
kok Dia malah diem aja? Bukannya ngikut, haeeedehhh ... apa perlu Gue gendong ya ini bocah ...?
Bima berkata dalam hati sambil membayangkan dirinya sedang menggendong Ica, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis.
Melihat Bima yang senyam senyum sendiri sambil berjalan ke arahnya, membuat Ica merasa aneh dan agak sedikit ngeri.
"Ayok masuk ...! Ngapain malah diem di situ, apa perlu Kakak gendong?" Tanya Bima pada Ica.
Bima mencoba memegang tangan Ica, berniat untuk menggandengnya masuk ke dalam restorannya itu. Namun lagi - lagi Ica menepis dan sedikit menajuh untuk menjaga jarak,melihat tingkah Ica yang seperti itu Bima terkekeh pelan sungguh tingkah gadis ini membuatnya semakin gemas.
"Hihihi ... Ya udah kalo gak mau di gandeng, berarti Ica mau di gendong!"
Tiba-tiba tangan Bima sudah berada di tubuh Ica, seketika tubuh Ica serasa melayang karna Bima menggendongnya ala bridal style. Ica yang masih syok hanya terdiam membeku tanpa mengeluarkan sepatah kata, mata indah Ica seketika membulat sempurna.
Bima terkekeh kecil, melihat ekspresi kaget gadis mungil yang saat ini sedang berada sangat dekat dengannya. Tak ada sedikitpun jarak di antara dua insan itu, sangking dekatnya Bima bisa mencium aroma wangi yang segar dari tubuh Ica.
Yak ampun ... ini Anak pakek apa? kok wanginya bikin Gua jadi gak pengen lepasin Dia , sial ...! Bima malah berceloteh ria di dalam hati.
Perlahan tapi pasti, kaki Bima melangkah masuk menuju restorannya itu. Semua mata tertuju pada Bima dan gadis yang sedang berada dalam pelukannya itu. Seisi restoran menjadi riuh karna ulah dua insan sok romantis itu, pelayanan yang ada di restoran Bima seketika bertanya-tanya siapa gadis yang berseragam sekolah yang sedang di gendong Bosnya.
"Kenapa bisa? Apa pangkatnya sampai-sampai Bosnya yang dingin itu melakukan hal yang selama ini tidak mungkin?" Para pengunjung juga banyak yang bebisik sambil menatap iri gadis mungil itu.
__ADS_1
Suara bising di dalam restoran itu membuat kesadaran Ica kembali, Ica sangat terkejut saat melihat tubuhnya berada di pelukan Bima. Ica mencoba memukul dada bidang Bima, berusaha sekuat tenaga agar Bima menurunkannya namun sayang. Bukannya di lepaskan, Bima malah semakin kencang merapatkan pelukannya di tubuh Ica.
Jelas saja, pukulan kecil dari Ica tidak lah berarti apa-apa untuk Bima. Seorang pria muda yang ahli bela diri, tidak mungkin akan merasa sakit hanya karna pukulan kecil dari gadis yang sangat menggemaskan.
Kenapa suara itu belum keluar juga? Seharusnya dalam keadaan seperti ini, Dia sudah teriak-teriak. Batin Bima, sambil terus berjalan.
Dia memang sangat beda dari gadis lain. Semakin kamu mencoba untuk menjauh dari ku, malah itu semakin membuatku tidak akan melepasmu! Aku tidak akan melepasmu Ca apapun keadaannya, kamu sudah berhasil membuatku tak bisa tanpa mu.
Bima berbicara dalam hati sambil memandingi wajah cemberut Ica, karna merasa lelah akhirnya Ica hanya pasrah dalam pelukan Bima.
Bima berjalan melewati pelayannya, sambil memberikan kode kepada salah satu pelayan yang ada di situ. Dengan cepat pelayan itu berlari mendahului Bima menuju salah satu ruangan yang ada di restoran itu, untuk mempersiapkan ruangan itu.
"Siapkan makan siang untuk Gadisku, dan jangan buat kesalahan apapun. Kamu tau kan akibatnya." Uca Bima penuh penekanan.
" Baik tuan ..., saya permisi." Jawab Pelayan itu lalu berlalu.
Di mata orang sekitar, Bima memang memiliki sifat yang dingin. Cuek dengan orang lain, pintar, namun sangat kejam. Dia tidak pernah memandang bulu, siapapun itu yang sanggup mengganggunya bisa di pastikan akan tersingkir.
Bima juga tidak pernah menginggkari semua ucapan yang pernah keluar dari mulutnya, maka dari itu semua orang yang mengenalnya pasti akan merasa segan apa lagi para anak buahnya. Jagankan untuk mengobrol, menatap Bima saja mereka tidak sanggup.
Bima sangat berbeda jika di mata para gadis, mereka sangat tergila-gila akan ketampanan Bima. Tubuh atletis, dengan tinggi badan lebih dari 170an. Di tambah kulit hitam manis dengan lesung pipi dan hidung yang mancung, sungguh membuat siapapun yang di dekatinya pasti akan terpikat.
__ADS_1
Selain itu Bima adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses, dengan bisnis di mana-mana. Bahkan sekarang bisnis yang di jalankan olehnya, sudah jauh lebih besar di bandingkan bisnis Orang Tuanya. Namun semua itu tidak sedikitpun membuat hati Ica tergerak, yang Ica tau hanyalah dia tidak ingin di jodohkan dengan Om-om yang tidak jelas seperti Bima ini.
Bima masih berdiri sambil bercakak pinggang, sedangkan Ica masih sibuk membenarkan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan karna melakukan perlawanan saat dia sedang di gendong Bima.
Setelah cukup lama Bima berdiri, Ia mencoba memutarkan badannya untuk memeriksa keadaan gadis kecil yang di bawanya tadi. Bima mencoba untuk duduk di samping Ica, namun Ica langsung menggeserkan tubuhnya.
Melihat Ica yang mencoba menjauhinya, Bima malah terpikirkan satu ide untuk menjaili gadia Kesayangannya itu. Bima terus menggeserkan tubuhnya mencoba mendekati Ica, sedangkan Ica terus mencoba menghindari Bima.
Namun langkah Ica terhenti setelah tubuhnya sudah tidak bisa lagi bergerak, karna terhantuk di dinding. Melihat keadaan Ica yang sudah tidak bisa bergerak, dengan cepat Bima memegang tangan Ica kuat.
Perlahan tapi pasti, Bima mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah putih mulus Ica. Dengan kaki yang menindih kaki Ica, agar gadis itu tidak bisa bergerak. Benar saja Ica tidak hanya diam di perlakukan seperti ini, sedari tadi Ica menggeliat mencoba untuk melepaskan diri. Namun Bima terlalu kuat untuk di lawan oleh gadis kecil seperti Ica.
Aaaaaaa ... apa-apaan si ini Om-om, kenapa mesum banget gini ...? Astagfirullah ...! Gimana ini ...? Mana kuat banget lagi, ya Allah tolong selamatkan Hambamu ini ya allah.
Ica mencoba meminta pertolongan dari Allah, ia begitu takut dan kesal. Sedangkan Bima terlihat jelas bahwa dia sedang bahagia, senyumnya merekah melihat gadis di depannya itu bertingkah gusar.
Perlahan tapi pasti, Bima mulai mendekat kan wajahnya ke arah pipi mulus Ica, sebenarnya Bima hanya ingin mengerjai gadis tengil Kesayangannya ini. Bima bahkan tidak punya maksud apa-apa, dia hanya sekedar ingin mendengar suara dari Ica.
Sedangkan Ica sudah berfikiran jika Bima selain arogan, ketus, sombong, ternyata dia juga mesum. Ica yang merasa terancam akibat ulah jail Bima, hanya bisa pasrah dan berdo'a.
Ica sudah kewalahan untuk melakukan perlawanan, Bima terlalu kuat untuk di lawan. Ica memejamkan matanya rapat-rapat, saat sedikit lagi bibir merah Bima menempel di pipi mulus nan gembilnya itu. Tiba-tiba ...,
__ADS_1