Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 22) Bima


__ADS_3

"Nyatanya tak semua yang hitam itu kotor, dan yang putih itu tidak selalu suci."


__________________________________________________________________________________________


"Mbok Inah, di mana Kak Tio Mbok? Ica mau ketemu!" Ica terlihat sangat bersemangat.


Ica memegang lengan Mbok Inah kuat, matanya berbinar memancarkan mebahagian. Namun Mbok Inah masih diam, malah sekarang menunduk. Melihat tingkah Mbok Inah yang sedikit mencurigakan, membuat Ica sedikit bersikap santai sambil menanyakan kembali keberadaan Tio.


"Mbok ..., Kak Tio di mana? Kak Tio ada di rumah, kan? Apa Kak Tio lagi keluar yah ...?" Ucap Ica sambil menatap wanita tua itu.


Mbok Inah menggenggam telapak tangam Ica lembut sambil menatap Ica tidak enak, Mbok Inah tau Ica pasti akan syok.


"Tuan Tio sudah pergi ke Belanda tadi pagi Non." Jawab Mbok Inah singkat.


Seketika setelah telinganya mendengar kalimat itu, tubuh Ica serasa tersambar petir. Kakinya melemas seperti tak bertulang, nafasnya tak beraturan Ica merasa sangat kecewa.


Tubuh Ica memang sudah lemas sedari tadi, di tambah kabar bahwa Tio sudah pergi jauh meninggalkannya, membuat Ica kembali kehilangan keseimbangan.


"Astagfirullah Non ..., ayok Non kita masuk ke dalam aja!" Mbok Inah sedikit kesulitan membopong tubuh Ica.


Mbok Inah sangat khawatir dengan keadaan Ica yang tiba-tiba seperti akan pingsan, dengan cepat Mbok Inah membopong tubuh mungil Ica menuju ke ruang tamu dan mendudukkan tubuh Ica di sofa empuk berukuran besar itu.


"Sebentar ya ... Non, Mbok ambil air dulu." Ucap Mbok Inah sambil berlalu.


Tubuh Ica tergeletak lemas gemetaran, mungkin karna usahanya untuk menahan segala kesedihan saat ini menimbulkan efek seperti itu.


Hatinya begitu pilu ternyata firasatnya benar Jika ia akan berpisah lama dengan Tio, rasanya Ica ingin teriak sekeras-kerasnya meluapkan kesedihannya itu.


"Non ini di minum dulu ...!" Mbok Inah telah kembali dengan segelas air putih.


Sedangkan Ica sama sekali tidak mengindahkan perkataan Mbok Inah, tatapannya kosong lurus kedepan.

__ADS_1


"Non ... di minum dulu! Biar agak tenang hatinya." Mbok Inah menyodorkan gelas itu tepat di tangan Ica sambil mengusap pelan pundak Ica.


Seketika Ica kembali sadar dari lamunannya, Ica meneguk pelan air putih itu sambil wajahnya menampakkan ekspresi sedih yang teramat.


"Mbok ...? Kenapa Kak Tio gak pamitan dulu sama Ica?" Setelah cukup lama terdiam akhirnya Ica mengeluarkan suara gemetar yang sudah jelas sedang menahan tangisnya.


"Mbok juga gak tau Non, Mbok juga taunya waktu Tuan Tio sudah mau brangkat." Mbok Inah mencoba menjelaskan.


Ternyata Mbok Inah juga tidak mengetahui akan rencana ke pulangan Tio ke Belanda secepat itu, karna setau Mbok Inah Tio akan kembali ke Belanda mungkin sekitar satu tahun lagi.


"Mbok punya nomer handphonenya Kak Tio? Ica minta Mbok!" Ica sedikit memohon, lengan Mbok Inah di pegang Ica kuat.


Namun sayangnya Mbok Inah juga tidak tahu nomer Tio, Tuannya itu begitu tertutup jika menyangkut masalah pribadinya. Walaupun sebenarnya Tio adalah orang yang sangat ramah saat bersama Mbok Inah.


" Non ..., jangan terlalu di fikirkan. Tuan Tio pasti punya alasan kenapa tidak berpamitan dengan Non! Tuan Tio pasti kembali untuk Non, jadi Non Ica jangan sedih ya Non." Mbok Inah mencoba menghibur Ica sambil terus mengelus pundak Ica pelan.


Sekarang Ica kembali terdiam, fikirannya berkecamuk. Entah apa salahnya sampai-sampai Tio tidak memberitahunya jika ia akan pergi jauh, Ica masih merasa tak habis fikir.


Sebelum pulang Ica sudah menitipkan salam kepada Mbok Inah, jika Tio kembali atau sekedar menelpon tolong beritahu Ica ceoat.


Mbok Inah mengatakan dengan senang hati dia akan menyampaikan pesan Ica pada Tio.


Matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat, tapi gadis bertubuh mungil itu masih betah menyusuri jalan dengan sejuta fikirannya. Sepanjang jalan air matanya terus mengalir, bibirnya terus mengelu-elukan satu nama.


"Kakak jahat!"


"Kakak janji sama Ica bakal jagain Ica, kenapa malah pergi Ka?"


"Ica baru aja ngrasa ada yang sayang sama Ica tapi Kakak malah tinggalin Ica."


"Kakak bohong!"

__ADS_1


"Kakak gak sayang Ica!" Ucap Ica meracau sepanjang jalan sambil berlinangan air mata.


"Max ..., apa tidak sebaiknya Kita bantu saja Nona Ica? Saya khawatir terjadi sesuatu padanya jika ia terus berjalan. Sepertinya Nona Ica juga terlihat sangat pucat." Salah satu pria itu berkata.


"Tuan Tio mengatakan! Kita jangan gegabah, kan jadi sabar dulu. Apa kalian fikir saya tidak kasian pada Nona Ica ha?" Max sudah sangat kesal dengan temannya itu.


Di dalam sebuah mobil yang sedang terparkir, di pinggir jalan itu. Sekarang ini malah sedang terjadi peedebatan kecil, karna masalah menolong gadis yang tengah beesedih itu. Namun semua kembali tenang, setelah mereka menuruti printah sang ketua.


Jam sudah menunjukkan pukul 17:30 namun Ica masih belum juga sampai di rumah, Dian merasa resah kenapa anak gadis semata wayangnya itu belum juga pulang.


Padahal Dian sengaja pulang lebih awal, karna ingin mengajak Ica dan Nia makan di luar untuk merayakan kemenangannya atas perebutan Tender proyek di perusahaannya hari ini.


Sedari tadi Nia dan Dian menunggu kepulangan Ica namun sampai sekarang hasilnya nihil. Karna merasa resah akhirnya Nia menanyakan Ica kepada Bima, tapi ternyata Bima juga belum bertemu dengan Ica sejak ia selesai mengantar Ica berangkat sekolah tadi pagi.


Bima yang mengetahui Ica belum pulang ke rumah sedari tadi, langsung bergegas meninggalkan perkerjaannya yang masih menumpuk. Bima tidak memperdulikan itu, karna yang lebih penting baginya adalah keselamatan Ica.


"Tuan Bima, ini harus di tanda tangani sekarang juga Tuan!" Ucap wanita di samping Bima.


Sekretaris Bima mengingatkan Bima akan perkerjaannya yang harus di selesaikan segera, namun Bima tidak memperdulikan itu.


"Urus semuanya, bila perlu batalkan saja masalah ganti rugi pembatalan kerja sama silahkan kamu urus! Saya ada urusan yang jauh lebih penting." Bima mengambil jasnya sambil memerintahkan wanita itu.


Bima berlari menuju mobilnya dan dengan cepat menancap gas menyusuri kota, mencari-cari keberadaan Ica. Bima teringat ucapan Ica tadi pagi jika ia akan mendatangi suatu tempat, Bima mencoba berfikir keras menebak-nebak di mana tempat itu.


Bima melajukan Mobilnya menuju rumah Tio, namun hasilnya juga nihil. Bima terus menyusuri jalanan kira-kira sudah 15 menit, dari kejauhan ia melihat sesosok gadis bertumbuh mungil. Gadis dengan rambut panjang terikat, memakai seragam sekolah serba panjang membuat Bima langsung menghampiri gadis itu.


"Itu kayak Ica! Ngapain Dia jalan kaki?" Ucap Bima heran sambil terus menancap gas.


Bima menghentikan mobilnya tepat di samping Ica, buru-buru Bima keluar dan menghampiri gadis mungil itu.


"Syukurlah Kakak bisa menemukanmu dengan cepat! Kakak khawatir banget sama kamu Ca." Tutur Bima sambil menatap gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2