
"Ohh iya, minggu depan Ica pergi keluar kota. Mau pulang dulu, karna sudah lama tidak kembali ke rumah dan juga mau meyelesaikan urusan Ica di sana." Balas Ica.
"Yahhh ..., di tinggal nih Abang di sini. Makin jauh deh kita, jadi bahagia. Hihihi...," Octa tertawa pelan di sebrang sana.
"Emmm ..., kalo boleh tau urusan apa nih?" pesan singkat Octa kembali masuk, belum sempat Ica membalas yang sebelumnya.
"Bukan urusan apa-apa kok, bulan depan Ica sudah ke sini lagi kok tenang. Ica kan mau kerja bantuin Abi di sini." Balas Ica sambil menyunggingkan senyuman.
"Iya deh, Abang tunggu sampek Ica mau cerita. hati-hati di jalan jangan pecicilan, ingat!" Octa merasa sedikit mengkhawatirkan keadaan Ica.
"Enak aja, di kira anak kucing. Pecicilan!" Ica menggerutu kesal di sini karna membaca pesan dari Octa.
Ica meletakkan handphonenya di samping tubuh ringkihnya. Tiba-tiba senyuman kecil tersungging di bibir merahnya, suasana hatinya menjadi lebih baik setelah berbincang dengan Octa.
Pemuda itu tau betul bagaimana keadaan susasana hatinya, Octa juga sangat lihai membuat Ica lupa akan kesedihan, sifat itulah yang membuat ica nyaman berada di dekatnya.
Ica menatap pantulan dirinya di air kolam, matanya kembali berair dan cairan bening itu jatuh sempurna kedalam kolam. Dan seketika membuat pantulan tubuhnya buyar, karna setetes airmata.
"Semakin Ica kenal Abang, semakin besar pula rasa ini. Rasa takut Ica akan kehilangan Abang juga semakin besar ...," ucap gadis itu di sela tangisannya.
"Apa Abang bakal tetap bertahan? Hiks ..., hiks ..., hiks ..., maaf." Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.
Ica kembali menatap nanar tubuhnya, fikirannya berkecamuk serbasalah. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam.
Masalalu itu selalu menghantuinya, membuat ia ragu untuk melakukan sesuatu. Sedangkan dari kejauhan seorang wanita terlihat memperhatikan gerak gerik Ica yang terlihat gusar, lalu ia mencoba menghampiri Ica.
"Ica ...? Dari tadi Umi perhatiin Kamu tidak pergi dari sini," ucapnya pelan sambil mengelus pundak Ica.
Ternyata Umi yang sedari tadi memperhatikan Ica dari belakang, menyadari kehadiran orang lain dengan cepat Ica menyeka sisa air matanya dan mencoba untuk kembali seperti biasa.
"Ehhh ..., Umi? Ica suka saja duduk di pinggir kolam ini, bisa bertukar cerita dengan ikannya," sambil terkekeh pelan berusaha terlihat bahagia.
"Kamu ini ada-ada saja, awas Ikan Umi pada mati nanti dengerin omelan Kamu karna cemberut terus." Jawab Umi, sedikit mengejek.
"Mana ada gitu ..., Ica kan mempesona. Umi apa udah dari tadi di sini?" Tanya Ica.
"Enggak, Umi tadi cariin Kamu. Kebetulan lewat sini ehh ..., liat Kamu duduk di sini yaudah Umi samperin." Jelas Umi pada Ica.
__ADS_1
"Umi cari Ica karna apa? Kangen yaaa ...?" Gadis itu terlihat sangat narsis di depan Uminya.
"Ica ..., Ica!" Umi menggeleng pelan.
"Umi cari Kamu cuma mau bilang, Minggu Depan yang anterin Ica pulang itu Om Yuda, gak apa-apa kan?" Tanya Umi.
"Soalnya Abi mau ada pertemuan rekan kerja dari Luar Negeri di kantornya, jadi gak bisa anterin Kamu pulang," lanjut Umi.
"Iya Umi tidak apa-apa kok, yang penting ada yang nganterin Ica pulang." Ica berucap sambil tersenyum.
"Makasih ya Umi, Ica di sini udah di urusin. Di sayang banget lagi sama Umi dan Abi, padahal Ica suka bandel hehhehe ...." lanjut Ica.
"Iya Ica, Umi malah seneng kamu main ke sini. Kamu itu keponakan Umi, udah Umi dan Abi anggap anak sendiri." Ucap Umi sambil merangkul pundak Ica.
"Makasih ya Umi ...," jawab Ica seraya membalas pelukan Uminya itu.
"Krakk ..., krukk ...," suara aneh terdengar dari perut Ica.
"Ica kamu lapar ya? Ahahahah ..., ya udah ayok masuk kita sarapan!" Wanita dewasa itu tertawa geli sambil menggandeng Ica masuk kedalam rumah.
"Hehehehe ..., iya Umi perutnya Ica yang bunyi," gadis itu mengelus perutnya pelan.
Setelah sarapan selesai, Ica bergegas menuju kamarnya. Ica membuka lemari bajunya dan memilih baju apa yang akan ia kenakan. Setelah cukup lama, pilihannya jatuh pada dress pendek di bawah lutut berwarna hitam.
Sangat cocok dengan kulit putih mulusnya, dengan cepat Ica keluar menuju ruang tamu. Benar saja, Ica sudah di tunggu Umi di sana. Merasa sama-sama sudah siap, akhirnya merekapun memulai perjalanan.
(3 jam kemudian)
"Uhhhhh ..., ternyata Aku ketiduran, jam berapa ini ...?" Tanya Ica sambil melirik jam dinding.
Tubuh Ica melenguh memposisikan tubuhnya agar nyaman, dengan mata yang belum benar-benar terbuka. Tangannya meraba-raba di sekitar tempat tidur, mencari sesuatu.
Cukup lama tangannya mondar-mandir mencari-cari, tapi tetap tidak ada. Ica turun dari tempat tidur nya dan mengedarkan pandangan, mencoba menemukan benda yang biasa di sebut dengan sebutan handphone itu.
Namun hasilnya nihil. Ica mengangkat bantal, membuka lemari, sampai kamarnya menjadi berantakan karna mencari handphonenya yang hilang.
"Di mana sih, kok gak ada?" Tanya Ica pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tadi waktu ke Super Market belanja, Aku gak bawa handphone." Ucap Ica gusar.
Ica duduk di lantai sambil bersender di tempat tidurnya, mencoba mengingat-ngingat apa saja kegiatannya dari pagi tadi.
"Tadi pagi Aku ke taman belakang, kan?" Tanyanya sendiri, sambil matanya sedikit menyipit mengingat sesuatu.
Dengan cepat Ica berlari keluar dari kamarnya, menuju kolam di taman belakang tempat ia tadi pagi duduk. Dari kejauhan Ica sudah melihat handphonenya tergeletak di pinggir kolam terkena panas sinar matahari.
"Ya ampun ..., Aku lupa bawa masuk Handphonenya tadi pagi. Untung aja gak nyempulung ke dalam kolam." Ucap Ica sambil berlari.
"Awww ..., panas nya! Ini pasti karna seharian di jemur, untung gak meledak." Ica tertawa sambil memegang handphonenya.
Ica membuka handphonenya sambil masuk meninggalkan kolam, ternyata sudah jam 17:27. Ica melihat ada pesan dari Octa, dengan cepat tangannya membuka pesan itu.
"Woyy ..., Bawell!" Isi pesan Octa.
(12:35)
"Mana nih orangnya? Bobo ya ca ...?" pesan Octa yang kedua.
(15:47)
"Ica ...? Sebentar lagi Abang berangkat kerja nih, kamu baik-baik ya di sana gak usah bandel." Tulis Octa.
(17:13)
"Iya Abang, hati-hati kerjanya. Yang fokus, jangan mikirin Ica terus hahaha ...," tulis Ica dalam balasan pesannya.
"Dari mana aja?" Octa langsung membalas.
"Handphonenya Ica ketinggalan di pinggir kolam dari pagi tadi, ini baru ica ambil. Lupa ...!" Ketik Ica lalu mengirimkannya ke Octa.
"Astagfirullah, kena amnesia ...? Kirain kemana seharian gak ada kabar, biasanya nongol terus hihihi ...," Octa tertawa gemas membaca pesan dari Ica.
"Cieeee ..., yang kangen!" Tulis Ica.
"Hilih PD banget, ya udah mau siap-siap kerja. Babay assalamualaikum." Octa menuliskan salam.
__ADS_1
"Siap abang, waalaikum salam." Balas Ica.