Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 4)


__ADS_3

siapa pria muda ini? Ini pasti kamarnya. Tapi kenapa dia bisa mempunyai kamar di rumah ini? Fikiran ica campur aduk, sampai-sampai Ica lupa akan rasa takutnya tadi.


"Aku harus tanya sama Mang Amin, mungkin saja Mang Amin tahu siapa yang dari menginap di kamar ini." Gadis itu membuat rencana.


Cukup lama Ica berperang dengan pertanyaannya sendiri, karna merasa tidak mendapatkan jawaban apapun akhirnya ia meletakkan kembali foto itu di tempat semula. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi, untuk melakukan ritual mandinya.


Langit mulai nampak gelap, setelah melaksanakan sholat magrib Ica keluar dari kamar itu dengan keadaan yang jauh lebih segar. Ica langsung menuju ke dapur, karna Ica mendengar suara seseorang seperti sedang memasak.


"Dorrrr ...!" Ica mengagetkan Bik Ani yang tengah asik memasak.


"Eeee ayam ..., eee ayam. Astagfirullah Non ...! Untung gak copot ini jantung Bi Ani." Sambil mengusap pelan dadanya Bik Ani berkata.


Ica mengagetkan Bi Ani dari belakang, sambil penepuk pelan pundaknya. Seketika Bik Ani berteriak kaget sambil mengangkat tutup panci di tangannya.


Sedangkan Ica yang merasa usahanya untuk menjaili Bik Ani berhasil, Ica tertawa bangga sampai-sampai perutnya menjadi keram karena terlalu lama tertawa.


Setelah puas melihat Gadis mungil itu tertawa akhirnya Bi Ani angkat bicara,sambil tangannya terus membolak-balikkan masakan yang ada di atas kompor.


"Bi Ani kangen banget ada Non Ica di rumah ini. Ehh ..., sekarang Non Ica pulang gak ngasih kabar Bibi sama Mamang. Seneng banget Non, kayak dapet surpres." Ucap Bik Ani dengan wajah gembira.


"Ahahahah ..., maaf ya Bi Ica tadi kagetin Bibi. Eh itu Bibi lagi masak apa?" Gadis itu mendekat mencoba menelisik sesuatu yang berada di dalam panci.


"Bibi lagi masakin Cumi-cumi kesuksukaannya Non Ica! Mungkin Tuan dan Nyonya sebentar lagi pulang Non," jelas Bik Ani pada Ica.


"Hummm, ini baunya enak banget. Ica mau panggil Om Yuda mau ngajakin makan malem. Ica tinggal dulu ya Bi." Gadis itu berlalu pergi.


Bik Ani hanya menatap punggung gadis mungil itu yang sudah mulai menjauh. Bi Ani tau betul mengapa gadis itu langsung beranjak pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


Yang sabar ya Non, Bibi faham kenapa Non bersikap kayak gitu. Semoga Allah selalu melindungi dan menguatkan hati Non Ica. Amin ya allah...!


Dalam hati Bik Ani ber do'a untuk Nona mudanya itu, sambil tangannya tak berhenti membolak-balikkan masakan.


Di tempat lain, terlihat seorang gadis sedang berjalan menuju salah satu kamar yang ada di rumah mewah itu.


" Tok ... tok ... tok!" Tangan mungil Ica mengetuk pintu kamar.


"Om Yuda bangun! Ica laper ayok kita makan malem bareng!" Teriak Ica dari luar kamar.


Ica masih berdiri di depan pintu kamar menunggu penghuninya keluar. karna tidak melihat tanda-tanda jika penghuni kamar sudah bangun, Ica menempelkan telinganya di pintu kamar itu mencoba mendengarkan sesuatu.


Namun saat Ica sedang asik mendengarkan, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Tubuh Ica langsung tersungkur ke lantai, Melihat tubuh Ica akan jatuh dengan cepat Yuda melangkah mundur menjauhi Ica.


"Awhhhhh ... sakit banget!" Gadis itu mengaduh sakit.


Yuda malah mengejek Ica yang tengah tergeletak di lantai. Ia tertawa puas sambil berlalu begitu saja meninggalkan Ica yang masih berdiam diri di lantai.


"Oyyyy Neng ..., apa mau lanjutin tiduran di lantai? Ayok katanya mau makan ...!" Yuda kembali mengejek.


"Iss ...! Emang dasar gak berprikemanusiaan banget ya, bukannya di bantuin kek atau apa, ini malah di tinggal sambil ngejek lagi." Ica mendengus kesal menatap Yuda yang telah berlalu.


Ica berjalan pelan menuju ruang makan, ternyata Yuda sudah duduk santai di sana. Sedangkan Bi Ani sedang menyiapkan makanan di atas meja, Ica mendekat dan memposisikan tubuhnya untuk duduk di salah satu kursi di ruang makan itu.


Tangan Ica masih asik menegelus keningnya, karna tingkahnya itu Yuda malah tertawa lagi. Dengan cepat mata Ica melotot menanggapi sikap menyebalkan Yuda, melihat tingkah aneh dari dua manusia di depannya, Bi Ani penasaran dan langsung bertanya.


"Non Ica gak apa-apa to....?" Tanya Bik Ani penasaran.

__ADS_1


"emmm ... iya Bi, Ica gak apa-apa. Makanannya udah di siapin semua belum Bi?" Tanya Ica sambil meneliti makanan di hadapannya.


"Kalo udah semua, ayok Kita makan bareng-bareng." Ajak Ica seraya menuangkan air minum ke dalam gelas.


"Emm ... makasih Non, tapi Mamang sama Bi Ani makan di belakang saja tidak usah ikut makan di sini." Tolak Bik Ani pelan.


"Gak apa-apa, Ica suka makan rame-rame. Udah cari Mang Amin ajak makan sini ya Bi ...!" Ica menatap penuh harap ke arah Bik Ani.


"Bener kata Ica, lebih enak kita makan bersama. Gak perlu sungkan!" Yuda menanggapi perdebatan dua orang di depannya itu.


Mendengar ajakan majikannya yang sedikit memaksa, membuat Bi Ani segera mencari Mang Amin untuk makan bersama. Sebenarnya Bi Ani merasa tidak enak jika harus makan satu meja dengan majikannya, namun karna kebaikan hati Nona mudanya itu Bi Ani membuang jauh-jauh rasa sungkannya.


Tak lama setelah itu acara makan malam bersama pun di mulai, suasana terasa sangat hangat karna sifat Ica yang ramah. Tak jarang Ica melemparkan candaan kepada orang-orang yang sedang makan bersamanya, membuat mereka tertawa karna tingkah lucu gadis itu.


Yuda tersenyum manis, melihat tingakah ramah gadis di samping nya ini. Dalam hati, Yuda merasa bangga dengan sifat lembut Ica. Yuda sangat tidak menyangka di balik caranya berpakaian yang tomboy, ternyata dia adalah gadis yang cantik, pintar dan sangat baik hati.


Di tengah-tengah makan malam yang sedang berlangsung, di benak Ica terfikirkan tentang kamar siapa yang Ia tempati sekarang ini. Ica berencana menanyakan hal itu pada Mang Amin dan Bi Ani, pasti mereka tau karna selama ini mereka yang mengurus rumah keluarga Ica.


Baru saja Ica membuka mulutnya untuk menanyakan hal itu, tiba-tiba ada suara lain yang lebih dulu terdengar dan seketika membuat Ica menengok ke arah sumber suara. Kedua mata indah Ica terpaku pada sepasang sosok suami istri yang sedang berdiri.


"Sayang ...? Kamu pulang?! Mama kangen banget...!" Suara histeris seorang wanita.


Tiba-tiba wanita tadi langsung berhamburan memeluk Ica, namun Ica hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Yuda langsung berdiri dan menyambut kedatangan Orang Tua Ica, begitu juga Bi Ani dan Mang Amin.


Merasa tidak nyaman di peluk oleh Mamanya, Ica langsung berdiri melepaskan pelukan itu dan berpamitan menuju kamar.


"Ica masuk ke kamar duluan yaa ...! Silahkan di lanjutkan makan malamnya." Suara Ica terdengar mulai bergetar menahan tangis.

__ADS_1


__ADS_2