua!
Mendengar permintaan Ica, dengan cepat Tio melepas pelukannya agar Ica dapat dengan mudah mengubah posisinya untuk duduk di sofa yang berada tepat di belakang
Sekarang Ica dan Tio sudah duduk mencoba untuk mengurangi rasa lemas di lututnya, sedangkan Tio duduk di samping Ica memandangi tubuh mungil gadis Kesayangannya yang masih belum berhenti menagis.
(Ica prov)
"Apa kalo Ica mintak peluk, Kak Tio bakalan mau ya?"
"Entah kenapa hatiku gelisah sekali ...!"
"Ica pengen di peluk, pengen ngerasain di sayang."
"Apa Ica salah kalo minta peluk?"
Fikiranku melayang, hatiku tak tentu. Apa yang aku rasakan. Rasa takut, rasa cemas, rasa sedih semua campur aduk.
Aku masih menundukkan wajahku, air mataku belum bisa Aku hentikan. Aku hanya ingin seseorang memelukku erat dan mengatakan semua pasti baik-baik saja, agar hatiku sedikit merasakan tenang.
Aku hanya ingin seseorang mengatakan dia bersamaku, tapi kenapa bibirku sulit sekali mengeluarkan kata-kata itu.
Ku lihat Kak Tio masih duduk di sebelahku dengan nafas yang memburu dan tangan yang masih mengepal. Tapi Aku harus berani mengutarakan permintaanku ini, bagaimana jika ia menolaknya ...? Arghhh pusing! Pokoknya usaha dulu masalah hasil urusan akhir.
Setelah cukup lama sama-sama hanyut dalam fikiran masing-masing, akhirnya Ica membuka pembicaraan. Ica mengangkat wajahnya seraya mencoba untuk mengeluarkan kata-kata dari bibir merahnya terbata-bata, membuat Tio menjadikannya sebagai pusat pandangannya.
"Kak Tio ...? Emm itu ... hiks ... hikss!" Suara Ica masih di selingi dengan tangisan lembutnya.
__ADS_1
"Iya apa sayang ...?" Tio memanggil Ica dengan sebutan sayang, Ica yang mendengar itu malah menjadi semakin gugup.
"Anuu ..., Ica boleh gak minta sesuatu Kak?" Ica memegang ujung sofa dengan kuat, mencoba menghilangkan rasa groginya.
"Iya mau apa? selagi Kakak bisa pasti Kakak usahain." Jawab Tio masoh dengan tatapan hangat.
Mendengar Ica menginginkan sesuatu darinya, membuat Tio mencondongkan badannya lebih dekat pada Ica dengan antusias.
"Peluk Kak," Ica menunduk malu. Ia memejamkan mata indahnya menunggu jawaban dari Tio dengan rasa was-was. Ica merutuki dirinya sendiri, kenapa bibirnya sangat tak malu mengucapkan itu.
Tio seketika terperanjat mendengar penuturan Ica yang barusan ia dengar, sedikit tidak percaya. Akhirnya Tio mengulang perkataan Ica tadi mencoba meyakinkan diri nya sendiri.
"peluk?" Pertanyaan Tio hanya di balas anggukan pelan oleh Ica, tanpa berani menatap wajah Tio.
Tio merentangkan tangannya, sambil sedikit lebih mendekat kepada Ica tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Tio mencoba memberi jawaban bahwa ia bersedia memeluk gadis kecil Kesayangannya itu.
Sedangkan Ica yang melihat Tio mendekatinya hanya tersenyum simpul dan langsung menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan hangat Tio.
"Hiks ... hiks ... hiks ...," suara
"Nangis aja! Keluarin semuanya jangan ada yang di tahan." Tio berucap sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Ica.
"Kakak, apa salah Ica? Sampe mama kayak gini ke Ica! mama minta Ica foto pakek baju kurang bahan dan gak tau untuk apa. Apa Ica bukan anaknya kak?" Ica berkata di sela tangisnya.
Tio kembali mengernyitkan keningnya, mendengar ucapan Ica yang sedikit ambigu di fikirannya.
Foto pakek baju kurang bahan, maksudnya gimana ini? Apa lagi yang dia lakuin sama Ica? Fikiran Tio melayang, Tio bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Kadang Ica takut, Ica bingung, hiks ... hiks ... kalo mama minta Ica untuk temenin rekan bisnisnya." Tangisan Ica semakin kuat, selaras dengan tangannya yang juga memeluk tubuh six pack Tio.
"Maksudnya foto pakek baju kurang bahan kayak gimana Ca?! Terus temenin rekan bisnis?" Tio mencoba menayakan kalimat pengakuan Ica tadi.
"Iya Kakak, dulu mama pernah minta Ica buat pakek baju yang kurang bahan hiks ...! Yang pendek, terus banyak bolongnya gitu." Ica menjelaskan perlahan.
__ADS_1
"Terus Ica di foto, hiks ... hiks ... dan hasil foto itu kayaknya untuk di kirim ke temen-temennya mama." Ucap Ica pada Tio.
"Ica juga berapa kali di minta temenin rekan Bisnisnya Papa, kata Mama itu Papa minta tolong sama Ica." Cerita gadis itu terus berlanjut.
"Tapi sampe sekarang, papa gak pernah bahas masalah itu sama Ica"
Dengan terbata-bata Ica menjelaskan kejadian waktu itu.
Pasti dia mencoba mempromosikan anaknya sendiri untuk menambah kolega perusahaannya, dasar manusia biadab. Batin Tio dalam hati.
"Tapi Kamu gak di apa-apa in, kan Ca? Waktu nemenin orang-orang itu," mendengar pertanyaan Tio, Ica hanya menanggapinya dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Sepertinya Ica tak sanggup berkata-kata untuk beberapa saat.
"Waktu itu Ica pernah nemenin temennya mama, nah ... di situ dia mau coba kurang ajar sama Ica kak. Hikss ... hiksss, tapi gak berhasil karna Ica berhasil kabur." Ica berusaha terus bercerita.
"Astagfirullah ...!" Tio mengusap kasar wajahnya, matanya terlihat sangat penuh amarah setelah mendengar cerita Ica.
Yang ada di fikirannya saat ini bagaimana prasaan gadis kecil ini saat di posisi itu, sendirian tak ada kekuatan untuk melawan.
"Hiks ... hiks ...! Ica udah pernah cerita sama mama karna Ica takut dan berfikir kalo mama pasti bakal bantu Ica, tapi mama malah marah sama Ica kak."
Flashback on
(Mama dan Ica, kejadian satu tahun yang lalu)
"Mama, Ica mau ceritain sesuatu ...," Ica mencoba membuka pembicaran sesaat setelah makan malam di rumah mewah itu.
"Iya apa cerita aja? Tapi jangan lama-lama ya ... Mama mau bantu Papa ngurusin berkas penting buat besok." Mama Ica menanggapi Ica dengan ketus.
"Itu soal Om Pram, Ica kemaren kabur Ma! Waktu makan siang sama Om Pram." Ica menundukkan wajahnya, Ica tau Mamanya akan marah saat ia tahu Ica tidak menjalankan perintahnya dengan baik.
"Apa ...? Kamu ini ya, pantas saja dia membatalakan rencana proyek kami, ternyata ini ulah Kamu!" Mama Ica seketika berteriak.
"Memang tak tau trimakasih Kamu ini, bukannya membantu orang tua malah bikin susah." Mendengar penjelasan Ica, membuat Mama Ica seketika naik darah.
__ADS_1
"Tapi Ma, Ica kayak gitu karna Om Pram mau kurang ajar sama Ica! Papa aja gak pernah cium Ica." Ica juga ikut meninggikan suaranya.
Ica mengatakan langsung dengan memutar kata memberikan contoh papanya, karna Ica terlalu jijik untuk mengatakan langsung apa yang di laukan Om Pram padanya.