Dinosaurus Kesayanganku

Dinosaurus Kesayanganku
(Bagian 21) Pingsan


__ADS_3

"Kota ini sungguh ramai, tapi mengapa aku merasa kesepian."


__________________________________________________________________________________________


Namun sebelum itu ia telah meminum obat karna Ica merasa tubuhnya sedikit tidak enak badan. Hari ini adalah hari senin, ada upacara bendera di sekolah jadi Ica sedikit bergegas.


Ica bertemu Mama dan Papanya di ruang makan seperti biasa, sedangkan sang Mama terlihat baik sekali kepada Ica. Beda sekali sikapnya di bandingkan dengan yang kemarin, itu semua karna ada Dian Papa dari Ica.


Ica yang sudah cukup trauma, tak ingin di marahi lagi oleh Mamanya. Akhirnya Ica lebih memilih untuk menuriti kemauan Mamanya untuk berangkat bersama Bima pagi ini.


"Selamat pagi putri cantik," Bima sudah menunggu kedatangan Ica di samping mobil mewahnya itu, dengan ramah Ia menyapa Ica.


"Waalaikum salam ...." Ica menjawab dengan nada datar.


Lebih lucunya lagi, Ica malah menjawab sapaan Bima dengan salam. Sebenarnya Ica sungguh sangat malas untuk membuka mulut, berbicara dengan Bima. Tapi karna tadi pagi sebelum Ia berangkat, Nia sudah meminta Ica untuk bersikap ramah dan tidak membantah kemauan Bima.


Jadi, dengan sedikit berat hati Ica melakukannya. Jelas kemarin Bima pasti sudah menceritakan sikap ketus Ica terhadap dirinya kepada Nia, memang Pria tukang adu**! batin Ica.


Ica masuk ke dalam mobil, Ia duduk di samping Bima yang tengah asik menyetir. Sukurlah pagi ini Bima tidak terlalu menyebalkan, Ia terlihat santai entah apa yang merasukinya.


"Ca ...?" Bima memanggil Ica yang tengah asik melihat keluar jendela mobil.


"Emm ...," Ica menjawab hanya dengan berdehem lembut, tanpa menengok ke arah Bima.


"Kamu sehat, kan? Kenapa kamu t


Keliatan pucat dan ada apa dengan sudut bibirmu itu?" Bima menanyakan keadaan Ica, Ia cukup khawatir karna tubuh Ica benar-benar terlihat lemas.


"Gak apa-apa ...," Ica menjawab singkat, fikirannya sedang tidak berada di sini. Ica memikirkan Tio, dan Ica berencana akan mampir ke rumahnya sore ini sehabis pulang sekolah.


"Ya udah, kalo butuh sesuatu gak usah sungkan ngomong aja ya ...!" Bima menjawab dengan lembut jawaban ketus Ica tadi, sungguh kelakuan Bima pagi ini membuat Ica sedikit terheran-heran.


Ada apa dengan Om-om satu ini? salah minum obat apa masih mimpi** ...?! Ica memutar matanya bosan dengan sikap Bima yang tiba-tiba berubah.


Mobil Bima berhenti tepat di depan gerbang sekolah Ica, dengan cepat Ica turun dari mobil. Gadis itu langsung berjalan meninggalkan Bima yang masih berdiri pasrah, melihat kepergian Ica tanpa berpamitan lagi dengannya.


Namun beberapa detik kemudian, tiba-tiba Ica membalikkan badannya dan berlari kecil kearah Bima yang masih manyun itu. Melihat Ica kembali ke arahnya, membuat Bima tersenyum lebar.

__ADS_1


Pasti Dia melupakan sesuatu untukku, makanya Dia kembali. Batin Bima girang.


"Nanti gak usah jemput Ica pulang, Ica mau pergi ke suatu tempat."


Ternyata Ica malah memintanya untuk tidak menjemputnya saat pulang sekolah, belum sempat Bima menjawab Ica sudah mengeluarkan satu kata yang membuat Bima tak bisa berkata-kata lagi.


"sendiri." Ucap Ica dingin.


Setelah selesai menyampaikan pesannya, Ica langsung pergi berlalu meninggalkan Bima.


"Baiklah, silahkan lakukan keinginanmu sesuka hatimu. Akan Ku tahan semua keinginan Ku demi mendapatkan hati mu." Jawab pelan Bima.


Setelah selesai mengantar pujaan hatinya, Bima pergi melajukan mobil sportnya menuju perusahaan utamanya yang ada di kota ini, hari ini ada pertemuan dengan client penting dari Jepang jadi Bima tak bisa menunda-nunda waktu lagi.


Sedangkan Tio yang masih dalam perjalanan tiba-tiba mendapatkan pesan dari para Bodyguard yang di utusnya untuk menjaga Ica.


"Ohhh jadi Si Brengsek itu mengantarnya ke sekolah pagi ini, ok baiklah selagi tidak membahayakan gadis ku itu tidak masalah."


Ucap Tio setelah melihat vidio yang di kirim Bodyguardnya beberapa menit yang lalu.


Tio menginstruksikan perintahnya kepada ketua Bodyguardnya yang bernama Max, dan instruksi dari Tio langsung di mengerti oleh Max.


- - - - - oOo - - - - -


Sekarang Ica tengah asik di dalam kelas, sudah berjam-jam Ia belajar sampai akhirnya bel pulang berbunyi. Ica dengan semangat keluar meninggalkan kelasnya itu.


"Hoyy ... Neng, tungguin napa?"


Dewi berlari mengejar Ica, dengan sedikit tergesa-gesa. Sedangkan Ica melihat dewi mengejarnya dengan cepat menghentikan langkah kakinya.


"Iyaa ... gimana-gimana?"


Ica bertanya pada Dewi dengan sedikit memicingkan matanya karna silau.


"Mau kemana buru-buru banget? Mau makan seblak ajak-ajak neng!"


Dewi sudah berada di samping Ica sambil tangannya menggandeng lengan Ica mesra.

__ADS_1


"Seblak-seblak ...! Giliran makan aja ngebut." Ica berucap sambil memutar bola matanya malas.


"Enggak kok, Ica ada urusan penting nih ... jadi buru-buru. Ica tinggal ya, ati-ati pulangnya ... babay zeyengku ...!" Lanjut Ica seraya meninggalkan Dewi dengan cepat.


"Kenapa gak pulang bareng Gua aja? Gua anter ke mana Dia mau pergi! Emang aneh tu anak akhir-akhir ini." Ucap Dewi heran.


Dewi masih tertegun melihat kepergian sahabatnya itu, karna merasa kepanasan akhirnya Dewi pun memutuskan untuk pulang karna supirnya sudah menunggu dari tadi.


Sedangkan Ica masih berjalan menyusuri trotoar sambil menengok kiri dan kanan kalau-kalau ada Taksi , Angkot , atau sejenisnya. Setelah lama menunggu akhirnya Ica mendapatkan taksi, dengan cepat Ica meminta pak supir menuju ke alamat rumah Tio.


Setelah cukup lama dalam perjalanan akhirnya Ica sampai di rumah Tio, setelah membayar taksi Ica masuk ke dalam area rumah tersebut.


"kenapa sepi banget ya? Motor Kak Tio juga gak ada, apa Kak Tio lagi pergi?" Kening gadis itu menunjukkan beberapa garis.


Ica berjalan sambil mengoceh ria menuju pintu utama rumah itu, tapi belum sempat Ia mengetuk pintu tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing sekali.


Sampai-sampai Ica harus berpegangan di tembok agar tubuhnya tidak terjatuh, karna kehilangan keseimbangan. Cukup lama Ica terdiam menahan sakit, Ia juga merasakan kepalanya berdenyut. sampai akhirnya rasa sakit itu sedikit berkurang, ia mencoba mengetuk pintu.


Sedangkan di luar pagar, beberapa orang memperhatikan Ica. sebenarnya mereka tadi sudah hampir berlari dan membatu Ica, tapi salah satu dari mereka mencoba mencegahnya.


"Max lihat Dia hampir pingsan ...!" Teriak seseorang.


Salah satu dari teman Max sedikit khawatir melihat Ica yang kehilangan keseimbangan.


"Tahan dulu! Kita lihat pergerakkan selanjutnya, Kita tidak boleh gegabah." Ucap Max tak kalah kuat.


"Tok ... tok ... tok ...!"


"Permisi ... assalamualaikum." Suara Ica terdengar lebih pelan.


Ica mencoba memanggil pemilik rumah itu, namun sudah 10 menit berlalu masih belum ada tanda-tanda penghuni rumah akan keluar.


Gadis itu sudah sedikit lelah menunggu, akhirnya Ia memutuskan untuk pergi. Namun saat Ica melangkah pergi, tiba-tiba dari belakang terdengar seseorang memanggilnya.


"Non Ica ...!" Suara Itu terdengar jelas.


Ternyata itu suara Mbok Inah, pengurus rumah Tio. Dengan cepat Ica menghampiri Mbok Inah dan langsung menanyakan keberadaan Tio dengan antusias.

__ADS_1


__ADS_2